Saksi Pengkhianatan

Hanafi terkekeh. Tertawa keenakan. ‘Dasar laki-laki kurang aj*r! Bi*dab!’. Inginku mengumpat-umpat dan melempar gelas kaca ke kepalanya hingga pecah keduanya. Dia masih saja tertawa-tawa. Bokong seorang wanita menindih dan semakin menekanku. Percayalah, wanita itu ada di tempat yang sangat haram baginya. Ingin sekali kusulap tubuhku yang empuk jadi keras dan berduri.

            Ini sudah berlangsung selama lebih dari tiga minggu sejak pertemuan itu. Pertemuan Hanafi bersama wanita bernama Dian Dinda. Wanita itu memang berparas seperti kembang yang sedang mekar cantik-cantiknya. Hanafi tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Semakin hari semakin tak bisa menerima kenyataan bahwa sayang sekali Dian Dinda bukan istrinya. Continue reading

Advertisements

100 Episode Bersama Keval – 8

Kali ini, aku capek muji-muji Keval terus. Menurutku, ini udah lebih dari cukup. Berkali-kali aku yakinin diri sendiri. Dia enggak ada spesial-spesialnya. Spesial sih, tapi itu dulu. Sekarang dia bisa datang sesuka hati, pergi sepengennya ngelangkah kaki, atau juga mungkin diem sejenak sambil bilang “kebawa suasana”. Itu artinya dia minta dimutilasi.

Berkali-kali aku pencet pilihan open sama close galeri HP. Begitu dibuka, duh, koleksi foto Keval dari selfie waktu pacaran, foto diem-diem, sampe hasil screenshoot foto-foto di akun instagramnya ngejajar rapih. Terus harus aku apain foto-foto ini? Bawa ke dukun, dipelet, biar dia balik lagi? Continue reading

100 Episode Bersama Keval – Season Ramadhan

Hai, Keval. Aku enggak akan tanya gimana kabarnya kamu, karena orang kayak kamu pasti bisa nyulap keadaan seburuk apapun. So, jawabannya bakalan baik-baik aja, kan? Keval, waktu di mana aku nulis semua ini, bulan Ramadhan udah di minggu-minggu terakhir. Itu artinya sebentar lagi lebaran. Momen di mana bakal banyak orang yang modus ngirim ucapan selamat hari raya ke kamu, termasuk aku. Continue reading