Saksi Pengkhianatan

Hanafi terkekeh. Tertawa keenakan. ‘Dasar laki-laki kurang aj*r! Bi*dab!’. Inginku mengumpat-umpat dan melempar gelas kaca ke kepalanya hingga pecah keduanya. Dia masih saja tertawa-tawa. Bokong seorang wanita menindih dan semakin menekanku. Percayalah, wanita itu ada di tempat yang sangat haram baginya. Ingin sekali kusulap tubuhku yang empuk jadi keras dan berduri.

            Ini sudah berlangsung selama lebih dari tiga minggu sejak pertemuan itu. Pertemuan Hanafi bersama wanita bernama Dian Dinda. Wanita itu memang berparas seperti kembang yang sedang mekar cantik-cantiknya. Hanafi tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Semakin hari semakin tak bisa menerima kenyataan bahwa sayang sekali Dian Dinda bukan istrinya. Continue reading

Sembunyi-sembunyi

Aku tidak bisa bilang mencintaimu dengan keras-keras

Seperti mars partai yang dinyanyikan simpatisan lantang-lantang

Atau seperti kumandang pengumuman ada orang yang meninggal

 

Aku mencintaimu dalam bisik yang berisik

Dalam hening yang gaduh

Dalam rindu yang ketar-ketir

Dalam doa yang membingungkan

 

 

Bandung, 16 Januari 17