100 Episode Bersama Keval – 6

Keval pernah ditolak cewek waktu SD. Cewek itu namanya Vivian. Aku berani sumpah, cewek itu pasti nyesel seumur hidupnya pernah enggak nerima Keval jadi pacarnya, tapi kalau Vivian nyeselnya sekarang dan balik ngejar Keval, aku yang repot juga.

Keval pernah cerita tentang Vivian. Keval bilang anaknya manis, kelihatan paling dewasa di antara temen-temen lainnya waktu SD. Pastinya, definisi dewasa versi Keval bukan anak pakai setelan mbak-mbak sosialita jelita, tapi minimal enggak pernah tampak cengeng depan umum dan enggak alay. Buktinya enggak mau diajak pacaran. Soalnya jujur aku suka geli sendiri liat anak SD udah pacar-pacaran, yang kadang menurutku agak alay.

Kenapa aku harus cerita soal Vivian? Jawabannya enggak lain adalah karena cewek ini hampir bikin aku putus sama Keval. Bukan gara-gara dia juga sih, tapi gara-gara cemburu menguras hati galau kini menyiksa diri. Waktu Vivian alias Vivi ngabarin Keval via Facebook, Keval girang betulan. Waktu Vivi ngajak reuni SD, Keval semangat 45 buat ikutan. Waktu Vivi ngajak ketemu, Keval mengiyakan tanpa mikir panjang.

Aku enggak ngehubungin Keval sejak H-3 tanggal pertemuannya sama cewek itu. Emang sih, sebelumnya Keval udah cerita mau ketemu dia. Demi apapun, mana rela aku biarin Keval ketemuan sama cewek yang pernah dia suka. Kalau jadi baper dan rasa yang dulu bersemi kembali gimana? Meskipun aku diajak, aku tetep enggak mau ikut. Berharap Keval batalin aja janjinya.

Aku udah lima tahun enggak ketemu Vivi dan dia udah lima tahun enggak ketemu aku, jadi kamu tahu artinya? Kita udah enggak ketemu sepuluh tahun”, kata Keval waktu minta izin untuk tetep jemput Vivi di stasiun Bandung dan jalan ke suatu tempat. Waktu itu yang aku tahu Vivi berangkat dari Jakarta karena emang sekolah di sana, sedangkan selama SMP dia di Malaysia.

Demi kemaslahatan umat dan menghilangkan kesalahpahaman antar negara, kamu ikut aku aja, yuk”. Aku menolak tawaran Keval abis-abisan bahkan sampai ngancam putus kalau dia tetep ketemu Vivian. Pokoknya, aku bener-bener enggak terima kalau sampai mereka jalan bareng berdua. Walaupun katanya Vivi ngusahain enggak dateng sendiri, tetep aja aku waswas. Pokoknya pertemuan mereka harus batal.

H-1 menjelang pertemuan mereka, aku tetep enggak berhasil bikin Keval mutusin untuk enggak jadi ketemu Vivian. Aku capek marah-marah terus. Keval bener-bener keterlaluan. Jadi, kalau kalian anggap kisah aku dan Keval selalu manis kayak martabak rasa cokelat, enggak juga. Kadang-kadang martabak bisa juga gosong.

Hari di mana aku nangis seharian di kamar adalah hari pada saat Keval dan Vivian janjian untuk ketemu. Enggak pernah kebayang kalau akhir hubungan aku dan Keval akan jadi kayak gini. Romansa cinta SMA kalah sama kisah-kisah unyu waktu SD. Seriusan enggak rela!

Tiba-tiba waktu itu Keval jemput ke rumah, sendirian. Dia mau ngajak aku ketemu Vivian. Makin lemes rasanya tahu mereka udah ketemu. “Vivi mau ketemu kamu”, katanya sambil masang ekspresi kaget karena tahu pacarnya enggak baik-baik aja. Dasar makhluk yang kadang-kadang paling enggak peka. Dengan kantung mata ngejendol kayak abis diserang nyamuk sekampung, akhirnya aku ngikutin dia.

Vivian ngenalin dirinya. Anaknya hitam manis pakai kacamata. Enggak kebayang sih rupanya dia waktu SD kayak gimana, tapi yang jelas perasaan takut Keval naksir lagi selalu ada. Waktu Vivi akrab ngajak ngobrol, atas nama pacarnya Keval aku ladenin pembicaraannya. Padahal aslinya sih males banget, namanya juga lagi cemburu.

Kamu tahu enggak kenapa aku mau ketemu Keval?”, tanya Vivi sambil lirik-lirik Keval yang lagi nyeruput jus jeruk. “Karena kalian saling kangen? Atau mau CLBK?”, jawabku sambil agak sinis. Vivian melotot. Mungkin jus jeruk juga mau nyembur seketika dari mulutnya Keval. Pasti mereka enggak nyangka jawaban yang aku keluarin bakalan se-mengerikan itu.

Keval bilang dia mau edit pernyataan dia waktu SD yang bilang aku cewek paling top di dunia, katanya udah ada yang ngalahin aku, ya pacarnya. Dia keukeuh banget mau nunjukkin pacarnya ke aku. Katanya demi itu dia rela jadi ketua pelaksana reunian SD yang padahal pasti repot banget. Ya, aku ikutin aja deh walaupun kudu nekat dari rumah ke luar kota”. Keval keselek waktu Vivi ngomong kayak gitu. Percaya enggak percaya, aku jadi agak senyum-senyum sendiri.

Vi, perjanjiannya kamu enggak boleh bocorin itu!”, kata Keval sambil melotot. Vivian ketawa. Ternyata anak ini emang manis, aku bisa lihat waktu udah enggak begitu sebel sama dia. “Perjanjiannya kita bakal ketemu kalau kamu ajak Aldi, kenyataannya? Enggak ada”, Vivi balik manyun. Oh, ternyata Vivian suka sama Aldi. Aku tahu Aldi, dia temen Keval sejak SD dan pernah sekelas sama aku waktu kelas 1 SMA.

Sejak saat itu, aku enggak jadi benci sama Vivian. Meskipun pernah ada sesuatu antara dia dan Keval, tapi itu kan dulu. Keval ya sama aku sekarang, eh kemarin sebelum putus maksudnya. Meskipun aku dan Keval udahan, aku tetep akrab sama Vivian bahkan sempet curhat kalau aku udah enggak sama Keval lagi. Dia cuma ngerespon “Enggak tahu deh, dari dulu aku enggak ngerti dia”.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s