Rahasia Aku dan Kakak

Terik mentari di siang bolong menggigit kulit wajahku saat aku menengadahkannya ke langit. Terngiang di telingaku kata-kata ibu bahwa aku tidak boleh panas-panasan, kecuali jika ingin kulitku jadi gosong seperti Mas Wik. Meski aku masih kecil, ibu tidak pernah capek mengingatkanku untuk bisa merawat badan sendiri agar kelak bisa secantik kakak perempuanku, Kak Arini. Tapi justru kakakku yang cantik itulah alasanku untuk  tetap berdiri di sini, menantang matahari.

Motor yang dikendarai teman laki-laki Kak Arini berhenti di depanku. Tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, ia langsung memacu laju motornya begitu Kakak  sudah tak lagi menduduki jok motornya. “Putri nunggu lama, ya?” ujar Kakak sambil membelai rambutku. Sorot matanya yang mesra menerobos mataku, memaksaku untuk mengangguk perlahan. “Duh, maaf ya. Karena Kakak udah bikin Putri nunggu, ini ada coklat buat Putri.”

Kakak lalu mengeluarkan barang yang dimaksud dari dalam tasnya sambil tersenyum lembut. Hmm…. Tidak sia-sia aku menunggu kepulangannya dari sekolah. Kami kemudian berjalan bersama menuju rumah, kira-kira jaraknya seratus meter dari muka gang tempatku menunggunya pulang setiap hari.

Akhir-akhir ini Kakak memang banyak berubah. Ia jadi begitu baik. Padahal biasanya ia judes dan galak setengah mati. Kalau kami beradu pandang, rasanya aku seperti akan diterkam. Kalau aku merengek-rengek minta sesuatu pada ibu, Kakak akan dengan semangat 45 menentangnya. Ia selalu menghasut ibu untuk tidak mengabulkan keinginanku, katanya anak bungsu jangan dimanja. Namun sejak hari itu, hari yang aku tidak tahu persis ada kejadian apa, ialah yang justru jadi  memanjakanku. Kak Arini seperti kemasukan malaikat baik hati dan malaikat itu belum keluar dari dirinya sampai hari ini.

“Dengan siapa kamu pulang?” tanya Mas Wik sambil mengelap motornya di beranda rumah, siap-siap untuk berangkat kerja. Aku dan Kakak menghentikan langkah di depan pintu.

“Tadi dengan Lina, Mas. Naik angkot.” Suara Kakak terdengar parau. Tarikan napasnya tersendat-sendat. Aku tidak mengerti mengapa Kakak harus berbohong. Nah, yang kuamati dari perubahan-perubahannya akhir-akhir ini, Kakak tidak hanya jadi sangat penyayang padaku, ia juga jadi sering membohongi Mas Wik.

Pisang goreng hangat sudah tersedia di atas meja makan. Belum lima menit ibu menaruhnya untuk sarapan, separuh sudah habis dimakan Mas Wik. “Minggu ini kerja lembur, Bu. Dari pagi sampai malam, maaf enggak akan sempat bantu-bantu.” Ujar Mas Wik sambil tetap melahapnya. Ibu hanya tersenyum. Mas Wik, anak tertua di keluarga kami memang pekerja keras. Meski ia baru tamat SMA dua tahun lalu, ia tidak gengsi untuk bekerja di pabrik demi memenuhi kebutuhan kami. Karena Ayah sudah tiada.

“Hari ini di sekolah ada kegiatan tambahan, Rin? Kalau tidak kamu bisa bantu-bantu Ibu di warung.” Tambah Mas Wik. Kak Arini memandangi kami sambil mencuil pisang goreng bagiannya.

“Arin enggak janji, Mas. Arin ada…” gumam Kak Arini.

“Ada janji dengan laki-laki anak bengkel itu lagi?” potong Mas Wik sambil menggebrak meja sebelum Kakak menyelesaikan ucapannya.

“Wika!” Tukas Ibu dengan nada memperingatkan. Suasana meja makan mendadak hening. “Kalau Kakak pulang terlambat, biar Putri yang bantu Ibu.” Desisku mencoba mencairkan perdebatan sengit di atmosfer keluarga kami. Biasanya ucapanku akan lebih diperhatikan.

Mas Wik tersenyum padaku kemudian menghela napas dan tetap menatap tajam Kak Arini. “Kalau tidak ada kegiatan yang penting, kamu langsung pulang. Bantu Ibu di warung. Jangan main dengan laki-laki enggak jelas. Kalau dia sudah main-main tau rasa kamu!”

“Seno anak baik, Mas! Jangan asal bicara! Bu, Arin berangkat.” Kak Arini menjauhkan diri dari meja makan dan langsung menyalami ibu. Tanpa menoleh ke arahku sama sekali. Tapi aku sempat menatap matanya, ia memandangi Mas Wik tak suka.

“Wik, bicaralah lebih pelan sedikit pada adikmu. Ibu tidak mau dia kenapa-kenapa.” Desah Ibu sepeninggal Kakak. Mas Wik meletakkan kepalan tangannya di atas meja dan tampak berpikir keras. “Dari dulu aku memnag tidak pernah suka sama laki-laki itu, Bu.” Mas Wik meninggalkan meja makan, bergegas keluar rumah menuju sepeda motornya untuk pergi bekerja. Tidak lama terdengar suara mesin motor menderu.

“Putri main ke rumah Nanda ya, Bu.” Ujarku sambil mencium tangan kurus Ibu.

Brak! Terdengar suara pintu dibanting. Aku mengintip dari balik celah pintu kamar, Kak Arini datang dengan seorang temannya yang sama-sama masih mengenakan seragam sekolah.

