100 Episode Bersama Keval – 7

Aku enggak pernah berpikir bahwa Keval itu cenayang. Enggak pernah! Dia bukan pembaca pikiran, tukang ramal, apalagi ahli gendam. Kadang aku emang enggak habis pikir, Keval selalu bisa nemuin apa yang aku sembunyiin. Kalau ibarat merahasiakan serapat-rapatnya, Keval pasti bisa lihat lubang kecil tak kasat mata.

Kalau bohong, bisulan sebadan-badan, ya?” ancam Keval tiap aku ketahuan nutupin sesuatu. Ekspresi dia selalu menyenangkan dan ramah kayak kasir minimarket. Kalaupun aku ketahuan bohong, Keval enggak pernah lantas anarkis. Meskipun bukan berarti dia enggak pernah marah.

Waktu itu, aku terpaksa nerima tawaran untuk nonton ke bioskop sama Herdin. Dia teman yang naksir aku dari SMP. Herdin tinggal di Surabaya. Masalah sejatinya adalah dia anak kesayangan sahabat mamaku. Kalau liburan ke Bandung, pasti aku yang diminta untuk nemenin dia. Jadi enggak enak untuk nolak termasuk ajakan nonton film yang lagi booming waktu itu.

Aku enggak bilang ke Keval. Ya, iyalah! Aku takut banget bikin Keval sedih dan kecewa karena ceweknya jalan sama orang lain. Walaupun aku tahu dia bakalan lebih murka kalau tahu pacarnya bohong. Serius deh, hari itu aku dilema banget sampai besoknya di sekolah saat-saat mendebarkan ketemu Keval itu tiba.

Kemaren ke mana?” tanya Keval yang cuma dapet respon ucapan “mampus, mampus, mampus” dari hatiku yang paling dalam. Keval selalu kelihatan tenang. Enggak ada sama sekali tatapan curiga. Mungkin dia cuma bingung karena pacarnya hilang seharian.

Nonton ke bioskop sama tante”, kataku ragu-ragu. Seenggaknya aku cuma bohong lima puluh persen. Keval tiba-tiba nyengir. Seolah ngerti sesuatu.

“Bener, nih?” Keval enggak pernah nuduh. Alisnya diangkat-angkat. Duh, aku enggak bakat akting kecuali kalo pas ngomong buku PR ketinggalan. Aku paling enggak bisa bohongin Keval. Keval masih senyum-senyum sendiri. Kayaknya dia udah tau, deh.

“Aku nontonnya sama si Herdin. Maafin udah ngebohong”. Dalam waktu sekejap, ngaku adalah pilihan terbaik yang aku buat. Sekaligus ternekat. Aku pasang wajah memelas, memohon ampun. Walaupun udah pasrah, haknya Keval buat marah.

“Tante kamu namanya Herdin? Atau tante kamu transgender?”, tanya Keval sok serius. Aku udah ngerti maksudnya dan cuma bisa diam. Ngerasa bersalah. Tangan Keval sekarang ada di kepalaku, ngacak-ngacak rambut.

Anak cantik, kenapa harus bohong?”

“Takut kamu marah kalau aku jalan sama Herdin.

Enggak apa-apa.

Enggak apa-apa?”

Iya, enggak apa-apa. Paling aku marah.

Iiiiiiih!” Aku cubit perutnya Keval. Kita ketawa bareng lagi. Entah dia beneran marah atau enggak, aku selalu suka caranya ngingetin kalau aku salah. Akhirnya kita cuma bisa saling lempar senyum dan sadar ada pelajaran yang berharga dalam hubungan saat ini: kejujuran.

Aku enggak tahu gimana caranya harus nolak Herdin.

Keval kelihatan berpikir sejenak. Sok jenius. Seolah-olah sebentar lagi ia akan menelurkan ide yang brilian. Apa yang ada di pikiran Keval memang selalu sulit ditebak.

Aku tahu gimana caranya, mau aku ajarin?”, kata Keval sumringah.

Gimana?” Mungkin aku kelihatan antusias lebih dari apapun.

Kalau kamu jalan sama dia, di tengah jalan kamu bilang: Herdin, aku harus pulang, aku ee di celana”. Keval langsung kabur dan seketika kita kejar-kejaran. Kayak film India 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s