Signs: Chapter 4 – Oliver Sawn Part 3

           3450837c5ee809e12e4f2897854b041e

            Jika Marry belum pulang, mungkin ini akan jadi malam ke-empat ia tidak ada di rumah. Itu berarti, sudah tiga hari aku tidur sendirian. Tanpanya. Dan kali ini ketika ia ada, aku malah merasa asing.

Marry diam saja. Ia sibuk membereskan perlengkapan barunya itu. Ia tidak memedulikan aku yang sedang memerhatikannya dari atas tempat tidur. “Aku tidak yakin kau membawa uang yang cukup untuk membeli itu semua saat pergi.” ujarku mengakhiri keterdiaman kami. Ia melirik ke arahku sekejap, lalu kembali berkutat dengan mainannya.

“Kenapa? Kau mau? Nih, ambillah!” Marry melemparkan sebuah bonnie rajutan wol berwarna merah. Aku memicingkan mata. Bukan ini yang kumaksud. “Yang kutanyakan darimana kau mendapatkan semua itu.”

Marry berdiri, ia lalu menghadap cermin sambil memakai kacamata hitam dengan frame berbentuk segi enam.

“Tentu saja dari pacarku.” Marry membalikkan tubuhnya, berjalan mendekatiku, lalu duduk di dekatku. Oh, bau tubuhnya berbeda kali ini. Marry menggunakan parfum, pasti parfum berkelas yang mahal.

“Maksudmu Oliver? Dia pacarmu? Kau kan baru mengenalnya! Oh, Marry, kau akan terlalu banyak berhutang padanya. Bagaimana kau akan membalasnya?” Komplainku ini mungkin akan sangat membuatnya terganggu.

“Kau bicara seperti itu karena pacarmu tidak membelikanmu barang-barang seperti ini, ya?” Marry mendelik, tersenyum angkuh dan merendahkan. Ternyata, kepergiannya selama tiga hari itu tidak merubah sifat aslinya.

“Aku tidak punya pacar, Marry.” Eh, kenapa tolakanku untuk ucapannya tadi malah terdengar seperti curhat begini?

“Kupikir Reese itu pacarmu. Oh, atau hanya sekedar bodyguard ya. Kau kan tidak bisa melawan dari apapun.” Marry terkikik sendiri. Aku melayangkan pandangan tak suka padanya. “Kalaupun Reese itu pacarku, aku tidak akan meminta dibelikan apapun kok. Aku kan tidak matre.” Marry melotot. Ia lalu bangkit dan berkacak pinggang. “Jadi maksudmu aku matre, begitu?” Ya, baiklah. Perang kecil keluarga Appleton antara Mariah dan Claire dimulai kembali, tapi aku yang harus lebih dewasa untuk mengakhirinya. Toh jika ia nekat pergi lagi, aku sendiri yang akan repot.

“Soalnya aku tidak tahu seberapa baiknya Oliver, kau kan belum menceritakannya. Jadi kupikir kau saja yang matre. Mungkin bisa juga dugaanku salah.”

“Ya, kau memang salah.” Kata Marry membenarkan dengan cepat. Claire, jangan membalas perkataannya lagi, desakku dalam hati.

“Well, Oliver benar-benar memesona. Kau sadar ia begitu ganteng, kan? Meski terkadang senyumnya begitu mengerikan. Mengerikan untuk tak kulihat maksudnya. Dia itu romantis sekali, meski kadang aku yang harus mencerna setiap perlakuannya dengan teliti. Pokoknya dia itu romantis. Titik. Dia juga tidak keberatan memberikan apapun yang aku mau. Buktinya dia membelikanku ini semua. Tadaaaa!Semua cewek di dunia akan terkesan padanya, dan iri padaku seperti biasa.” Ceracau Marry.

Tuh kan, itu saja sudah menunjukkan kau memang matre, Bodoh.

“Kami akan berlibur bersama besok lusa. Mungkin ia akan memperkenalkanku pada keluarganya? Atau mengajakku ke sebuah tempat yang istimewa?”

Aku terhenyak. Marry mengamit sebuah topi beludru dan mengenakannya. Ia lantas bergaya layaknya seorang model. “Kau gila? Kuingatkan sekali lagi, Marry. Kau mengenalnya belum lama.”

Marry mengerucutkan bibirnya. “Kupikir tak ada yang boleh pergi dari rumah LAGI, Marry. Tidak setelah kau cukup meresahkan kami.” Tambahku segera. Ia semakin memanyunkan bibirnya.

“Claire, aku sudah tujuh belas tahun. Tidak ada yang bisa melarangku pergi. Bahkan Mom sekalipun dan juga dirimu. Mengerti? Lagipula aku kan bisa pulang dengan baik-baik saja, Oliver menjagaku kok.”

Marry, kau benar-benar sulit diatur. “Sekarang begini saja, kau mau ikut denganku, tidak? Ini penawaran berharga, sangat berharga!” Aku menggeleng mantap. “Ikut, jika Mom ikut.”

Marry menghela napas. “Baiklah, semoga kau tidak menyesal, Claire.” Ia lalu mengeluarkan sebuah barang dari dalam tasnya.

“Heh, tolong cabut benda itu dan gantikan dengan yang ini.” Marry menunjuk nightmare catcher pemberian Dad. Benda itu adalah benda kesayangan kami. Marry bahkan pernah memarahiku hanya karena aku memasangnya tidak tepat. Terlalu tinggi di dinding, juga sempat terlalu rendah. Dan sekarang ia ingin aku mencabutnya? Rasanya begitu aneh.

Aku tidak ingin membantahnya. Kuambil nightmare catcher berkepala Indian itu dari gantungannya, lalu aku mengaitkan nightmare catcher baru yang lebih besar di tempat yang sama. “Sempurna. Oliver yang membelikannya, lho!”

Aku tidak kaget.

Suara deruman mobil yang kemudian berhenti terdengar dari luar, kami lalu mengintip melalui jendela yang belum ditutup. Jeremy datang. Apakah Marry merindukannya?

“Claire, selain bisa menolak mimpi buruk, apakah nightmare catcher  bisa mengusir setan?” tanyanya aneh. Aku mengangkat bahu. “Itu kan hanya mitos. Kenapa memangnya?” Aku balik bertanya. Marry melirik lagi ke jendela yang masih terbuka.

“Karena setannya baru saja datang.”***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s