BENARKAH LAKI-LAKI LEBIH RASIONAL DAN PEREMPUAN LEBIH EMOSIONAL?

gender Sumber gambar: samsaranews.com

Saya sering menemukan pernyataan di sosial media maupun dari ungkapan-ungkapan tidak langsung yang saya dengar dari orang-orang sekitar bahwa laki-laki menggunakan logika sedangkan perempuan menggunakan perasaan. Ketika mendapati hal tersebut, saya selalu memikirkan apakah asumsi itu hanyalah common sense karena didasari keyakinan banyak orang atau memang sudah teruji secara ilmiah. Ketika saya terus memikirkan hal itu, rasanya malah ingin semakin mempertanyakan pendapat umum tersebut. Memangnya saya memikirkan hal ini bukan pakai logika?

View original post 2,881 more words

The Girl Who Sucks Your Blood chapter I

graciousgaliesta

Untuk ke sekian kalinya Daniella pulang larut malam, waktu telah menunjukkan pukul 01:00 namun ini sama sekali tidak penting untuknya. Pergi setiap malam dengan pergaulan Seattle memang tidak berbahaya untuk kesehatannya, hanya saja sedikit mengancam eksistensinya.

Angin malam bertiup kencang dan membuat rambut ikalnya yang kemerahan berkibar. James yang sedang mabuk meninggalkannya dengan kecepatan tinggi saat pertama kali menekan pedal gas, untung saja Daniella hanya butuh sepersekian detik untuk turun dari mobil maut itu. Daniella menyeringai, ia tahu akan terjadi sesuatu. James akan menabrak pembatas jalan di Lowton Street dalam kondisi mabuknya, dan Daniella akan bersiap untuk menyusul ke sana. Untuk mengambil darahnya.

Riley sudah berdiri di ambang pintu. Daniella tahu ia akan segera bersungut dan memaki dirinya. Benar saja, Riley sudah menunggunya dengan tatapan tak suka, gadis berumur enam belas tahun itu tidak pernah bisa menerima kakaknya berkeliaran di malam hari, meski semua tahu kalau vampire tidak pernah tidur.

View original post 1,312 more words

Signs: Chapter 3 – Pencarian Part 4

graciousgaliesta

images (1)

“Well, harus kuakui kakakmu benar-benar menyebalkan, Claire.” Desah Elle sambil menatap ke jalanan. Reese mengendarai mobil dengan sangat pelan.

Kami masih melaksanakan sebuah misi, misi untuk menemukan Marry yang belum pulang hingga hari ini. Terpaksa, kami harus mencari rute lain dengan jarak yang lebih jauh.

“Maaf aku telah merepotkan kalian.” Ujarku yang langsung disanggah Reese. “Sama sekali tidak merepotkan, dari awal kami sudah berniat membantu.” Setidaknya, ucapan itu terdengar lebih melegakan.

View original post 1,127 more words

Aku ingin sekali belajar epigrafi. Ingin sekali. Agar kelak jika aku telah menjadi ratu di kerajaan kita, aku bisa mengabadikan kisah kita dalam prasasti. Di peradaban lusa, cucu-cucu kita, para arkeolog muda kan melihat dan mengerti betapa neneknya sangat mencintai kakeknya. Mungkin hal serupa telah dipikirkan Dyah Pitaloka. Sebelum ia membawa takdir pada kebencian terpendam Sunda kepada Jawa. Cucu-cucunya yang telah dibayang-bayang bersama Hayam Wuruk, disayat kilatan pisau saat gelora Tegal Bubat terasa mencekam. Kisah cinta Dyah Pitaloka memang tidak berakhir bahagia, tapi aku cucunya, arkeolog muda, akan tetap belajar epigrafi untuk mencari jejak curahan hati nenekku yang mencintai cintanya.***