“Aku tidak mau tahu, kamu harus tanggung jawab, Adit!” ujar Kakak sambil menangis, tapi suaranya pelan. Teman kakak meninju dinding. Ia kemudian mendorong Kakak sampai tersungkur ke lantai. “Sekarang kamu pacar orang lain, minta pacarmu itu yang tanggung jawab!” balas teman Kakak itu. Kalau ada ibu, pasti orang itu sudah disiram karena berani-beraninya membentak Kakak.

“Tapi cuma dengan kamu aku melakukannya!” Kak Arini bangkit lagi sambil balik membentak. Teman kakak diam saja, tapi mukanya menahan marah. “Aku hamil dan kamu harus tanggungjawab. Kalau aku dikeluarkan dari sekolah, kamu juga harus mengalami hal yang sama. Kita harus menikah!”

Teman kakak mengambil vas bunga dari meja. Aku langsung cepat-cepat keluar dari kamar. Keduanya nampak kaget saat melihatku kini berada di depan mereka berdua. Sebenarnya aku tidak peduli apa yang sedang mereka bicarakan, aku hanya tidak mau kakakku dilukai.

“Putri enggak ikut ibu jenguk Bu RT ke rumah sakit?” Tanya Kak Arini sambil memelukku. Pandangannya was-was. “Putri enggak mau. Putri tahu Kakak akan pulang cepat jadi Putri nunggu di rumah—“, tanpa menungguku selesai bicara, Kakak langsung kembali bertanya. “Apa Mas Wik ada di rumah?” tanyanya kembali dengan mata ditujukan ke segala arah. Aku menggeleng karena memang Mas Wik bilang hari ini akan kerja dan pulang malam. Kakak terlihat lega. Tanpa pamit, teman kakak itu kemudian meninggalkan kami berdua.

Sejak itulah kira-kira Kakak menjadi sangat menyenangkan untukku. Jika ibu atau Mas Wik menyalahkanku, ia akan membelaku mati-matian. Kak Arini juga akhir-akhir ini sering sekali mengatakan bahwa ia sayang sekali padaku. Pokoknya ia jadi berubah 180 derajat.

Kakak juga mengajakku dalam suatu permainan untuk menyelesaikan suatu misi. Aku dan Kak Arini menyebut permainan ini “rahasia aku dan kakak”. Dalam permainan ini, aku dan kakak harus menjaga rahasia satu sama lain. Kami bisa saling menjahili dan saling memerintah dengan ancaman rahasia akan dibocorkan. Benar-benar asyik pokoknya karena kejahilan kami sering membuat kami tertawa.

Aku pernah mencorat-coret muka Kakak menggunakan spidol kemudian menyuruhnya pergi ke warung. Kakak juga pernah melakukan hal yang tak kalah menggelikannya padaku. Kami melakukan hal ini agar rahasia kami tidak dibocorkan pada orang lain. Meskipun sebenarnya rahasia yang kusimpan tidak terlalu penting—hanya pernah menumpahkan minyak rambut Mas Wik dan tidak bilang-bilang—tapi aku sangat menikmati permainan ini. Sedangkan kakak, memintaku untuk tidak menceritakan kejadian tempo hari pada siapapun. Aku harus menjaga rahasia atas apa yang kudengar dan apa yang terjadi pada Kakak. Kata Kakak, permainan ini akan berakhir sesuai dengan kesepakatan.

Suatu hari, setelah adzan subuh berkumandang, aku mendengar suara sirine mobil ambulans begitu keras. Tidak lama kemudian aku melihat Kak Arini dengan celana bersimbah darah diangkut ke dalamnya. Kak Arini tidak bergerak. Ibu menangis kencang. Mas Wik juga keliatan panik. Aku yang terbangun dari tidur mungkin nampak tenang-tenang saja.

Selama dua hari Kakak dirawat di rumah sakit. Selama dua hari itu pulalah aku jadi sering mendengar kata ‘aborsih’ atau ‘aborsis’ atau apapun yang memang aku tidak jelas mendengarnya apalagi mengetahui artinya. Aku mendengarnya dari tetangga-tetangga saat aku dan ibu lewat di depan mereka. Beberapa dari mereka menunjukkan rasa kasihannya.

Kakak ternyata tidak bisa bertahan lama di rumah sakit. Ia meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Ibu tidak mau memberitahu kenapa Kakak meninggal, ia hanya bilang bahwa Kakak sakit. Awalnya, aku menangis meraung-raung saat mengetahui aku tidak bisa bertemu kakak lagi. Apalagi saat aku melihatnya dikubur. Kakak benar-benar sudah pergi.

Meski begitu, aku tidak pernah menganggapnya sudah  tidak ada lagi. Aku sangat menyayanginya. Selamanya ia akan tetap ada di sisiku. Sekarang, aku tahu apa yang akan kulakukan. Aku tetap akan menjaga rahasia Kakak. Tidak ada kesepakatan bahwa permainan telah berakhir meskipun Kakak sudah tiada.

Seminggu setelah Kakak pergi, Mas Wik ditangkap polisi karena sudah menghajar temannya sampai sekarat. Orang-orang sering membicarakan bahwa teman Mas Wik itu bekerja di bengkel dekat rumah kami. Entah apa yang bisa kulakukan. Kasihan ibu.***

Advertisements

One thought on “Rahasia Aku dan Kakak

  1. Hei, aku tak punya apa pun untuk disampaikan, sejujurnya. Aku pun belum membaca habis fiksimu ini. Maafkan aku. Tapi senang rasanya melihat blogmu menerbitkan satu tulisan baru. Keep up the good work. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s