Maling

“Tapi aku tidak mencurinya!” pekik Yanti untuk ke sekian kali. Shila dan yang lainnya masih memandanginya dengan tatapan menghakimi.  “Tidak ada maling yang mengaku, jujur saja pada kami. Di antara semua yang ada di sini, semua tanda mengarah padamu!” Brenda melisankan kekesalannya. Yanti membalas tatapan mereka dengan jengah.

                “Meski aku orang miskin, aku tidak pernah mencuri apapun terutama milik temanku.” Gumamnya dengan derai air mata mengalir di pipinya. Yanti terlalu rapuh untuk dapat mengelak, meski aku juga tahu ia bukan pencurinya.

                “Aku yakin dia yang mencuri handphone-ku karena dia yang pertama kali memasuki kelas setelah jam olahraga. Ya, kan, Ver?” tanya Shila menatapku yakin. Aku diam saja, berpura-pura abstain, tapi ia memaksaku untuk segera mengangguk.

                “Shila!” Yanti terus berusaha berupaya menyelamatkan diri, tapi otak Shila keburu mendidih dan ia tidak berniat untuk mendengarkan alibi-alibi yang keluar dari mulutnya. “Aku akan melaporkannya pada kepala sekolah jika kamu tidak mengaku juga, siap-siap dikeluarkan saja!” Shila segera berjalan memunggungi kami dan membanting pintu kelas keras-keras. Gerakan arogannya itu diikuti oleh Brenda dan yang lainnya.

                Yanti masih terisak di lantai. Aku tidak meninggalkanya. Ada sesuatu yang bergolak di dalam hatiku. Yanti menatapku penuh harap. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Lebih tepatnya, tidak ada yang mau kulakukan meski aku tahu Yanti tidak mencurinya. Terlalu berat untuk mengatakan yang sebenarnya.

                Aku tidak ingin semuanya tambah runyam. Oleh karena itu, sepulang sekolah aku mendatangi tempat tinggal Bang Yudha. Bang Yudha sudah cukup terkenal dalam hal menjual-beli ponsel “ilegal” termasuk ponsel Shila yang kucuri dari tasnya kemarin.

 Untung saja uang hasil penjualan ponsel Shila belum kugunakan. Aku tidak menyangka bahwa mereka akan semudah begitu menuduh Yanti. Meski seharusnya aku merasa senang karena tidak menjadi yang terduga sama sekali. Shila memang tidak akan menuduhku, karena aku dianggap sahabat baiknya. Uh, seandainya saja Shila tahu apa yang kulakukan, maka ia pasti tidak akan mau berteman denganku lagi.

“Eh, Neng Vera! Mau jual handphone lagi?” Bang Yudha menghampiriku. Aku menggeleng dan berbisik, ia mendekatkan kepalanya ke arahku. “Enggak, tapi Vera mau beli handphone yang kemarin Vera jual. Masih ada, kan?”

Bang Yudha diam sejenak lantas tertawa. “Oh itu sudah laku, Neng. Kemarin temen sekolahan Neng Vera kok yang beli. Anak cowok, kalau enggak salah namanya Putra.”

“Apa?!” Aku membelalakkan mataku. Tak percaya. Mungkin sebentar lagi mataku akan keluar demi menunjukkan keterkejutanku. Namun reaksi Bang Yudha datar-datar saja. “Iya, enggak lama  setelah Neng Vera pulang, dia datang, tapi dia enggak nanya kapan barang itu ada atau siapa yang jual, langsung dibeli saja dengan harga dua kali lipat.”

Aku menelan ludah. Asli, hidup sebagai pencuri benar-benar tidak membuat tenang. Dan aku menyesal, sangat menyesal. Terlebih semua ini merugikan orang-orang yang ada di sekelilingku. Terutama Yanti dan juga Shila.

Dan lagi mengapa harus Putra? Mampuslah aku!  Dia adalah murid tetangga kelas kami. Putra sudah sejak lama menyukaiku, namun aku selalu saja menolaknya. Bukannya ia tidak baik, Putra bahkan tampan dan juga kaya. Tapi aku tidak bisa menerimanya karena terkadang ia bandel juga. Namun alasan yang terpenting adalah Shila sangat menyukainya.

Dan sekarang Putra telah membeli handphone Shila! Itu tandanya ia memiliki barang bukti. Oh, bisa saja ia segera melaporkanku pada semuanya. Dan aku akan dikeluarkan sedangkan Shila dan yang lainnya bersujud-sujud meminta maaf pada Yanti. Aku tidak bisa membayangkan semuanya sekacau ini. Aku mengorbankan dosa hanya demi kepentingan pribadi.

Suasana Kota Bandung kali ini begitu dingin, namun tidak sanggup menyejukkan pikiranku yang sedang resah. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk memenuhi isi kepalaku. Aku benar-benar takut dan tak bisa membayangkan yang terjadi bila aku ketahuan mencuri.

                “Yanti, kamu masih mau sekolah di sini atau enggak? Ngaku deh!” Shila kembali menyemprotnya dengan tatapan meledak-ledak. Aku di belakangnya diam saja, berusaha menyembunyikan apa yang ada. Maafkan aku, Yanti! Aku tidak bermaksud mengorbankanmu, tapi aku juga tidak ingin semuanya tahu bahwa akulah malingnya. Karena jika begitu, tamatlah riwayatku.

                Seseorang tiba-tiba membuka pintu dengan kasar. Kami melihat ke arahnya dan darahku berdesir cepat. Orang berseragam sekolah yang sama dengan kami itu segera berjalan mendekat. Aku yang berdiri di belakang Shila dengan refleks mengatupkan bibir dan tubuhku gemetar. Sebentar lagi, benar-benar tamatlah riwayatku.

                Orang itu adalah Putra! Dan kini ia memandangiku dengan tatapan menyelidik, namun tidak berkata apa-apa. Demi Tuhan aku bersumpah, tidak akan pernah mencuri lagi. Semuanya benar-benar membuatku menyesal. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur.

 “Ada apa sih ribut-ribut?” ujarnya tenang. “Yanti telah mencuri handphone-ku tapi ia tak mau mengaku.” Jawab Shila dengan gelagat cari perhatian. Brenda dan kawan-kawan ikut menambahkan sedangkan Yanti diam saja.

“Maksudmu yang ini?” Putra mengulurkan tangannya dan menunjukkan sebuah ponsel dengan casing berwarna pink. Ya, itu dia ponsel Shila! Aku harus bersiap-siap, mungkin sejak kemarin Putra memantauku. Dan kini ia akan mengumumkan akulah malingnya.

Shila membatu. Ia dan yang lainnya memandang Yanti dengan tatapan merasa bersalah, namun Yanti tetap tidak berkomentar apa-apa. Putra melayangkan tatapan teduhnya ke arahku, namun aku hanya buang muka karena malu.

“Well, jangan menuduh sembarang orang. Aku yang menyembunyikannya kemarin. Maafkan kejahilanku ya!  Maaf juga Yanti, kamu jadi kena batunya. Dan untuk Vera, kamu mahir sekali berakting. Kamu tahu aku yang mengambilnya dan kamu bisa menjaga rahasia. Thanks!”

Oh, Putra benar-benar seperti malaikat. Meski tidak ada malaikat yang menyembunyikan sebuah kebohongan. Putra kemudian berbalik meninggalkan kami dengan tetap mempertahankan rasa percaya dirinya. Namun ketika matanya beradu pandang denganku, ia tersenyum arogan seolah melecehkan. Rasa takut, malu, dan tidak enak ini tak lantas berakhir saat terdengar suara Putra menutup pintu.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s