Saksi Pengkhianatan

Hanafi terkekeh. Tertawa keenakan. ‘Dasar laki-laki kurang aj*r! Bi*dab!’. Inginku mengumpat-umpat dan melempar gelas kaca ke kepalanya hingga pecah keduanya. Dia masih saja tertawa-tawa. Bokong seorang wanita menindih dan semakin menekanku. Percayalah, wanita itu ada di tempat yang sangat haram baginya. Ingin sekali kusulap tubuhku yang empuk jadi keras dan berduri.

            Ini sudah berlangsung selama lebih dari tiga minggu sejak pertemuan itu. Pertemuan Hanafi bersama wanita bernama Dian Dinda. Wanita itu memang berparas seperti kembang yang sedang mekar cantik-cantiknya. Hanafi tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Semakin hari semakin tak bisa menerima kenyataan bahwa sayang sekali Dian Dinda bukan istrinya. Continue reading

Advertisements

Desember Selalu Punya Tempat

Segelas air jeruk hangat sudah dihabiskan, yang tersisa hanya ha-ha-hi-hi di antara kami yang masih melindungi diri dari hujan. Kantin sekolah sepi karena saat ini seluruh siswa sedang belajar di kelas masing-masing. Aku tidak membolos, ini sudah bukan waktuku sekolah di sini lagi. Jatahku tiga tahun yang lalu.

road_12-wallpaper-1280x1024
Continue reading

Rahasia Aku dan Kakak

Terik mentari di siang bolong menggigit kulit wajahku saat aku menengadahkannya ke langit. Terngiang di telingaku kata-kata ibu bahwa aku tidak boleh panas-panasan, kecuali jika ingin kulitku jadi gosong seperti Mas Wik. Meski aku masih kecil, ibu tidak pernah capek mengingatkanku untuk bisa merawat badan sendiri agar kelak bisa secantik kakak perempuanku, Kak Arini. Tapi justru kakakku yang cantik itulah alasanku untuk  tetap berdiri di sini, menantang matahari. Continue reading

Bulan Juni Riani

Aku tidak mengerti kenapa orang mudah sekali menyakiti orang lain, meninggalkan, dan mengakhiri hubungan yang sudah dijalani. Mengabaikan janji yang telah dibuat dan menemukan dengan cepat cara untuk berpaling. Mengapa mereka menganggap remeh yang disebut perpisahan.

Move on, Riani! Kalau orang yang kamu tunggu memang sayang sama kamu, dia enggak akan biarkan kamu nunggu lama-lama.Continue reading

Dan…

Ada rasa asing yang kutemukan saat jarak kita semakin dekat. Tatapan yang berbeda, yang tidak ada pada sahabatku itu sebelumnya. Sebelumnya, memang tidak pernah ada apa-apa. Kami ya kami, sama seperti bagaimana kami dipandang semua orang. Tapi kali ini aku merasakan ada sekat tebal di antara kita berdua. Aku tidak menyebutnya itu cinta. Karena mustahil cinta ada pada orang lain yang telah saling dimiliki oleh orang lain. Mungkin untukku itu masih bisa terjadi. Tapi baginya? Orang yang benar-benar terlihat mencintai kekasihnya, padahal selama ini aku tahu ia banyak disakiti. Atau aku saja yang terlalu banyak peduli. Continue reading

Maling

“Tapi aku tidak mencurinya!” pekik Yanti untuk ke sekian kali. Shila dan yang lainnya masih memandanginya dengan tatapan menghakimi.  “Tidak ada maling yang mengaku, jujur saja pada kami. Di antara semua yang ada di sini, semua tanda mengarah padamu!” Brenda melisankan kekesalannya. Yanti membalas tatapan mereka dengan jengah.

                “Meski aku orang miskin, aku tidak pernah mencuri apapun terutama milik temanku.” Gumamnya dengan derai air mata mengalir di pipinya. Yanti terlalu rapuh untuk dapat mengelak, meski aku juga tahu ia bukan pencurinya.

Continue reading

Keluarga Sunarti

Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada semua yang telah memberi dukungan beserta inspirasinya karena Alhamdulillah cerpen ini menjuarai Audisi Penulis Subang Berbakat 2012 🙂

 

Bulan pucat tersenyum pahit di atas genting rumah duka, ditinggal mati keluarga kecil  Sunarti. Sunarti benar-benar patut berduka, ia harus meminjam kediaman ibunya hanya untuk melaksanakan tahlil tujuh malam selanjutnya.

Nasib… nasib…

Guratan takdir hidupnya membuat tetangga sekeliling rumah ikut mengelus dada. Kehidupan Sunarti yang masih berusia dua puluhan itu berguncang hebat. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu rumah gedong peninggalan bapaknya habis ditelan bara api, suami dan anaknya mati gosong di dalamnya.

Sunarti duduk di teras rumah ibunya. Menyalami satu per satu pelayat yang berdatangan membawa bergantang-gantang beras hasil panen bulan kemarin. Seperti itulah kebiasaan orang-orang desa untuk menghibur hati warga yang sedang berduka ditinggal pergi sanak saudara. Dan Sunarti hanya membalasnya dengan beberapa patah kata “Terimakasih. Doakan Juhara dan Asoka mudah-mudahan diterima di sisi-Nya.”

Di antara pelayat-pelayat yang berdatangan, sepasang bola mata yang dipunyai seorang pria memandangi Sunarti dari kejauhan. Mata itu terus menerawang melalui celah dedaunan pisang yang tertanam beberapa puluh meter dari tempat Sunarti berada.

Continue reading