Signs: Chapter 4 – Oliver Sawn Part 5

3450837c5ee809e12e4f2897854b041e

Sejenak, Elle merasa kesal pada teman-temannya—kami. Dan ia merasa berjalan sendirian melewati pelataran toko-toko di jalan Sandalwood saat ini lebih menyenangkan. Terik matahari memanggang kulitnya yang pucat, ia lupa memakai sunblocknya, akhirnya ia hanya terus berusaha merekatkan jaket denim ke tubuhnya.

Tiba-tiba saja seorang laki-laki bertubuh tinggi yang mengenakan pakaian kaus panjang dan celana berwarna hitam menubruk dirinya hingga tubuhnya hampir ambruk. Elle ingin memakinya, namun ketika ia mengangkat wajahnya, Oliver tersenyum padanya.

Elle tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

“Hai.” Oliver memulai pembicaraan. “Sorry, kau sedang buru-buru, ya?” tanyanya kembali. Elle menggeleng cepat. Terburu-buru? Justru dengan melihat Oliver ia malah ingin berlama-lama dengannya.

“Tidak. Maaf aku berjalan tidak melihat ke depan.” Desah Elle, masih dengan perasaan tak karuan. Darahnya berdesir begitu cepat dan jantungnya berdetak tak beraturan. Oliver tertawa kecil, dan itu membuat Elle nyaris pingsan.

“Sepertinya aku pernah melihatmu. Kau teman Marry, kan?” Oliver memastikan, sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Elle hanya mengangguk dan tersenyum. Bibirnya terasa kelu, terkunci rapat. Otaknya seolah membeku.

“Apa kau sedang sibuk?” tanya Oliver kembali. “Tidak kok.” Elle sumringah. Kau harus tahu betapa merah wajahnya saat itu, seperti beef yang baru selesai diangkat dari panggangan.

“Kalau begitu, kau temani aku berjalan-jalan sekarang, ya? Dan jelaskan padaku mengenai Jacksonville. Aku berasal dari Hollywood barat, dan aku ingin mengenal kota ini lebih dalam. Nanti, aku akan mengantarmu pulang.”

Elle tak bisa menolak.

Hari sudah gelap, Mom dan Marry belum juga pulang. Dan aku benci ditinggal sendirian di rumah, sebenarnya aku tidak sendirian. Tapi eksistensi Jeremy lebih baik ditiadakan.

Jer  mengambil sebuah botol anggur dan ia mendekatiku. Duduk di dekatku. Apa yang akan dia lakukan?

“Apa itu?” tunjuknya ke layar kaca. Ini sulit untuk dipercaya. Ia tidak sedang dalam keadaan mabuk. Tapi mungkin lebih tepatnya akan mabuk. “Televisi.” Jawabku sesingkat-singkatnya. Semoga saja ia cepat menjauh.

“Memangnya aku ini hidup di jaman es? Aku tahu itu televisi! Apa yang sedang kau tonton?” ucapnya dengan nada meninggi. Sebenarnya tak ada yang kusaksikan dari TV, aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa ada aktivitas yang sedang kulakukan.

Aku melihat headline news. Oh, lagi-lagi….

“Jacksonville sedang diteror pembunuhan berantai. Tadi pagi baru saja ditemukan satu mayat anak perempuan di dekat bengkel keluarga Daley.” Ujarku. Kini Jer tampak memerhatikan TV dengan serius.

“Kalau begitu kau harus selalu berhati-hati, Claire.” Jer menyimpan botol anggurnya di atas meja. Ia tidak membukanya bahkan meminumnya. Dan entah mengapa kupikir Jer sedang nyambung untuk diajak bicara. Ternyata ia masih waras juga.

“Aku tidak percaya kau mengatakan itu.” Ujarku mencoba untuk terbuka. Jer mengamatiku seksama dan ia menarik napas dalam-dalam. “Rose—kekasihku juga tewas dibunuh dua bulan yang lalu. Itulah yang membuatku frustasi.”

