Move On ~ 9

    “Apa yang kau katakan pada Sheena?” tanya Kao pada Kwan dengan sinis. Kwan masih berdiri mematung di depan rumahnya. Ia tidak menyangka Kao akan datang dengan tidak begitu ramahnya. “Apa yang ku katakan? Memangnya apa?” Kwan masih tetap tidak mengerti.

Kao menghembuskan napasnya kencang-kencang. “Tentang Mario.”

Kwan merenggutkan wajahnya dan menunduk. Ia baru mengerti, seharusnya ia sadar apapun yang berhubungan dengan Sheena adalah Mario. “Aku hanya memberitahunya perihal kekasih baru Mario. Aku hanya tidak menyangka baru dua minggu Mario pergi dan bisa mencari pengganti Sheena dengan begitu cepatnya.”

Kao tetap memandanginya serius. “Kau hanya mengarang cerita, kan? Aku tahu kau masih mengharapkan Mario. Kau seharusnya tidak perlu menyakiti Sheena dengan bualanmu itu.” Kwan terhenyak mendengar perkataannya. “Aku tidak suka melihat Sheena sedih, jadi tolong jangan bicara apapun padanya.”

Continue reading

Advertisements

Move On ~ 8

“Masuklah dulu, aku yakin ibu sudah ada di rumah.” Ujar Sheena resah sambil menarik-narik tangan Kao. Kao terus saja menolak dan tersenyum. Tidak peduli pakaian yang dikenakannya basah. Sheena memandanginya dari ujung rambut sampai roda motornya dan memaksa Kao untuk memasuki rumah. Kao hanya menggelengkan kepala.

“Aku tidak ingin kau sakit Kao, please. Aku tidak ingin teman terbaikku sakit karena menemaniku di hari ulang tahunnya.”

Kao tampak berpikir, kemudian ia malah memutar kunci dan menyalakan mesin motornya. Sinar lampu menyorot ke depan, Kao sudah siap untuk mengemudikannya. Sheena mendesah kecewa. “Kalau begitu aku harus segera pulang, Sheena. Aku sudah lega bisa menemanimu di hari special ini. Pergilah mandi dan ganti bajumu yang basah. Sebelum kau yang masuk angin.” Kao langsung melajukan motornya. Sheena hanya bisa pasrah dan melambaikan tangan, berharap sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.

Continue reading

Move On ~ 7

Sheena masih berdiam diri di kamar. Ucapan-ucapan Kwan masih memenuhi otaknya. Sheena hanya bisa pasrah, berusaha mencari tahu bagaimana cara mengobati luka hatinya. Mario sungguh telah menorehkan sesuatu yang tidak mengenakkan di hati Sheena, persis setelah ia tahu kenyataan yang sebenarnya setelah Kwan bicara.

Srek!

Sheena merobek fotonya bersama Mario, sebelumnya ia telah membanting figura yang membungkusnya hingga kacanya pecah berkeping-keping. Ia sudah tidak peduli dengan barang-barang itu. Sudah saatnya benda itu diletakkan di dalam tempat sampah, pikirnya.

Continue reading

Move On ~ 6

Sheena kembali memasukkan alamat e-mail dan mengetikkan passwordnya. Ia mengendus kecewa saat di layar tak juga muncul pesan dari Mario. Sudah hampir dua minggu Mario tak kunjung membalas pesannya. Mungkin ia terlalu sibuk dengan urusan perkuliahannya, berbeda dengan waktu pembelajaran di Thailand yang masih dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

Sheena memandangi sebuah benda yang terpajang rapi di atas meja. Fotonya bersama Mario dibingkai oleh figura berwarna cappucino. Sangat lucu. Ia sangat menyukai foto itu, Kao yang memotretnya. Sheena sungguh benar-benar banyak berhutang budi pada Kao.

Ponselnya berdering. Sheena segera mengalihkan pandangan dan bergerak mengambilnya. Jari-jarinya mengetikkan sesuatu di tombol dan layar ponsel menunjukkan ada sebuah pesan masuk. Pesan dari Nattasha.

Happy Birthday, Sheena. Hadiah menyusul, aku sedang ada di Pattaya.

