100 Episode Bersama Keval – Episode Terakhir

Ketika kamu ingin seseorang membaca tulisanmu, kamu pasti berusaha buat nulis dengan indah. Katanya, ketika kamu enggak sanggup untuk menulis dengan indah, menulislah dengan jujur. Tulisan ini bukan diari. Bukan juga curhat colongan yang sengaja minta dipublikasi. Kamu boleh nilai tulisan ini enggak indah, karena aku emang lagi belajar ngungkapin dengan jujur.

Tokoh utamanya namanya Keval dong, ceritanya dia bisa naklukin cewek-cewek pakai mantra. Mantranya bisa dikalahin sama ayat-ayat suci semua agama. Lah? Kok si Keval malah jadi kayak dukun pemuja setan, ya?”, kata Keval waktu itu. Dia tahu persis, kalau cewek yang selalu kagum sama dia ini suka banget yang namanya nulis. Meskipun belum tentu Keval mau baca semua karya karena dia enggak suka teks panjang-panjang. Jadi, kalau aku terlampau enggak tahu malu buat ngungkapin perasaan di sini, itu karena aku tahu dia enggak akan baca sekalipun udah dipaksa.

Aku sanggup ceritain A sampai Z tentang Keval sampe ngebusa. Dia lahir di rumah karena enggak sempet dibawa ke rumah sakit, katanya gara-gara ayahnya lupa naro kunci mobil dan nyarinya kelamaan. “Untung aja aku tetep lahir dengan selamat, dan ganteng”, cerita dia yang enggak pernah bisa aku lupainKeval itu jago badminton sejak SD. Nyambung sama itu, katanya dulu tiap ditanya cita-cita, dia bakal jawab pengen jadi kayak Taufik Hidayat biar cewek banyak yang suka. Apalagi yang aku tahu soal Keval? Mungkin sedikit lebih banyak dari orang-orang yang kenal dia tanpa mengagumi.

100 Episode Bersama Keval. Harusnya angka nol di situ ditambah beberapa digit, tapi kamu bakal capek bacanya. Meskipun kamu enggak minat baca, aku masih ngarep Keval mendadak rajin dan scroll cerita dari atas sampe bawah sampe bener-bener paham ada apa sama mantannya. Jadi, tulisan ini enggak perlu panjang dan banyak, yang penting jujur.

Akhirnya, sampe juga di episode terakhir. Dari awal aku berniat nulisin segalanya tentang Keval dengan dipangkas ke satu postingan per episodenya. Ini kan belum postingan ke 100? Sama kayak dari awal, aku dan Keval berencana saling nemenin sampe tua, dan pastinya bisa milyaran episode. Kenyataannya?

Kita enggak pernah tahu, kapan waktu yang pas untuk mengakhiri sebuah kumpulan episode. Juga enggak pernah tahu, gimana cara episode-episode itu milih bagian endingnya. Aku enggak pernah ngira kalau hari itu Keval bakal bilang “lebih nyaman enggak jadi pacar” secara tiba-tiba. Aku sebenernya sempet protes dan mohon-mohon enggak mau putus. Lunturlah segala gengsi. Bagian ini udah aku ceritain belum?

Kenapa?”

“Tak ada yang abadi kecuali Allah, Nadila. Hehehe.”

Kenapa bikin keputusan mendadak?

Aku udah pikirin dari sebelum hari ini, kok. Di dunia ini enggak ada yang ngedadak selain kematian, Dila. Tahu bulat juga sebelum digoreng pasti direncanain dulu sama penjualnya. Digoreng dadakan cuma jargonnya doang”, kata Keval tanpa sedikit pun ekspresi ngerasa bersalah. Sejak saat itu, aku galau, sampai hari ini, dan masih berharap cepetan galaunya ngedadak berhenti.

***Mendadak tamat***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s