Hasrat

Kita masih saja menjadi jalang

Berteriak kesilauan dalam terang

Sambil ambisius menyulap gelap

Mengutuk panas

Mengumpat dingin

Lupa Tuhan dan banyak ingin

10 Juni 2018, di kamar.

Advertisements

Dialog Tanpa Dialog

Seorang perempuan menatap segelas kopi

yang penuh terisi

lalu ia menangis

tanpa basa-basi

 

Di meja yang sama

Seorang lelaki dengan pikiran acak-acakan

ingin tapi enggan

dingin tapi segan

meminum segelas kopi yang penuh terisi

di hadapan wanita yang telah ia sakiti

Jalan Cemara, 17 Januari 2018

Pluk!

Pluk!

Kau lempar otakmu ke dalam mesin cuci

Biar bisa bedakan mana yang perlu dicinta, mana yang perlu dicaci

Ya memang, habis selama ini kamu bodoh!

Memilih lelaki saja ceroboh!

Pluk!

Hatimu ikut menerjunkan diri

Iya, iya! Tepat sekali

Kalau sudah bersih otak,  hati suka ikut sendiri

Bandung  yang sedang hangat-hangatnya, 9 Sept 27

 

Menunggu

Aku mengutuk pagi

Untuk salam yang tak kunjung disampaikan pada malam hari

Tentang bunga-bungaan dalam tidur yang menciptakan gilaku sendiri

Aku mencintaimu diiringi detak jarum jam

Dari fajar ke senja, senja ke fajar

Tolong jangan beritahu aku

Bahwa yang kulakukan hanya buang-buang waktu

Bandung, 14 Maret 2017

Rahasia Kecantikan Wanita

Hujan adalah rahasia kecantikan para wanita. Hujan memanggil memori indah, membuat wanita tersenyum. Senyum adalah yang paling alami untuk disebut riasan. Wanita menjadi cantik karenanya.

Hujan membantu mengalirkan air mata pada wanita yang terluka. Dengan rasa sakit yang maha dahsyat  oleh-oleh dari kekasihnya. Ia menangis. Tangis mengisyarakatkan cinta yang sebenar-benarnya. Cinta yang tulus. Wanita yang terlihat mampu mencintai dengan tulus adalah wanita paling cantik bagi yang mencintainya.

Hujan adalah rahasia kecantikan para wanita

Ia membuat bedak luntur dan polesan gincu jadi tak merata

Hujan adalah rahasia yang membuat wanita cantik dengan utuh,

tanpa menghiraukan standar yang ada

Bandung, 22 Januari 2017

Sang Penyair

Aku sastrawan kelas rendahan

Tiap hari ngemis-ngemis minta hati

Tiap malam dicabik angin sampai mati

Tapi hidup lagi hidup lagi

 

Aku penyair bergelar pecundang

Menangis tiap diguyur hujan

Tapi tak henti mengagungkan kata-katanya sendiri

yang lancang disebutnya sebagai puisi

 

Aku naik ke podium

Kubacakan sajak ini keras-keras

Sampai putus pita suaraku

Sampai robek gendang telingamu

 

Akulah sang penyair

yang karyanya dipajang di koran-koran

yang sosoknya diceritakan di buku Bahasa Indonesia anak sekolahan

bertahun-tahun ke depan

 

Akulah sang penyair

yang durhaka pada sajaknya sendiri

yang menyumpahi untuk berhenti berpuisi sampai kau memberi hati

 

Karyaku sudah berjuta, tapi kau tak kunjung cinta

Aku memang seringkali lupa

Wanita tak cukup dibeli dengan kata-kata

 

Bandung , 22 Januari 2017