Desember Selalu Punya Tempat

Segelas air jeruk hangat sudah dihabiskan, yang tersisa hanya ha-ha-hi-hi di antara kami yang masih melindungi diri dari hujan. Kantin sekolah sepi karena saat ini seluruh siswa sedang belajar di kelas masing-masing. Aku tidak membolos, ini sudah bukan waktuku sekolah di sini lagi. Jatahku tiga tahun yang lalu.

road_12-wallpaper-1280x1024

Perfect. Enggak ada yang berubah”, ujar Jihan yang hijab coklatnya kini diwarnai  totol-totol hitam terkena cipratan air hujan. Aku tersenyum. Kulihat rona yang sama di wajah tiga sahabatku lainnya. Wanda, Maudy, dan Uti. “Biasanya suasana suka jadi beda setelah jadi alumni, untungnya yang direnovasi cuma kelas-kelas. Kantin masih disisain kayak gini”, sambung Maudy yang diamini semua orang.

Ini pertama kalinya kami menginjakkan kaki di sekolah setelah tiga tahun lulus dari sini. Bukannya kami sombong dan tidak pernah menyempatkan hadir setiap ada kegiatan reuni, namun selalu saja ada alasan pribadi yang tak terelakkan. Maka dari itu sekarang, momen ini tidak akan kami sia-siakan.

Kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Juga kuliah di universitas yang tentu tidak sama—kecuali Wanda yang sekarang telah menjadi istri seorang pengusaha dan ikut suaminya ke Medan. Saat SMA Wanda paling tidak tertarik dengan yang namanya pacaran, namun kini ia menikah paling duluan.

Maudy mengambil jurusan sastra Inggris di salah satu universitas negeri ternama di Malang. Ia sengaja jauh-jauh kuliah di sana hanya untuk mencari suasana baru. Bosan di Bandung, katanya. Lain lagi, Uti merupakan mahasiswi ekonomi yang ada di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Ia tinggal dengan kakaknya. Jihan—yang punya wajah khas kearab-araban, baru saja lulus dari kuliah D3 keperawatannya di Subang, sekarang ia baru akan memulai karier sebagai perawat sungguhan di RSUD Ciereng Kabupaten Subang. Sedangkan aku, Brihannala Moreta Subandi, baru saja menyelesaikan ujian akhir semester di fakultas psikologi UPI Bandung.

Bau tanah, hujan, dan daun-daun basah singgah di antara kami. Petrichor. Bau yang selalu memaksa kami untuk mengingat sesuatu.  Khas musim hujan bulan Desember.

Menghirup seperti ini, selalu melengangkan paru-paru kami. Perasaan yang dirasakan tentu berbeda pasti. Ada yang mengingatkan kesedihan, kebahagiaan, atau kerinduan terhadap seseorang. Maudy tampak mencuri-curi pandang ke arah kelas XI IPA 4, kelasnya dulu. Kami kemudian saling berpandangan, tersenyum, dan mengangguk mengiyakan. Kenangan di bulan Desember selalu punya tempat untuk baik-baik disimpan.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s