Sekeping hati buat Dara

Aku sudah berulang kali bilang padamu bahwa aku mencintaimu, Dara. Sayangnya kamu tidak pernah berusaha untuk peduli. Semakin aku mencoba untuk menguasai hatimu, semakin kencang kamu berlari. Sampai saatnya aku letih dan berhenti berharap, kamu masih tetap mengulas senyum kepalsuan dan teguh untuk memertahankan hubungan kita yang mengambang.

                “Kalau kamu masih mengharapkan Dion, mengapa kamu mempertahankan Johan, Ra?” ucap Radit kala itu dengan nada yang meninggi. Kamu hanya diam saja dengan bibir yang rapat. Kamu sama sekali tidak menyadari saat itu aku berada di balik dinding sambil membawa dua botol minuman untuk kita berdua. Aku tidak ingin menganggu pembicaraan dengan sahabat dekatmu itu.

                “Karena aku kasihan pada Johan yang sudah mati-matian berkorban demi aku, dan rasanya tidak mungkin ada kesempatan untuk kembali pada Dion.” Jawabmu singkat. Saat itu aku masih diam dan termenung di balik dinding, mencoba tetap tersenyum mendengar lontaran kata-kata pahit yang keluar dari bibir manismu. Sekali lagi, aku mencoba untuk sabar.

                “Lebih baik kamu putuskan saja Johan, Ra. Selanjutnya kamu tinggal berusaha untuk kembali pada Dion.” Radit berkata kembali. Telingaku makin terasa mendengung, sebenarnya aku ingin sekali pergi dari tempat itu, tapi kaki-kakiku kaku.

                “Hah? Memutuskan Johan? Kau gila? Kalau begitu aku egois, hanya mementingkan diri sendiri.”  Kamu sempat memprotes, Dara. Aku masih ingat betul. Aku masih bisa tersenyum meski hatiku sudah berlubang-lubang.

                “Memangnya dengan memberi Johan harapan palsu itu tidak egois?” Radit kembali menyemprotmu. Jika kamu ingin tahu, saat itu emosiku sudah memuncak dan menggelayut sampai di ubun-ubun terutama saat melihatmu menangis.

                “Aku tidak enak pada Johan, dia sudah begitu baik padaku.” Ujarmu menyuarakan kegalauan. Radit hanya menundukkan kepalanya. Sepertinya ia tidak mengerti apa yang kau resahkan. Kamu memang tidak pernah menyadari, hanya aku yang bisa mengerti kamu, Dara.

                “Terserah kamu sajalah, Ra. Aku hanya ngasih saran. Toh aku tidak akan terima untung ruginya.” Radit segera berlalu. Kamu masih menangis. Kamu menangis karena dilema. Aku mengerti, Dara. Aku mengerti.

                Aku menghampirimu selanjutnya. Ditanganku masih ada dua botol minuman yang suhunya menghangat. Aku muncul dari balik punggungmu dan kamu sangat kaget saat beradu pandang denganku. “Jo…Jo…Johan, se se sejak kapan kau a a ada di sini?” tanyamu kalut, sangat gagu.

                Aku hanya tersenyum. Kamu segera menyeka air mata dengan kedua tanganmu. Baguslah, aku tidak suka melihatmu menangis. “Apa yang Radit katakan?” tanyaku berpura-pura tidak tahu.

                Matamu tersentak. Kamu tidak mahir menyembunyikan sesuatu, Dara. Aku bisa melihat semua keganjalan yang tak biasa disorotkan mata indahmu. Sejenak kamu hanya diam. Mungkin aku bisa menerawang sedikit isi kepalamu, kamu sedang mencari-cari sebuah alibi atau strategi pengalihan pembicaraan, kan?

                “Radit hanya menanyakan kabar Nuri.” Ujarmu berbohong.

                Aku tidak ambil pusing dengan itu, Dara. Meski seharusnya kamu tahu bahwa aku terluka. Ini bukan kali pertamanya kamu berdusta. Aku hanya bisa diam dan berpura-pura memercayaimu. Aku memang selalu berusaha untuk percaya. Namun untuk saat ini, tidak mungkin aku meyakini sesuatu yang berbeda dengan yang kulihat di depan mata.

                “Kamu masih sayang Dion, ya?” Aku berpura-pura menebak dengan ekspresi usil. Tapi raut wajahmu menegang. Matamu terperangkap dan terlihat gundah. Kamu termenung lama dengan raut wajah cemas lalu melayangkan pandangan pada jam yang melingkar di pergelangan tanganmu.

                “Antarkan aku les sekarang ya, aku sudah terlambat.”

                “Apa? Memangnya Dara bilang apa?” Tanya Radit tetap berpura-pura tidak tahu. Mungkin ia hanya ingin menyembunyikan apa yang seharusnya tak aku tahu. “Dara masih sayang sama Dion kan, Dit?” tanyaku dengan tatapan menyeledik.

                Raditya menyerah.

