Jawab

Kusut isi kepalaku

Ditenggelamkan curiga, diacak-acak waktu

Dikelabui bayang-bayang bahwa aku ditipu

 

Aku percaya bahwa orang akan jujur

saat ia setengah tertidur

 

Hari kesatu

“Ananta”

Hari kedua

“Ananta”

Hari ketiga

Kutarik napas dalam-dalam

Tak peduli menggembirakan atau kan kelam

“Seberapa besar kamu mencintaiku?”

 

Kamu menjawab lirih

Kamu masih mengantuk

Sial! Jawaban yang sama

“Ananta”

 

Kutarik napas dalam-dalam

Aku tetap tak bisa tenang

Setan yang menang

 

Kudaratkan tangan ke lehermu

Tanpa kasih, tanpa cumbu

Kuhentikan cekikan saat tanganmu jatuhkan sesuatu

Kamus Bahasa Sansekerta tergolek di lantai waktu itu

Di hari-hari selanjutnya membuat kusut isi kepalaku

 

Kafe di Bandung, 1 Desember 2018

Advertisements

Yogyakarta

Di dalam kepala tuan terlalu berisik oleh ingatan tentang mantan kekasih

Tapi tuan tak bisa tanggalkan di sini

Memori pahit yang menggerogoti separuh hati tuan

dan menggelapkan ruang, waktu, serta harapan tuan

dengan bagian indah-indah yang disisakan untuk dinikmati kemudian

 

Yogyakarta memang tidak diciptakan untuk menghapus pilu

Ia justru mengacaukan rindu tanpa malu-malu

 

Bandung, bukan di Yogyakarta.  21 November 2018

 

Usia 20-an

Seperti racau burung yang meneriaki dirinya sendiri

Melemparkan ke udara soal bingung yang tak habis dalam sehari-dua hari

Tentang cita

Tentang cinta

Tentang mimpi yang saling menali

Andai kepastian bisa kubeli

 

Bandung, 21 Märet 2018

Pluk!

Pluk!

Kau lempar otakmu ke dalam mesin cuci

Biar bisa bedakan mana yang perlu dicinta, mana yang perlu dicaci

Ya memang, habis selama ini kamu bodoh!

Memilih lelaki saja ceroboh!

Pluk!

Hatimu ikut menerjunkan diri

Iya, iya! Tepat sekali

Kalau sudah bersih otak,  hati suka ikut sendiri

Bandung  yang sedang hangat-hangatnya, 9 Sept 27