Signs: Chapter 4 – Oliver Sawn Part 4

3450837c5ee809e12e4f2897854b041e

  Aku tidak tahu apa yang membuat Elle begitu tergila-gila pada Oliver sejak pertama kali bertemu. Mungkin karena senyuman dari wajah tampannya? Seingatku, Elle bahkan belum pernah melihatnya tersenyum padanya. Atau karena pandangan mautnya saat menatap seseorang? Bisa jadi. Dan aku tidak paham bagaimana Elle bisa begitu berubah dalam waktu singkat hanya karena pria asing itu.

“Entahlah, aku tidak menyukainya.” Ujar Reese dingin. Kali ini, kami menghabiskan waktu di rumahnya. Kami sedang membicarakan Oliver, dan aku tak lupa menceritakan niat Marry untuk pergi lagi dengannya.

“Tampangnya saja seperti bad boy begitu, meski kita tidak bisa menilai dari luarnya saja.” Paul membenarkan, menguatkan ucapan Reese. Elle tampak menggerutu tak suka, hampir setiap perkataan negatif tentang Oliver ditentangnya.

“Apa kalian tak bisa melihat dia begitu ganteng?” ujarnya frustasi. Elle kenapa sih?!

“Dan aku pun harus menyukainya karena dia begitu ganteng, Elle? Tidakkah aku terlihat seperti seorang homoseksual?” Reese menimpalinya sengit. Aku, Paul, dan Ashley tersenyum geli. Oh ya, meski ia jarang bergabung, tapi Ashley tampak menikmati pembicaraan kami.

“Terserah.” Elle menyerah. Kami—aku, Reese, Paul, dan Ashley—saling berpandangan. Mengamati begitu drastisnya perubahan Elle. Aku bisa melihat kekesalan dari raut wajahnya.

“Tapi dia pacar Marry, Elle. Kau tak bisa mendapatkannya jika kau juga menyukainya.” Tukasku mengingatkan, mungkin lebih tepat mencegah agar ia tidak terlalu fanatik pada Oliver. Elle mengangkat wajahnya, mata hijaunya menatapku penuh rasa kebencian. Aku… Aku tak pernah melihatnya seperti itu.

“Marry bahkan tampak terlalu tolol untuknya, Claire. Sorry.” Balasnya membuat kami semua terhenyak. Ia terlihat jengah. Elle kemudian bangkit dan keluar dari ruang tamu. “Aku tidak suka topik perbincangan kita. Kalian bicara terlalu menghakimi.” Ujarnya sambil membuka pintu. Elle kemudian pergi dari rumah Reese. Sendirian.

“Ada apa dengan Elle?” Ashley angkat bicara. Ia lantas kembali terdiam saat melihat kakaknya mengangkat bahu. Ashley lantas memandangiku dan juga Paul, mencari jawaban.

“Cinta pada pandangan pertama?” Paul menyeringai tolol. “Memangnya se-tampan apa sih orang yang kalian bicarakan, Claire?” tanya Ashley kembali, dia benar-benar ingin tahu. Jika saja aku bisa dan berani, pasti aku akan langsung menjawab ‘dia tidak ada apa-apanya dibanding kakakmu kok’.

“Ya, memang ganteng sih. Cukup keren. Hanya saja benar apa kata Paul, dia tampak seperti bad boy atau heartbreaker? Ah, entahlah apa itu namanya.” Cuma itu yang bisa kuucapkan, karena Reese menatapku tajam dan serius.  Paul sih cuek-cuek saja.

“Jangan-jangan sebentar lagi kau juga akan ngadat tidak jelas seperti Elle.” Reese menyindirku. “Kau cemburu, ya?” Ashley menggodanya. Wajah Reese memerah dan ia segera memelototi Ashley. Paul menatap kami kosong. Dan aku bingung harus mengeluarkan respon bagaimana.

“Dia bukan tipeku.” Jawabku asal. Tapi ada benarnya juga sih. Ashley mengangguk-angguk. Cewek yang umurnya hanya berbeda dua tahun dari Reese itu tak lagi berkomentar.

Aku melirik Reese, kini dia nampak tenang seperti biasanya. Nah begitu dong, dia kan jadi terlihat memesona seperti biasanya.

Mrs. Daley membuka pintu. Kami tidak mendengar suara mobilnya. Wanita berusia hampir kepala lima itu lalu tersenyum pada kami. Namun di matanya tersirat kecemasan.

“Apa kalian tahu soal pembunuhan berantai? Satu lagi gadis yang menjadi korban dan ditemukan di tempat pembuangan sampah, dekat bengkel kita.” Ujarnya. Oh ya, aku lupa memberitahu bahwa keluarga Reese memiliki bengkel yang cukup besar di jalan Ostown.

“Oh, Tuhan. Berarti pembunuhnya sedang berada di sekitar tempat tinggal kita. Police belum dapat melacak di mana keberadaan tepatnya.” Tambahnya kembali. Wajah Mrs. Daley memucat. “Reese, jangan meninggalkan Ashley sendirian dalam keadaan apapun.” Mrs. Daley mengultimatum sambil berjalan menuju dapur.

“Mom, aku bisa menjaga diriku sendiri.” teriak Ashley. “Anak manja sepertimu akan melawan pembunuh berdarah dingin?” tukas Reese dengan tatapan merendahkan. Ashley mengerucutkan bibirnya. Kami saling menatap satu sama lain.

“Ini mimpi buruk bagi Jacksonville—” Paul berhenti sejenak untuk mengambil napas. Ini pemandangan yang sedikit langka—saat Paul menatap kami semua dengan serius. “Dan mimpi buruk ini harus segera berakhir, caranya adalah dengan menghentikan aksi penjagal perawan itu.”

Kata-kata yang dipilih Paul tidak pas.

“Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Mencari dan menangkap pembunuhnya? Itu terlalu mengada-ada.” Protesku. Kami semua terlihat menimbang-nimbang. “Reese, kau kan seringkali berhasil memecahkan kasus. Dulu kau yang berhasil menemukan siapa pencuri sepeda Troy dan siapa yang telah meracuni kucing Stephenie.” Paul menepuk-nepuk pundak Reese.

“Dengar, Paul. Tentu saja ini berbeda. Ini benar-benar kasus yang sulit. Aku tidak percaya police saja susah melacaknya.” Reese benar. Apa yang dikatakan Reese hampir tidak pernah salah.

Ashley mengigiti kuku-kuku tangannya. Ia begitu paranoid. “Tapi kita tidak bisa membiarkan stok perawan di kota ini habis.”  Sungguh, Paul. Aku ingin sekali menyumpal mulutmu dengan kaus kaki. Tidak ada kah kata-kata lain yang lebih beradab?

“Yang terpenting, tidak ada orang-orang di sekitar kita yang menjadi korbannya. Claire, apa yang sedang dilakukan Marry sebelum kau ke mari?” tanya Reese. “Mom membawanya ke seorang psikolog. Semoga saja ia tidak akan dirujuk ke pskiater.”

“Syukurlah, setidaknya Marry tidak pergi sendirian atau bersama cowok asing itu. Dia akan baik-baik saja.” Ujar Reese kembali. Ashley memandangi kami heran. Perkataannya kemudian membuat kami tersadar. “Marry mungkin akan baik-baik saja, tapi bagaimana dengan Elle?”***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s