Tenggorokanku seperti terbakar.

“Mungkin masih dalam satu kasus pembunuhan berantai yang sama. Eh, di mana ibu dan kakakmu?” Aku masih tidak menyangka Jer bisa muncul di hadapanku dalam keadaan seperti ini. Biasanya ia tampak seperti pemuda sinting berkelakuan iblis.

“Mereka pergi ke tempat seorang psikolog. Dan aku tidak tahu mengapa mereka belum pulang. Kuharap kau masih bisa berkelakuan seperti ini sampai mereka datang. Marry harus melihat bagian dari dirimu yang sebenarnya. Kau itu baik.”

Jeremy memicingkan matanya. Mungkin yang kukatakan terdengar aneh. “Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik. Aku tidak mencintai ibumu. Aku hanya mencintai Rose.” Mendengar kata-katanya, memang menyakitkan. Tapi ia sama sekali tak membuatku marah.

“Dengar, aku tak pernah menganggapmu ayah. Jadi, santai saja. Aku tidak ingin kau menjadi ayahku, aku hanya ingin kau menjaga ibuku dengan baik. Bisa, kan? Jangan membuat kami terus membencimu!” Jer tersenyum mendengar kata-kataku. Tapi aku masih heran, bagaimana mungkin ia bisa berubah begitu drastis. Meski itu menunjukkan sebuah perubahan yang mengagumkan.

“Kau harus tahu, Claire. Seringkali cinta menjadikan kita orang yang gila. Cinta bisa merubah kita menjadi orang yang baik sekaligus jahat. Dan cintaku kepada Rose begitu memberiku efek yang cukup besar. Aku harus meminta maaf  pada ibumu. Selama ini aku begitu merugikan. Akhir-akhir ini aku sering memimpikan Rose, dan ia memintaku untuk bangkit.” Haruskah memercayai kata-katanya?

“Seharusnya kau sadar dari dulu. Tingkahmu padanya benar-benar menjijikkan.”  Aku mematikan televisi dan menyimpan remote nya di atas sofa. Jer menunduk lesu. Aku senang ia bisa seperti ini, tapi aku belum sepenuhnya yakin. Bisa saja ia menipuku untuk mendapatkan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa sesuatu itu.

“Kau pasti bingung karena—”

“YA, AKU MERASA MENYESAL TELAH PULANG KALAU BEGINI!” Marry menggebrak pintu, mengalihkan perhatian aku dan Jer. Mom merutuk di belakangnya. “Belajarlah untuk lebih dewasa, Mariah!”

“Aku tidak suka dengan apa yang kaulakukan tadi, Mom. Apa-apaan, sih? Memangnya aku sudah gila?—Eh, tunggu sebentar, kau baik-baik saja kan, Claire?” Marry memandang Jer sinis. Jer diam saja.

“Menunggumu.” Jawabku dingin. “Nah, seharusnya orang gila yang ada disamping Claire yang kau bawa ke ahli kejiwaan. Aku masih normal, Mom! Ya ampun, aku terlalu seksi untuk dimasukkan ke sel rumah sakit jiwa.” Marry jengah. Ia lalu melangkah menuju kamar dengan penuh amarah. Oh, Tuhan. Mengapa Marry jadi parah begitu?

“Apa yang terjadi, Mom?” tanyaku. Wajah ibuku nampak layu. Ia kemudian menjatuhkan dirinya ke sofa dalam posisi duduk. “Prof. Narrow mengatakan ia masih belum menerima kepergian Dad, kejiwaannya terganggu. Dan Marry tersinggung dengan kata-kata itu.”

“Mungkin lebih tepatnya ia tidak bisa menerima keberadaanku.” Jer meremas-remas tangannya yang berkeringat. Mom memandangnya aneh. Ia lantas menatapku dalam, matanya berisyarat: di dekatnya kau baik-baik saja, kan? Dan aku hanya tersenyum.