  Continue reading

Move On ~ 5

Nada-nada cantik terdengar dari dawai gitar yang dipetik jemari Kao, Kao memainkannya dengan sesekali mengeluarkan suara untuk menyanyikan lagu-lagu Bodyslam, grup band favoritnya.  Dipandangnya foto Sheena bersama dirinya di atas meja, Kao tersenyum-senyum sendiri. Foto ini diambilnya ketika Kao dan Sheena pergi merayakan tahun baru di CentralWorld Square. Saat itu Mario tidak bisa ikut bersama mereka karena harus ikut Paman Fung yang akan mendaftarkan Mario ke Kyoto University, Jepang.

Kao tak pernah menunjukkan pada siapapun bahwa ia memiliki kemampuan yang baik untuk bernyanyi dan bermain musik. Kao mahir dalam bermain gitar dan gitar bass, dan Sheena hanya mengetahui itu. Sheena terlalu memuja-muja suara Mario, ia masih menganggap Mario tak ada tandingannya sama sekali.

Dan karena itu Kao tak pernah berani menyanyi di depan Sheena.

Pang seringkali menyarankan Kao untuk mengikuti audisi Thailand Idol –berharap ia bisa menjadi adik seorang penyanyi terkenal, namun Kao selalu menolaknya. Ia merasa tak cukup mumpuni untuk melakukan hal tingkat tinggi seperti itu, ia merasa bermusik itu hanya hobi, bukan bakat yang akan menerbangkannya tinggi.

Kao menghentikan suaranya di petikan gitar yang terakhir, ia lantas menyimpan gitar dalam pangkuannya dan tangannya tergopoh-gopoh mengambil foto yang selalu dipandanginya. Sheena yang mengambil foto dengan pose Kao melingkarkan tangan di pundaknya. Sekali lagi Kao tak bisa berhenti untuk tersenyum.

“Kao!”

Continue reading

Move On ~ 4

“Sheena, ayo masuk! Sepertinya Kao masih tidur.” Sambut Ibu dengan ceria saat melihat Sheena berdiri di depan pintu. Sheena hanya tersenyum dan terlihat berpikir, “Boleh aku mengganggunya, Bu?” ujarnya sambil menjulurkan lidah. Ibu hanya tertawa dan segera mempersilakannya masuk. Sheena sangat diterima baik di rumah Kao, begitu pula sebaliknya.

Sheena mengetuk pintu kamar Kao sekali, dua kali, namun tak ada sahutan dari dalam. Sepertinya Kao benar-benar tertidur pulas. Sudah siang begini Kao masih mendekam dalam kamar, ia pasti tidur larut malam. Pikirnya.

“Dobrak saja, kalau perlu berteriaklah ada kebakaran.” Celoteh Pang yang sedang asyik menyaksikan infotainment, Sheena hanya menanggapinya dengan tawa. “Jirayu, bangunlah!” teriak Sheena sambil menggedor-gedor pintu.

Kao membuka mata perlahan namun ia memutuskan untuk memejamkannya kembali. Teriakan di luar masih terdengar samar-samar di telinganya. Namun cukup mengganggu istirahatnya di hari Minggu. “Jirayu Laongmanee! Kao!” teriak orang itu dari luar, cukup memekakan telinga. Ingin rasanya Kao menyumpal telinganya dengan sesuatu dan bergerak tidur kembali, namun ia tidak ingin seseorang menjebol pintu kamarnya dengan ketukan-ketukan pintu yang mahadahsyat.

Continue reading

Move On ~ 3

Sheena berjalan terkatung-katung, berharap ia tidak terlambat dan menyesal seumur hidupnya. Langkah cepatnya gontai hingga tak sadar dirinya sudah berlari. Matanya liar mencari-cari sesuatu ke segala penjuru Suvarnabhumi Airport. Mencari Mario.

Kao berlari menyusul dirinya, ia tahu Sheena terlalu panik untuk mencari Mario sendirian. Seharusnya ia datang sejak sepuluh menit yang lalu bila ingin bertemu Mario, sepuluh menit akan sangat berarti menjelang waktu pesawat lepas landas dengan tepat waktu.

Dan sepertinya Sheena telah melewatkan kesempatan terakhir untuk bertemu Mario.

“Sheena!” Kao berhasil meraih tangannya dan menghentikan langkah Sheena. Semburat penyesalan terpancar dari senyumnya yang meredup. Kao tahu, ia sangat berharap bisa bertemu dengan Mario sebelum keberangkatannya ke Jepang. Dan kenyataan pahit yang harus diterimanya adalah benar-benar melewatkannya.

Continue reading