Saksi Pengkhianatan

Hanafi terkekeh. Tertawa keenakan. ‘Dasar laki-laki kurang aj*r! Bi*dab!’. Inginku mengumpat-umpat dan melempar gelas kaca ke kepalanya hingga pecah keduanya. Dia masih saja tertawa-tawa. Bokong seorang wanita menindih dan semakin menekanku. Percayalah, wanita itu ada di tempat yang sangat haram baginya. Ingin sekali kusulap tubuhku yang empuk jadi keras dan berduri.

            Ini sudah berlangsung selama lebih dari tiga minggu sejak pertemuan itu. Pertemuan Hanafi bersama wanita bernama Dian Dinda. Wanita itu memang berparas seperti kembang yang sedang mekar cantik-cantiknya. Hanafi tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Semakin hari semakin tak bisa menerima kenyataan bahwa sayang sekali Dian Dinda bukan istrinya.

            Ponsel Hanafi berdering. Diangkatnya dan terdengar suara seorang wanita. Dian Dinda melenguh kecewa. “Tunggu di sana, kujemput. Sudah lama tidak jalan-jalan, kan?” ujarnya pada orang yang ada di jauh sana. Ia lalu meletakan kembali benda berwarna hitam itu. Tangannya kemudian mengusap-usap rambut Dian Dinda. Mencium keningnya dan menatapnya dengan tatapan yang tak pernah berbeda.

            Dian Dinda merapikanku kembali. Meletakkan kembali selimut yang sudah terlipat di kakiku, kemudian meletakan bantal-bantal yang terjatuh di lantai ke posisi sebelumnya. Ia lakukan itu  sambil menunggu Hanafi mengenakan pakaian, bersiap menjemput istrinya. Ini memang gila, tapi ia memang sungguh-sungguh menggilai pria yang tak pernah bisa dilepaskannya itu. “Masuklah ke mobil duluan dan kuantar pulang,” ucap Hanafi selembut biasanya.

***

            Hujan deras mengguyur Bandung siang itu hingga jalanan tak terasa panas dan berdebu. Angin bertiup sekencang-kencangnya menggoyang dahan-dahan dan memaksa batang pohon jalanan merubuhkan diri ke badan jalan namun gagal. Mobil yang dikendarai Hanafi dapat melengang bebas karena pengendara sepeda motor lebih memilih berteduh dibanding macet-macetan.

            Ia memarkirkan mobilnya di depan SMA ternama yang ada di tengah kota. Fatma, istrinya tersenyum kegirangan melihat suaminya datang. Hanafi melambaikan tangannya, memberi isyarat pada wanita itu untuk menunggu. Ia lalu menghampiri wanita muda pengajar Bahasa Indonesia di sekolah itu dengan menggenggam gagang payung.

            “Penerbit lancar, Mas?” tanya wanita itu membuka percakapan. Hanafi mengangguk pelan sambil sibuk mengeluarkan mobil dari tempat parkir. Sejenak hanya ada suara hujan menyertai keduanya tanpa percakapan apapun. Fatma mendekatkan wajahnya ke Hanafi yang sedang konsentrasi penuh pada kemudi. Ia mencium bau sesuatu. Wangi yang terlalu terkesan anggun untuk seorang laki-laki, tapi untuk menaruh curiga ia tak berani.

***

            Dian Dinda tak dapat protes jika kebersamaan mereka cepat selesai. Bukankah semakin sebentar ia di dekat Hanafi maka semakin kecil pula kesalahan yang dilakukannya? Wanita berkulit terang itu kemudian melengos pergi sambil menyisir rambutnya dengan jari. Langkahnya terhenti sejenak di ruang tamu. Ditatapnya foto pernikahan Hanafi dan istrinya sambil mencibir. Di wajahnya terlukis senyum penuh kemenangan. Ia puas telah melakukan apa yang menurutnya harus ia lakukan. Merebut apa yang harus menjadi miliknya kembali.

