Diikat Kegilaan

Adapun dalam menjalani kepahitan hidup, menjadi gila bukanlah satu-satunya pilihan. Bukan pula hal yang dikehendaki Arum. Di siang yang panasnya menyetrum kulit itu, ia diteriaki anak-anak kecil karena berjalan gontai tanpa busana. Riuh tepuk tangan memaki tak dihiraukannya. Continue reading

Advertisements

100 Episode Bersama Keval – 8

Kali ini, aku capek muji-muji Keval terus. Menurutku, ini udah lebih dari cukup. Berkali-kali aku yakinin diri sendiri. Dia enggak ada spesial-spesialnya. Spesial sih, tapi itu dulu. Sekarang dia bisa datang sesuka hati, pergi sepengennya ngelangkah kaki, atau juga mungkin diem sejenak sambil bilang “kebawa suasana”. Itu artinya dia minta dimutilasi.

Berkali-kali aku pencet pilihan open sama close galeri HP. Begitu dibuka, duh, koleksi foto Keval dari selfie waktu pacaran, foto diem-diem, sampe hasil screenshoot foto-foto di akun instagramnya ngejajar rapih. Terus harus aku apain foto-foto ini? Bawa ke dukun, dipelet, biar dia balik lagi? Continue reading

100 Episode Bersama Keval – 5

Apa yang akan kamu lakukan ketika semua yang kamu inginkan udah enggak kayak dulu lagi? Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu kangen seseorang tapi enggak bisa bilang sebebas dulu lagi? Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu tahu seseorang yang dulu menobatkan kamu sebagai orang paling spesial, sekarang… menganggap kamu ada di kasta yang mungkin lebih rendah dari sekedar orang biasa-biasa aja. Continue reading

100 Episode Bersama Keval – 1

Dag dig dug der!

Itu perasaan yang muncul tiap kali cowok itu lewat di depan kelas. Namanya Keval, anak 12 IPA 3. Senyumnya manis  walaupun wajahnya enggak ganteng-ganteng amat. Dia paling suka makan batagor kuah di kantin. Pernah bilang enggak mau jadi presiden karena enggak terima fotonya dipampang dimana-mana, takut ada yang melet. Keval, dia adalah orang yang paling sering aku kangenin akhir-akhir ini.

Kamu tahu enggak gimana rasanya kangen mantan? Buat aku, rasanya tuh persis kayak nahan pipis di depan banyak orang dan enggak ada toilet sama sekali. Continue reading

Rahasia Aku dan Kakak

Terik mentari di siang bolong menggigit kulit wajahku saat aku menengadahkannya ke langit. Terngiang di telingaku kata-kata ibu bahwa aku tidak boleh panas-panasan, kecuali jika ingin kulitku jadi gosong seperti Mas Wik. Meski aku masih kecil, ibu tidak pernah capek mengingatkanku untuk bisa merawat badan sendiri agar kelak bisa secantik kakak perempuanku, Kak Arini. Tapi justru kakakku yang cantik itulah alasanku untuk  tetap berdiri di sini, menantang matahari. Continue reading

Bulan Juni Riani

Aku tidak mengerti kenapa orang mudah sekali menyakiti orang lain, meninggalkan, dan mengakhiri hubungan yang sudah dijalani. Mengabaikan janji yang telah dibuat dan menemukan dengan cepat cara untuk berpaling. Mengapa mereka menganggap remeh yang disebut perpisahan.

Move on, Riani! Kalau orang yang kamu tunggu memang sayang sama kamu, dia enggak akan biarkan kamu nunggu lama-lama.Continue reading