                “Anu…anu… Kamu tanya Dara langsung saja.” Ujarnya kemudian. Terbata-bata. “Sudah, tapi dia enggak mau jawab.” Balasku. Radit masih memandangiku dengan tatapan kasihan. Sedikitnya aku tahu ia sedang merasa bersalah. Namun Dara juga sahabatnya.

                “Aku hanya ingin dia bahagia kok, Dit. Tidak masalah untuk pacaran dengan siapapun, kalau dia maunya Dion, apa boleh buat.” Ujarku saat itu, mengalah. Radit terdiam dengan anggukan palsu. Entah ia sadar atau tidak bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

                “Nanti aku bilang pada Dara.”

                “Apa yang mau kamu katakan?” sergahku, tak ingin ada kesalahan yang lebih membulat. Yang mempertebal ke-tidak nyambung-an hubungan kita. “Aku—“

                “Dit, nanti siang Ibu ngundang kamu ke acara akikah adekku.” Kamu tiba-tiba muncul dengan sinar mata yang redup seperti biasa, seperti biasa ketika bertemu denganku. Radit sekonyong-konyong hanya mengiyakan, aku tahu hatinya kembali tidak enak.

                Kamu kemudian hanya tersenyum dingin ke arahku dan kembali berjalan. Aku tahu itu bukan senyummu yang terbaik, bahkan belum setengahnya. Kamu memang sangat terpaksa. “Kamu bisa menangkap maksudnya, Han?” tanya Radit membuat lamunanku buyar.

                “Apa? Maksud apa?” tanyaku tidak mengerti. Radit kemudian menggeleng. “Enggak jadi.”

                Aku tersenyum. Lagi-lagi senyuman pahit yang hanya bisa kutunjukkan. Aku bisa menangkap maksud Radit tanpa ia harus melisankannya. Aku dan kamu memang sudah bukan seperti orang yang sedang pacaran, Ra.

                Tubuhku gemetar, Ra. Saat pertama kali kamu mau ngomong serius denganku. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya. Aku tidak tahu apakah ini degdegan ala orang jatuh cinta, ataukah perasaan takut kehilangan yang semakin menjadi-jadi.

                “Johan—“

                Saat kamu baru akan mulai bicara, Dion lewat di hadapan kita. Aku tahu bagaimana perasaannya jadi kamu, Ra. Tapi bisakah kamu pikirkan bagaimana rasanya menjadi aku?

                Dion hanya tersenyum, kamu balas tersenyum dan sedikit lupa bahwa aku juga sedang berdiri di sini menunggumu bicara. Lalu kamu tersadar saat Dion sudah berlalu sambil menggandeng lengan Windha, teman sekelasnya yang sekaligus menjadi pacarnya.

                Perih kan, Ra? Aku ingin membalut lukamu saat ini. Tapi sepertinya kamu lebih tak menginginkan aku dekat-dekat denganmu lagi. “Kita putus saja ya.” Ucapanmu yang lirih terdengar seperti geledek yang menyambar-nyambar.

                Aku berpura-pura tidak mendengar.

                “Johan, kita putus saja ya.” Kamu mengulangi kata-kata menyakitkan itu lagi. Aku lalu menatapmu dengan tatapan menusuk, kamu merasa takut dan menunduk. Tapi tenang saja, Dara. Aku tidak akan membunuhmu hanya karena patah hati kok.

                Setelah aku mengangguk setuju, kamu langsung berlari meninggalkanku. Tidak peduli bagaimana pisau-pisau belati sedang menghujam-hujam jantungku. Padahal aku ingin mengetahui langsung alasan dari mulut manismu, walaupun aku tahu kenyataannya pahit yang tersirat dibalik ini semua.

Aku ingin mengungkapkan semua kekacauan hati ini pada langit tapi tak mungkin ia dapat mendengarnya. Di sini, di hadapanku, hanya ada Radit yang masih menemaniku dalam diam. Senantiasa tetap berada di samping diriku yang sedang rapuh.

“Jadi? Kalian putus begitu saja? Ckckck… Tragis.” Komentar Radit dingin, entah mencoba bercanda atau hanya ledekan kecil. Aku terkekeh dan memandanginya lugu. “Johan.. Johan.. Kasian kamu.” Lanjutnya lagi.

Dia mengasihaniku, Ra. Tapi kamu tidak pernah terbesit rasa untuk mengasihaniku. Jangan! Jangan mengasihaniku, Ra! Toh yang aku inginkan hanyalah kamu bahagia walaupun bukan denganku. Meski pada kenyataannya bahagia itu akan jadi lebih nyata saat kamu bersamaku.

                Mengapa kau tak bisa mencintaiku, layaknya kau mencintai Dion tanpa batas yang sudah jelas tak memperdulikan cintamu, Ra? Mestinya kau sadar itu. Lihatlah aku disini, yang menunggumu untuk kamu cintai dengan tulus hati, aku mungkin bisa memilikimu, menjadikanmu kekasihku tapi aku tak bisa menguasai hatimu.

                Dara….Dara…. Rasa sakit itu menjadi lebih nyata saat seminggu kemudian aku mendengar kabar kau berpacaran dengan Radit. Semoga kamu bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s