Bulan Juni Riani

Aku tidak mengerti kenapa orang mudah sekali menyakiti orang lain, meninggalkan, dan mengakhiri hubungan yang sudah dijalani. Mengabaikan janji yang telah dibuat dan menemukan dengan cepat cara untuk berpaling. Mengapa mereka menganggap remeh yang disebut perpisahan.

Move on, Riani! Kalau orang yang kamu tunggu memang sayang sama kamu, dia enggak akan biarkan kamu nunggu lama-lama. Ucap  Rangga, teman kerjaku yang kukenal sejak kuliah. Dia terus memberondongiku dengan nasihat bahkan hingga di meja makan.

Kalau dia jodohku dan memang aku harus nunggu, kenapa aku harus move on? Lagi pula aku belum bisa lupa sama dia. Dia enggak ada gantinya.” Jawaban yang sama berkali-kali didapatkannya. Rangga membuang napas pasrah sambil mengaduk-aduk secangkir cappuccino dengan tidak karuan. “Kamu rewel seperti anak kecil. Resikonya sih jomblo seumur hidup, umur habis dipakai nunggu cowok yang enggak jelas rimbanya di mana. Enggak pasti bakal kembali sama kamu.

Rangga!” Bentak Elsa sambil menggebrak meja. Seisi restoran memandangi kami dalam se per sekian detik. Rangga, yang bajunya terkena cipratan cappuccino akibat gebrakan meja memandangi Elsa dengan tatapan kesal. Wajah putihnya merah padam.

Kamu enggak ngerti masalahnya. Jadi diam saja!” umpat Elsa dingin. Aku tahu gadis yang bulan depan akan menikah ini sedang membelaku. Sebenarnya kejadian seperti ini tidak terjadi sekali dua kali. Selalu ada perselisihan antara Elsa dan Rangga setiap kali membicarakan status lajangku yang sudah hampir enam tahun. Selalu ada percekcokan seusai Rangga dengan semangat 45 menyuruhku untuk cepat-cepat menyusul pernikahan teman-temannya.

Kamu enggak peduli dengan Riani? Dengan kondisinya yang kayak gitu terus. Kapan dia mau maju kalau otak dan hatinya ketinggalan di masa lalu?” Timpal Rangga dengan raut muka serius. Dia seperti pengacara bayaran yang sedang mati-matian menyelamatkanku di pengadilan.

Dia enggak menikah pun buatku enggak masalah, kalau memang dia enggak mau menikah. Lagi pula Riani yang lebih tahu tentang seharusnya bagaimana. Biarkan dia merdeka dengan pilihannya sendiri. Terlalu peduli bukan berarti kita harus ikut campur dalam kehidupan pribadinya. Rangga, dia udah dewasa. Bener kan aku ngomong, Ri?” Elsa menatapku nanar.

Rangga memandangiku dan Elsa bergantian. “Riani, ngomong!” Elsa mengguncangkan tubuhku. Mulutku masih terus membungkam. Hanya mata ini yang sanggup sesekali membalas tatapan orang yang  katanya mengagumiku sejak ospek universitas itu. Rangga itu baik, bahkan dia terlalu repot-repot memikirkan aku. Dia juga tampan, tidak kalah dengan pacarku dulu. Tapi kenapa aku masih belum bisa membuka hati untuknya? Juga untuk siapapun.

Aku minta maaf, Ri. Aku hanya enggak mau kamu terus-terusan kayak gini dalam waktu lama. Udah bukan saatnya.” Ujarnya perlahan. Aku hanya bisa melemparkan senyum. Masih ragu kata apakah kata yang tepat untuk diluncurkan tenggorokan. Kuambil sehelai kertas tisu dan mengelap kemejanya yang kotor karena percikan berwarna coklat. Mengurangi kesalah-tingkahan.

Basi! Dua jam kemudian juga Rangga bakal ngomong, kamu harus cepet nikah sama aku, Riani.” Celoteh Elsa membuat kami tertawa.  “Enggak se-blak-blakan itu juga.” Balas Rangga sambil mendorong kepala Elsa dengan telunjuknya.

Mau blak-blakan atau engga, dia tetep susah moving on tuh.” Ledek Elsa kembali sambil menyikutku. Suasana kembali hening. Rangga kemudian berdiri sambil merapikan pakainnya. “Kalau dia udah berpaling, kita bikin syukuran besar-besaran. Aku duluan ya, masih ada kerjaan.” Ia kemudian benar-benar meninggalkan kami. Kami memerhatikannya hingga keluar dari pintu.

Ri, kenapa sih kamu enggak pernah ceritain soal Faisal ke Rangga? Bahkan kamu minta semua orang jadiin ini rahasia”. Elsa menatapku dengan pandangan menyelidik. Dia sahabatku sejak dulu, sejak SMA. Maka dialah salah satu orang yang paling tahu tentang perjalananku selama ini. Perjalanan cinta.

