Sang Penyair

Aku sastrawan kelas rendahan

Tiap hari ngemis-ngemis minta hati

Tiap malam dicabik angin sampai mati

Tapi hidup lagi hidup lagi

 

Aku penyair bergelar pecundang

Menangis tiap diguyur hujan

Tapi tak henti mengagungkan kata-katanya sendiri

yang lancang disebutnya sebagai puisi

 

Aku naik ke podium

Kubacakan sajak ini keras-keras

Sampai putus pita suaraku

Sampai robek gendang telingamu

 

Akulah sang penyair

yang karyanya dipajang di koran-koran

yang sosoknya diceritakan di buku Bahasa Indonesia anak sekolahan

bertahun-tahun ke depan

 

Akulah sang penyair

yang durhaka pada sajaknya sendiri

yang menyumpahi untuk berhenti berpuisi sampai kau memberi hati

 

Karyaku sudah berjuta, tapi kau tak kunjung cinta

Aku memang seringkali lupa

Wanita tak cukup dibeli dengan kata-kata

 

Bandung , 22 Januari 2017

 

Advertisements

Mbakmu

Setidaknya di meja itu,
taplaknya cantik terbuat kain serupa flannel.
Oleh-oleh Mbakmu dari luar negeri.
Waktu dulu jadi simpanan bupati.
Jadi, tamu akan tetap bertamu.
Kita jua tak perlu malu menjamu.
Meski tidak ada kudapan di meja,
juga tuangan sirup ke gelas-gelas kaca,
buat tamu wartawan yang kehausan.

Kita tetap tidak perlu malu menjamu tamu-tamu yang ingin bertamu.
Mereka hanya ingin dengar cerita ibu.
Ibu sudah ingatkan berapa kali.
Tapi sudah keluar kuping kanan sebelum masuk kuping kiri.
Jangan tergoda kilau lelaki dengan jabatan.
Itu jebakan.

Sekarang apa yang harus dilakukan ya ibu tak tahu.
Apalagi kalau tamu bertanya di mana Mbakmu yang cantik sekarang berada.
Mari kita suguhkan di meja setoples geming.
Untuk sama-sama dinikmati dalam hening.

Subang, 19 Januari 17

Berkat Kopi

Bagaimana cara hidup dalam kematian?

Minumlah secangkir kopi

Panas atau dingin, dari warung tegal atau kafe-kafe mahal

Bukan soal

 

Setelahnya,

Letupkan isi kepalamu ke dalam sebuah puisi

Umumkan, jangan hanya disimpan di bawah bantal

Isinya berbobot atau cuma bual

Bukan soal

 

Pada akhirnya kopi membuatmu menemukan Rendra dalam dirimu sendiri

Atau selebur jasad Chairil Anwar yang mati muda namun Aku-nya abadi

 

Bandung, 17 Januari 17

Sembunyi-sembunyi

Aku tidak bisa bilang mencintaimu dengan keras-keras

Seperti mars partai yang dinyanyikan simpatisan lantang-lantang

Atau seperti kumandang pengumuman ada orang yang meninggal

 

Aku mencintaimu dalam bisik yang berisik

Dalam hening yang gaduh

Dalam rindu yang ketar-ketir

Dalam doa yang membingungkan

 

 

Bandung, 16 Januari 17

 

 

Suara

Ada banyak suara di dunia ini

Tidak semua masuk kuping kanan keluar kuping kiri

Ada, ada saja yang tersangkut di memori

Ada saja


Aku belum sampai level memfavoritkan suara adzan yang berkumandang

Meski sesekali ada pembaca ayat suci yang suaranya menggetarkan hati

Biar saja, Tuhan mengerti

Mana yang berlalu, mana yang terpatri


Berikut 5 suara terbaik yang selalu dinanti tuk berbunyi di kepalaku:

  1. Bel kereta api di stasiun, berikut tut-tut-gujes hentakan roda besi pada rel yang dipijakinya.
  2. Hentakan drum yang dimainkan musisi saat sedang cek sound sebelum manggung.
  3. Suara penonton sepakbola teriak “Indonesia! Indonesia!” dengan tepukan botol air mineral kosong.
  4. Nyanyian Payung Teduh dan Banda Neira.
  5. Tawamu.

Subang, 2 Januari 17