Aku ingin sekali belajar epigrafi. Ingin sekali. Agar kelak jika aku telah menjadi ratu di kerajaan kita, aku bisa mengabadikan kisah kita dalam prasasti. Di peradaban lusa, cucu-cucu kita, para arkeolog muda kan melihat dan mengerti betapa neneknya sangat mencintai kakeknya. Mungkin hal serupa telah dipikirkan Dyah Pitaloka. Sebelum ia membawa takdir pada kebencian terpendam Sunda kepada Jawa. Cucu-cucunya yang telah dibayang-bayang bersama Hayam Wuruk, disayat kilatan pisau saat gelora Tegal Bubat terasa mencekam. Kisah cinta Dyah Pitaloka memang tidak berakhir bahagia, tapi aku cucunya, arkeolog muda, akan tetap belajar epigrafi untuk mencari jejak curahan hati nenekku yang mencintai cintanya.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s