Riani, meski Rangga enggak tahu apa-apa. Sedikitnya, kata-kata dia selalu benar. Kamu enggak coba untuk membuka hati? Kamu udah menghabiskan waktu lama. Kapan kamu akan berhenti? Faisal enggak mungkin balik lagi sama kamu. See?” Elsa memegang kedua tanganku. Memandang iba air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Pipiku menghangat.

Aku memeluknya erat-erat. Rasa kehilangan yang ingin kuhapus sejak enam tahun lalu itu singgah lagi.

            Jarak yang paling jauh keberadaannya sekaligus yang tidak akan pernah mungkin kita temui adalah masa lalu. Ini bukan pertama kalinya aku merenungkan bahwa semuanya telah pergi. Masa lalu telah jauh meninggalkan. Begitupun orang yang kucintai, tidak akan pernah kembali lagi.

Aku tidak pernah menyangka rasa sakit yang kubiarkan mengendap selama bertahun-tahun ini seolah tak ada penawarnya. Penantian yang tiada ujungnya. Lagi pula siapa orang yang aku nantikan? Orang yang tidak pernah lagi kulihat batang hidungnya, tidak lagi kudengar gelak tawa dan suara menenangkannya, tidak lagi bisa kucium aroma parfumnya. Enam tahun lalu, tanpa menyakitiku, dia pergi. Sudah enam tahun hal itu berlalu, rasa sakitnya masih tetap sama.

Pak Sardi, guru matematika untuk pengayaan ujian nasional menutup pertemuan kelas kemudian pergi. Ini memang sudah waktunya istirahat. Aku dan teman-temanku memilih untuk tidak beranjak. Kami lebih suka menghabiskan waktu untuk mengobrol di dalam kelas, membicarakan masa depan setelah kami lulus SMA. Sebentar lagi.

Ponselku bergetar. Ada sms dari Faisal, pacarku. Kami jadian dua tahun yang lalu. Saat itu kelas kami berseberangan dan dia menembakku di pinggir lapangan basket. Sampai sekarang hubungan kami baik-baik saja. Sempat nyaris putus karena aku cemburu pada mantannya yang sekelas dengannya, tapi dia berhasil mempertahanku, dan sekarang ia sudah berdiri di depan pintu kelas untuk menemuiku.

Aku kangen kamu.” Kata Faisal sambil mengacak-acak rambutku. Aku mengangkat sebelah alis. Dia tampak aneh. “Tadi kan kita berangkat bareng.” Timpalku kemudian. Dia hanya tersenyum. Ah, aku suka senyumnya.

Hari ini tanggal berapa?” ujarnya kembali. Kali ini kami sedang menyusuri koridor kelas, menuju ke lapangan basket. “Sembilan belas. Kenapa?” Faisal tak merespon jawabanku. Tubuhnya yang tinggi terus melangkah  tenang dengan tatapan mata lurus ke depan. Ia kemudian mengajakku duduk di pinggiran lapangan basket. Di sinilah dulu aku duduk menontonnya memasukkan bola ke dalam ring, setelah itu dia mengungkapkan perasaannya.

Dia kembali menatapku dengan serius kemudian tersenyum. “Tanggal jadian kita masih lama, ya.” Dia kemudian terkekeh melihat dahiku mengkerut karena bingung. Faisal mengenggam tanganku namun cepat-cepat kulepaskan. Aku takut murid-murid lain apalagi guru ada yang melihat. Faisal tertawa kecil melihatku salah tingkah.

Meski hari ini bukan tanggal jadian kita. Boleh enggak aku bikin hari ini spesial buat kamu? Hari yang bisa bikin kamu enggak bisa lupain aku. Nanti siang, kamu enggak boleh pulang kalau enggak sama aku.” Bisiknya kembali. Aku tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajah. Meski tidak menjawab, dia pasti mengerti apa yang ingin kukatakan.

Aku sayang sama kamu.” Desahku pelan.

Apa?”

Enggak ada siaran ulang.

“Oh, aku juga sayang sama kamu.” Ujarnya santai. Darah di dalam tubuhku berdesir begitu cepat. “Apa? Coba ulangi, enggak kedengeran.” Ujarku sambil terkekeh. Ia menatapku lekat, mendekatkan wajahnya ke telingaku, kemudian membisikkan sesuatu. “Dasar budek.” Aku kemudian manyun. Kupukul ringan punggungnya, ia pun berlari dengan tawa berderai di pipinya.

            Elsa memesan dua cangkir cokelat panas di restoran yang biasa kami kunjungi. Aku diam saja. Mataku menerawang ke luar jendela kaca yang lebar. Elsa memerhatikanku dengan detail. Sejenak ia ikut-ikutan membungkam mulutnya. Mungkin ia berharap akulah yang akan mengawali percakapan di antara kami.

Ini udah terlalu lama, Ri. Kamu enggak bisa kayak gini terus. Aku emang enggak pernah ngerasain gimana sakitnya jadi kamu, tapi aku yakin kalau yang terbaik buat kamu itu ya bangkit dan mulai kehidupan baru sama orang yang baru.” Elsa berbicara dengan hati-hati. Aku menatapnya lekat. Elsa tak pernah bosan mengatakan hal itu dari tahun ke tahun meski aku sama sekali tak pernah menggubrisnya.

