Kepada Kamu dan Waktuku

Angin cemburu. Sisa terik mentari masih bermesraan dengan debu. Tidak ada yang disampaikan hujan sore ini. Tidak ada salam rindu. Angin menghembus pelan melalui sela jari-jari yang kubentangkan di hadapan muka. Aku sedang menghitung. Ini sudah minggu ke-lima.

“Hanya enam bulan lebih, Sayang.” Ucapmu waktu itu dengan nada sumringah. Tapi senyummu pahit. Pandanganmu gusar. Tidak berani menatap kamu, aku hanya bisa memandang lekat kaki-kakimu dan kedua kakiku yang berhadapan. Kaki kita akan melangkah pada tujuan hidup masing-masing dan suatu hari bertemu kembali untuk berjalan ke arah yang sama.

Angin mencubit kulit dengan mesra. Persis kamu. Kalau saja waktu bisa diputar ke masa di mana hari-hari belum berlalu, atau digelindingkan lebih cepat agar kita bisa bertemu. Aku rindu kamu. Tapi rasa ini sudah lama tenggelam di paru-paru. Yang ditimbun hanya sesak, gelisah, dan keputusasaan untuk tetap menunggu.

Angin menamparku dengan telak, cuaca mulai tidak bersahabat. Kututup jendela. Aku kemudian melihat kalender. Belum waktunya kamu pulang. Bahkan masih jauh hari di mana kamu dipastikan akan datang. Masih tersisa lebih dari seratus hari lagi. Tapi rasa kangen sudah sampai di puncak. Mau bagaimana lagi? Hanya kenangan di otak yang bisa memuncrat.

Sebelum kamu pamit kita sempat diam di sebuah taman. Menelan pembicaraan seputar masa depan. Aku dan mimpiku juga kamu dan mimpimu yang sebentar lagi akan diwujudkan. Mimpi kita sempat tak bisa disatukan. Maka dari itu bagi kita berdua, dibutuhkan mimpi yang baru yang mungkin baru akan dipikirkan setelah kamu pulang.

Ya, sebelum kamu pulang. Ada fase yang harus bisa aku lewatkan. Hubungan jarak jauh dan tanpa komunikasi. Bertahun-tahun ke belakang, berpisah dengan kamu untuk sementara ini tidak pernah dijadwalkan. Namun hidup ini dinamis. Kita selalu kalah telak dengan takdir Tuhan. Tapi kita bisa saling menguatkan. Aku mendoakanmu dari jauh.

Angin selalu menyapa dengan ramah ataupun beringas, mengingatkanku tidak ada lagi panggilan sayang. Tidak ada lagi SMS, BBM, mention dari akun twitter, atau bahkan pertanyaan-pertanyaan iseng yang menggoda yang kamu lontarkan lewat ask.fm. Hapeku sepi, hatiku sepi, dan hidupku tidak bisa dikatakan meriah. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan minggu-minggu ke belakang yang kulalui tanpamu, tapi itu tidak kunjung mengajarkan aku untuk berkawan dengan penantian.

                Sayang, leherku sakit. Kangen ini begitu mencekik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s