            Dian Dinda tak sengaja bertemu Hanafi hampir sebulan yang lalu di kantor penerbit tempat Hanafi bekerja. Novel yang ditulisnya diterbitkan di sana. Hanafi jua lah yang banyak mengurusnya, lalu pada akhirnya menemukan alasan yang mendorong mereka melangkah se-tidak waras ini.

 ***

            “Aku ingin ketemu Dian Dinda”, ujar Fatma. Jantung Hanafi seperti akan melompat dan berpindah posisi. Ia tak memalingkan pandangan ke arah istrinya sama sekali, apalagi sampai menatap matanya. Tangannya masih sok sibuk berkutat dengan laptop yang di layar tidak menampilkan aktivitas apa-apa.

            Fatma melepas ikat rambutnya dan kemudian diam di tepi badanku, duduk di dekat suaminya. Ia sedikit heran mendengar deru napas Hanafi yang tersengal-sengal. Wajah lelakinya itu tiba-tiba memucat. Matanya kosong tapi menerawang ke segala penjuru ruangan.

            Fatma berguling-guling di atasku. Hanafi tetap duduk dengan kaku. “Aku ingin ngobrol-ngobrol dengan Dian Dinda, bisa kan?”, tanyanya kembali. Sejenak hanya hening yang ada di dalam ruangan itu. Fatma memegang pundak lelaki di hadapannya.

            “Mau apa?”, timpal Hanafi dengan suara yang agak meninggi. Mata istrinya terbelalak tak percaya bahwa baru saja dirinya dibentak untuk hal yang tak ia sangka membangkitkan emosi. Jika saja aku punya kekuatan menggerakkan kaki, akan kutendang Hanafi sampai tersungkur bahkan mati.

            Fatma tersenyum. Ia memahami sesuatu. Dian Dinda adalah urusan yang belum selesai untuk Hanafi. Dian Dinda adalah sosok wanita yang pernah sangat dicintai namun kini dibenci.  Ia dengar cerita bahwa wanita itu dulu kekasih suaminya yang kemudian pergi dan membuat Hanafi patah hati. Meski begitu Fatma yakin luka itu terlihat sudah terobati. Ia jadi heran, kenapa mendengar nama Dian Dinda respon Hanafi masih begitu juga? Untuk saat ini, ia mengurungkan keinginannya untuk bertemu Dian Dinda, yang bahkan alasannya saja belum sempat disampaikan.

***

            “Saya pesan lima puluh cetak novelnya Mbak Dian Dinda untuk masing-masing serinya, dia penulis hebat. Saya mau kenalkan karyanya ke murid-murid di sekolah. Kalau ketemu orangnya susah. Jadi saya sekalian minta tanda tangannya, ya? Uangnya ditransfer siang ini. Barangnya titip ke Mas Hanafi saja”, ujar Fatma pada orang yang diteleponnya, salah satu orang dari penerbit.

***

            “Bercerai dengannya kemudian menikahi kamu? Ibuku masih hidup, ia bisa mati jantungan begitu mendengarnya”, desis Hanafi yang hanya dihadiahi senyum kecut dari wanita di hadapannya.

            Dian Dinda diam saja.

            “Istriku ingin ketemu kamu.”

            “Najis. Buat apa?”

            “Tidak tahu.”

            “Aku tidak sudi.”

            “Temui sajalah, daripada ia curiga.

***

            Hanafi pulang. Fatma bersungut gembira seperti anak kecil dibelikan es krim. “Pesananku dibawa, kan?”, tanyanya antusias. Hanafi menarik napas dalam-dalam. Ia tak ingin kehilangan kontrol diri sekali lagi di hadapan Fatma. “Untuk apa kamu pesan sebanyak itu?”, tanya Hanafi sambil meletakkan tangannya di tepi wajah istrinya. Ditatapnya Fatma dalam-dalam, sedalam kepura-puraan yang ia sembunyikan.

            “Dian Dinda penulis yang hebat. Dia akan bisa menginspirasi murid-muridku. Kalau mendatangkannya ke kelasku belum bisa, karyanya dulu saja.

            Hanafi membatu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s