Aku tersenyum pasrah. “Seandainya aku bisa. Selama ini bukan aku enggak mau berusaha. Bahkan bukan aku belum nemuin orang yang tepat. Hanya aja aku enggak bisa. Rasanya sama aja kayak aku berkhianat. Aku sama Faisal enggak pernah putus. Hubungan kita enggak pernah berakhir. Kamu tahu itu. Dan ketika aku sama orang baru—

Faisal akan jauh lebih bahagia.” Elsa memotong ucapanku dengan sorot mata yang kembali  meyakinkan. Kubenamkan wajahku ke telapak tangan. Kali ini aku tidak bisa menangis lagi. “Riani, ada yang mencintai kamu sama seperti Faisal sayang sama kamu. Dan kamu tahu itu, kamu juga ngerasain itu. Dan aku yakin kamu punya perasaan yang sama. Dulu kamu sempat yakin dia itu punya takdir untuk jadi gantinya Faisal. Tapi kenapa kamu sekarang malah ragu lagi?”

Aku menghela napas. “Elsa, aku memang sayang sama Rangga. Semua orang mungkin tahu kalau aku pacarnya. Termasuk orangtuaku. Aku juga enggak pernah mau Rangga tahu soal Faisal biar aku bisa tentuin waktu yang tepat. Tapi aku belum bisa berbuat apa-apa untuk sekarang. Aku juga enggak mau terus-terusan gantungin dia. Tapi aku ngerasa berdosa sama Faisal. Dulu aku janji cuma mau menikah sama dia.”

Elsa terkekeh. “Riani, janji itu waktu kalian masih SMA. Kalaupun sekarang kalian masih bersama, belum tentu akhirnya kayak gitu. Mungkin jodoh kamu memang orang lain, Ri. Terima itu.” Ucapan Elsa lagi-lagi membakar telingaku. Dadaku sesak. Elsa tidak kembali berbicara, ia memberiku waktu untuk memikirkan kata-katanya.

Kamu tahu di mana harus menemui Faisal. Udah saatnya kamu lepasin dia, Riani. Kamu hanya perlu ngomong dan Faisal akan ngerti”.

            Rangga diam saja. Sesekali ia melirik ke arahku. Hari ini aku memang menjanjikan untuk menghabiskan waktu bersamanya, tapi mungkin bukan tempat ini yang diharapkannya. “Riani, kamu bilang kamu mau ngajak aku ketemu seseorang yang berarti buat kamu.” Ujarnya lembut. Entah mengapa akhir-akhir ini, Rangga jauh lebih bersikap lembut dibanding biasanya. Mungkin karena Elsa telah memberinya suatu kode.

Di depan kita belok kanan. Parkir di tempat yang seharusnya.” Rangga membalas ucapanku dengan senyum. Sesuai permintaan, Rangga berhasil memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang kutunjuk. Rangga menoleh ke kanan dan kiri, sesekali mengucek matanya karena tak percaya aku akan membawanya ke tempat ini. Dengan gestur yang kaku ia kemudian mengikuti langkahku. Sedangkan langkahku sendiri gontai, memikirkan apa yang akan dikatakan Faisal nanti padaku.

Kira-kira sampai kapan kamu bakalan bertahan sama aku?” Tanya Faisal setengah berteriak. Suaranya kalah ditelan angin. “Selamanya. Jangan nanya kayak gitu terus, enggak akan muncul di soal UN!” Protesku yang langsung dihadiahi gelak tawanya. Akhir-akhir ini dia sering sekali melontarkan pertanyaan seperti itu.

Deruman sepeda motor yang ditumpangi kami berhenti tepat di muka rumah. Faisal memandang sekeliling dan kemudian matanya fokus. Tatapannya menembus pandanganku. “Selamanya itu selama apa?” gumamnya. Kedua alisku bertaut. Ia bisa membaca kebingungan yang tergambar jelas di wajahku. “Selama aku dikasih kesempatan” ujarku kembali. “Selama aku hidup, aku kasih kamu kesempatan. Setelahnya, itu terserah kamu.” Ia kemudian mencium keningku.

Angin menamparku dengan telak, menyadarkan bahwa kali ini aku telah berdiri di hadapan Faisal. Kugenggam tangan Rangga erat. Sesekali kulirik dia yang nampak tidak baik-baik saja. “Kamu tidak perlu takut dan khawatir, Faisal itu orangnya baik. Katakan padanya kamu mencintaiku. Katakan padanya kita akan menikah. Katakan padanya… aku bahagia.” Bisikku dengan mata berkaca-kaca. Hati hancur berantakan. Rangga menggenggam tanganku semakin erat.

Pada hari Senin, hari ke-delapan di Bulan Juni yang cerah, Rangga melamarku di depan Faisal. Di depan nisannya.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s