Dan…

Ada rasa asing yang kutemukan saat jarak kita semakin dekat. Tatapan yang berbeda, yang tidak ada pada sahabatku itu sebelumnya. Sebelumnya, memang tidak pernah ada apa-apa. Kami ya kami, sama seperti bagaimana kami dipandang semua orang. Tapi kali ini aku merasakan ada sekat tebal di antara kita berdua. Aku tidak menyebutnya itu cinta. Karena mustahil cinta ada pada orang lain yang telah saling dimiliki oleh orang lain. Mungkin untukku itu masih bisa terjadi. Tapi baginya? Orang yang benar-benar terlihat mencintai kekasihnya, padahal selama ini aku tahu ia banyak disakiti. Atau aku saja yang terlalu banyak peduli.

Kami itu beda. Isi otak jarang-jarang sejalan. Tapi ternyata ketika aku tahu bahwa ia mencoba menyelami duniaku saat mendengarkan cerita, dia adalah orang yang paling memahami, dan yang kutahu sesuai apa yang ia katakan, ia hanya menceritakan segalanya kepadaku. Hanya aku yang tau. Tapi sekarang ada hal yang membuat aku dan dia berjarak. Aku sempat merasa aku punya salah dan aku juga khawatir ia tak punya teman untuk berbagi lagi. Tuhan, tolong beri aku kesempatan.

Aku tidak tahu aku kenapa. Sungguh tidak paham. Segalanya terjadi begitu cepat. Dan aku mulai merasa bahwa dia bisa dijadikan kandidat orang yang selama ini aku inginkan, setelah pacarku. Setelah beberapa orang yang kebetulan dekat denganku. Yah, kedekatanku dengan orang lain pasti membuatnya tak suka.  Bukan cemburu, mana mungkin dia cemburu. Dia hanya tak suka karena mungkin aku seperti pacarnya, sudah punya pacar tapi masih dekat-dekat dengan yang lain. Mungkin dia membenciku tanpa alasan. Aku tidak tahu. Yang jelas aku masih menanti kapan waktunya aku bisa di bawah langit malam, terlibat percakapan, mata yang saling menatap, bibir yang saling bercerita, telinga yang saling mendengarkan. Tidak menutup kemungkinan aku tetap merindukan tawa kita di siang bolong.

Aku sahabatnya dan dia sahabatku. Kami bersahabat. Aku punya pacar dan ia punya pacar. Aku mencintai pacarku dan ia mencintai pacarnya. Di suatu siang di bulan Maret, tepatnya di escalator menuju lantai dua sebuah mall, kulihat dua orang yang kami cintai bergandengan tangan. Ia pun melihatnya dari seberang. Dengan napas tersengal, dengan kemarahan yang mengetuk-ngetuk sanubari minta diluapkan. Ada keributan yang terjadi beberapa saat setelah itu.

Sekarang, hipotesis ini hampir tak terbantahkan. Lama-lama ia semakin menjauh dan menjauh dariku. Menciptakan jarak dan kesenyapan di ruang obrolan yang biasa ramai dengan ha-ha-hi-hi. Kami masih sama-sama ingat ucapan dua orang yang sangat kami cintai. “Bukankah kalian yang selingkuh duluan?”***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s