Semua orang tidak akan mungkin percaya dengan mudah bahwa Jeremy telah berubah. Telah berubah dalam waktu sesingkat itu untuk kami menyadarinya. Tidak dapat dipercaya. Tidak setelah pikiran-pikiran buruk tentangnya tertancap di otak orang-orang. Ia justru harus berusaha lebih keras untuk bisa meralat nama baiknya.

Bahkan Mom tampak ragu melihat kami bisa duduk dalam jarak yang lumayan dekat. Sebelumnya, tak ada yang mau berurusan dengannya.

“Tadi kami sempat membicarakan mengenai kasus pembunuhan yang sedang marak dibicarakan. Prof. Narrow yakin pelakunya mengalami gangguan jiwa yang sangat hebat. Tapi yang membingungkan adalah bagaimana police tidak dapat mengidentifikasi segalanya dengan baik. Maksudnya bukan kerja mereka yang tidak benar, tapi bukti-bukti yang ada justru ah, aku tidak terlalu mengerti tapi ini jelas mengerikan.”

“Misalnya?” tanyaku mengumpan Mom untuk bercerita lebih banyak lagi. “Prof. Narrow mendengar kabar bahwa sidik jari yang ada di setiap barang bukti hanya menunjukkan sidik jari si korban. Sedangkan tidak mungkin kasus ini menunjukkan bunuh diri massal.” Ucapan Mom membuatku merinding.

“Benar-benar misterius.” Mom mendelik ke arah Jer saat mendengarnya berbicara. Pandangannya menunjukkan rasa heran, takut, bingung, dan tentu saja asing. Saat Jer terlihat baik, ia justru terlihat asing.

Kami mendengar suara ketukan pintu. Aku segera melangkah untuk membukanya. Ternyata Ron yang datang, ia adalah salah satu pegawai di toko roti milik Elle.

“Claire, Elle belum pulang hingga malam begini. Apa dia ada di sini?”

Kami tidak menghakimi Elle, tidak sama sekali setelah kepulangannya tadi pagi entah dari mana. Elle menatap kami satu per satu dengan penuh kebencian. Kami tahu teman yang satu ini memang seringkali keras kepala, kami tahu Elle seringkali bertindak sesuka hati, tapi kami tidak mengenal Elle sebagai orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.

“Semua orang khawatir, apalagi kami.” Reese mencoba menengahi karena Paul dan Elle terus saja berteriak saling memaki. Aku diam saja.

“Aku tidak menyuruh kalian repot-repot mengkhawatirkanku kok.” Elle menyibakkan rambut merah maroonnya. Kami semua angkat tangan, Elle tidak pernah sebebal ini. “Kami hanya ingin tahu ke mana kau pergi semalaman. Itu saja.”

“Kau adalah satu-satunya yang masih kuanggap temanku jika kau tidak ikut-ikutan bicara, Claire.” Umpatnya kemudian. Paul sudah mengepalkan tangannya. Kami semua geram melihat tingkahnya. Tapi tentu saja sahabat yang baik tidak akan membenci, kami semua sayang padanya.

“Kau tahu, terlalu berbahaya jika kau pergi sendirian di waktu malam. Apa kau tidak takut dengan terror yang sedang menghantui kota ini?” Reese kembali berusaha bicara baik-baik. “Tidak ada alasan untuk tidak takut, Elle.” Ashley yang sedang mengelus kucing kesayangan keluarga Daley ikut mengingatkannya.

“Mengapa aku harus takut? Oliver menjagaku, ia selalu membuatku nyaman.” Elle cepat-cepat membungkam mulutnya. Apa yang diucapkan tak bisa ditariknya kembali. Kini ia memandangi kami dengan wajah pucat pasi.

Kami sudah menduganya, laki-laki itu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s