Diikat Kegilaan

Adapun dalam menjalani kepahitan hidup, menjadi gila bukanlah satu-satunya pilihan. Bukan pula hal yang dikehendaki Arum. Di siang yang panasnya menyetrum kulit itu, ia diteriaki anak-anak kecil karena berjalan gontai tanpa busana. Riuh tepuk tangan memaki tak dihiraukannya.

“Suaminya kawin lari, anaknya mati keserempet motor belum lama ini”, bisik-bisik tetangga. Tidak semua orang tega melihat wanita usia dua puluhan itu lupa pada dirinya sendiri. Tapi bukan berarti Arum bebas dari label ‘orang gila pendatang baru’ yang diberikan para pendengki.

Arum dibebaskan di jalanan karena tak pernah kedapatan membawa pisau atau golok yang diayun-ayunkan pada orang yang lewat. Arum juga tidak pernah diberi pakaian oleh orang-orang, karena memang Arum takkan mau menerima apalagi memakainya. Mereka akan lebih senang jika salah satu pakaian di jemuran hilang dicuri Arum, berarti hari itu Arum akan menutup tubuhnya dengan pakaian yang dikehendakinya, meskipun hal itu tetap bukan pemandangan yang sering dijumpai karena ketika berpakaian seringkali Arum tampak gatal dan kepanasan.

Suatu hari, Arum mendatangi warung nasi Bu Warsinah. Wanita paruh baya pemilik warung itu menghampirinya dengan perasaan kompilasi iba dan takut pelanggannya tak nyaman melihat Arum yang bau dan dekil menghampirinya. Arum menunjuk sesuatu. Bu Warsinah menyiapkan kertas nasi dan segera mengambil centong untuk mengambil makanan yang ditunjuk Arum, namun Arum menggeleng. Ia menunjuk sekali lagi ke arah yang sama. Telunjuk Bu Warsinah diarahkan ke kumpulan karet gelang. Arum mengangguk dengan mata yang berbinar. Dalam senyumnya yang sumringah itu, ia tunjukkan giginya yang kuning dengan noda sisa makanan di sela-selanya. Bu Warsinah memberinya beberapa buah karet gelang. Arum mengamitnya dan segera pergi. Ia kenakan karet gelang di pergelangan tangan kirinya layaknya menggunaan perhiasan gelang. Ia melangkah berseri-seri, seringkali ditatapnya ujung lengan kirinya itu dengan bangga.

Dua minggu berlalu, dengan kebiasaan yang sama setiap harinya, Bu Warsinah tahu bahwa pada jam tertentu Arum akan menemuinya, sedangkan persediaan karet gelang di warungnya sudah habis. Ia memang jadi sengaja belanja karet gelang lebih banyak bukan hanya untuk mengikat bungkusan nasi, tapi untuk wanita muda yang selalu menghampiri dengan banyak karet gelang di lengan kirinya. Bagaimanapun sebelum kondisinya seperti ini, Bu Warsinah kenal dekat dengan Arum dan keluarga yang kini tak mau mengurusnya.
“Rum, apa enggak kekencengan tuh?” ujar mas-mas tukang ojek yang sedang menyantap dagangan bu Warsinah. Komentarnya itu ditunjukkan pada tangan kiri Arum yang sudah hampir semuanya tertutup karet gelang yang dipasang ketat. Arum hanya menoleh dan nyengir. Entah ucapan orang di dekatnya itu sampai di telinganya atau tidak.

Hari itu terjadi di luar kebiasaan. Arum tak datang ke warung untuk meminta karet gelang. Arum tak muncul di mana-mana. Sampai tiba-tiba seisi desa dikejutkan suara sirine ambulans.
‘Ada yang meninggal’, kata orang-orang.
‘Si Arum yang meninggal’, kabar ini tersiar ke mana-mana. Tapi warga bingung, ini perlu diumumkan di pengeras suara masjid atau tidak.

Hari itu terjadi di luar kebiasaan. Arum dibawa ke dalam mobil berwarna putih dengan berpakaian lengkap–yang kemudian diketahui sumbernya adalah tiang jemuran di rumah orangtuanya sendiri. Berawal dari insiden kehilangan jemuran itu, ada yang membuat penghuninya lebih jauh merasa kehilangan.

Saat Arum pergi, tidak semua hal terjadi di luar kebiasaan. Rambut Arum tetap awut-awutan seperti biasanya, tidak ada perubahan yang bombastis dengan bau tubuhnya, busuk seperti biasanya. Ditambah amis bekas darah yang memuncrat dan daging yang mengintip dari balik luka di pergelangan tangan kirinya.***

Advertisements

2 thoughts on “Diikat Kegilaan

  1. hallo teh aih :)) wah baru nemu blognya, ternyata banyak isi yang menarik hehehe. aku suka lho tulisan-tulisan teteh, bikin aku pengen nulis lagi. semangat teteh, selalu ditunggu post terbarunya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s