100 Episode Bersama Keval – 4

Layar ponsel enggak berhenti kedap-kedip. Pesan dari satu per satu anggota Geng Cantik muncul via aplikasi chatting yang banyak dipakai orang kekinian. Aku masih sibuk beresin barang untuk dibawa ke lapangan futsal. Aku bukan pemain. Bukan juga pemandu sorak. Sibuk dandan nyiapin ini itu cuma untuk nonton Keval main dari pinggir lapangan. Emangnya ada aturan enggak boleh ngedukung mantan?

Aku baca pesan dari Dinda lebih dulu. ‘Loh, kok?’ Cuma itu yang ada di benakku saat itu. Aku baca pesan-pesan dari Geng Cantik yang lain. Tari, Angel, sama Maharani alias Maha satu suara sama Dinda. Mereka sama-sama ngelarang aku dateng ke lapangan. Ada apa, nih?

Enggak asik di sini, kita juga udah mau cabut, kok’, kata Angel waktu aku telpon dia. Kenapa jadi pada aneh gini? Padahal awalnya, merekalah orang yang paling semangat membara ngajak aku nonton pertandingan futsal antara kelasku lawan kelasnya Keval.

Geng Cantik akhirnya ngajak aku ketemuan di sebuah kafe yang enggak jauh tempatnya dari lokasi futsal. Kemudian aku….. memutuskan untuk enggak nurut. Dengan bekal penasaran, sebelum memenuhi panggilan Geng Cantik, aku mampir ke tempat futsal lebih dulu.

Baru juga nyampe parkiran, udah ada sembilan kali panggilan tidak terjawab dari Maha. Biar, ah. Mereka juga enggak mau cerita kenapa tiba-tiba mereka berubah dari yang ngerusuh biar aku cepet nyampe tempat ini, trus sekarang ngelarang gitu aja.

Sendirian?”, tanya Anto, salah satu pemain futsal kelasku. Belum sempat ngerespon Anto, pemandangan enggak enak langsung terlihat dari tempat anak-anak kelasnya Keval, dari seberang tempatku berdiri.

Keval ke luar lapangan. Seorang cewek berseragam putih abu dengan sweater rajutan warna pink tiba-tiba nyamperin dia dan ngasih sebotol air. Aku enggak kenal cewek itu. Mungkin dia adik kelas, mungkin juga beda sekolahan. Satu hal yang pasti, orang-orang di sana langsung nyorakin waktu adegan Keval dan cewek itu saling lempar senyum.

Pacar baru Keval?”, tanya Tuti disebelahku. Telinga rasanya panas. Aku cuma ngangkat bahu. Dada tiba-tiba rasanya penuh. Kerasa tiba-tiba ada yang masukkin bola basket ke tenggorokan, sesek banget. Aku langsung buka tas, botol minuman yang rencananya bakal dikasih ke Keval seusai pertandingan langsung berubah alamat ke tim futsal kelas. Beberapa detik kemudian aku langsung ngeluyur pergi.

Baru juga dateng kok udah mau pergi?”, tanya anak-anak waktu aku pamit. Mungkin sebagian dari mereka udah peka tapi basa-basi aja. “Nyusul anak-anak”, jawabku spontan. Tanpa ngejelasin anak-anak yang mana, pikiran mereka pasti ngelayang ke frekuensi yang sama.

Ya, Geng Cantik! Aku harus ketemu mereka secepatnya.

Advertisements

2 thoughts on “100 Episode Bersama Keval – 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s