Desember Selalu Punya Tempat

Segelas air jeruk hangat sudah dihabiskan, yang tersisa hanya ha-ha-hi-hi di antara kami yang masih melindungi diri dari hujan. Kantin sekolah sepi karena saat ini seluruh siswa sedang belajar di kelas masing-masing. Aku tidak membolos, ini sudah bukan waktuku sekolah di sini lagi. Jatahku tiga tahun yang lalu.

road_12-wallpaper-1280x1024
Continue reading

Advertisements

Hujan

Langit sedikit demi sedikit menghapuskan warna kelabunya, rinai hujan yang mengguyur genting-genting rumah dan sekolah kini berhenti menyerbu meski masih menyisakan rintik-rintik gerimis yang terkadang membuat kepala menjadi pening.
Nirina menengadahkan wajahnya ke langit, matanya menerawang jauh ke atas sana hanya saja yang didapatkannya bukan apa-apa. Hanya sekelompok burut wallet berbondong-bondong pulang ke rumahnya, baris-berbaris dan saling mengekor membentuk ular hitam raksasa di angkasa.
“Ayo, pulang! Hujannya udah berhenti.” Gita mengulurkan tangan kirinya pada Nirina, tangan kanannya memegang gagang sebuah payung bercorak bunga-bunga. Nirina menoleh singkat, dan kembali menatap gugusan awan cumulonimbus yang mulai menghilang.
“Sehabis hujan, langitnya cantik ya, Git?” desisnya kemudian. Gita ikut-ikutan melayangkan pandangannya ke atas sana, namun kemudian ia abstain. Ia pikir apa yang dilihatnya terkesan biasa-biasa saja.
“Ayo kita pulang, Nir. entar hujan lagi lho!” Gita mengultimatum. Nirina hanya tersenyum dan mendesah “Setelah hujan itu suka muncul pelangi, Git.”


Continue reading