Signs: Chapter 4 – Oliver Sawn Part 2

3450837c5ee809e12e4f2897854b041e

“Aku tidak percaya Dolores menjadi salah satu korban yang ditemukan mati di depan pelataran toko buku bekas itu.” Ucap Elle. Aku, Reese, dan Paul mengangguk setuju.

Kami sedang membicarakan kasus mengerikan yang sedang hangat di kota ini. Kasus pembunuhan berantai dan korbannya anak-anak seusia kami. Kemarin, Mom yang memberitahu ini, dan kini perbincangan semakin riuh karena teman sekolah kami—Dolores, juga menjadi korban.

“Benar-benar gila. Dolores itu gadis culun yang jika dimintai jawaban ketika ulangan tidak pernah menggubris, kan?” Paul menanyakan hal yang tidak sepatutnya dijawab. Elle memaksakan diri untuk mengangguk. “Ya, kau selalu mengganggunya setiap tes.”

Ekspresi wajah Paul berubah semakin serius. “Oh, tidak. Aku sering mengumpatnya, memakinya, kalau ia tak memberitahu jawaban. Semoga saja ia tidak akan menghantuiku dan membalas dendam.”

Reese dan Elle tertawa. Tapi aku tidak.

“Aku sempat khawatir Marry akan ditemukan dalam kondisi seperti itu. Kita benar-benar kehilangan kabar tentangnya.” Desahku pelan. Ketiganya langsung memandangku serius. Terutama Reese.

“Ya, aku juga takut. Kelakukan Marry kadang membuat orang lain ingin menelannya bulat-bulat.” Celoteh Elle dingin. Paul memelototinya. “Tidak, tidak akan ada apa-apa dengan Marry aku yakin. Ia anak yang nekat, pasti bisa menyelamatkan diri dalam keadaan apapun. Apa kau lupa dia pernah menonjok hidungku? Itu salah satu gaya bela diri yang tolol tapi cukup membantu.” Tukas Paul.

Hari ini kami tidak mencari Marry. Kami hanya berkumpul di rumahku dan berdiskusi. Mendiskusikan apapun yang bisa kami bahas. Bukan karena kami pasrah dan tidak lagi berharap Marry ditemukan, tapi mungkin ada baiknya kita hanya tinggal menunggunya pulang sendiri.

“Paul benar, Claire. Sebentar lagi dia pasti pulang. Dia kan—” ucapan Elle menggantung saat sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman rumahku. Kami tertegun dan saling berpandangan. Tidak ada yang tahu siapa yang datang.

Mobil itu berhenti, si pengemudi mematikan mesinnya. Dan tiba-tiba saja gadis yang selama ini kami cari-cari keluar dari mobil itu.

“Kalian begitu baik untuk menyambutku.” Gaya bicaranya tetap sama, menyebalkan, hanya saja penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat. Aku tidak ingat Marry memiliki baju-baju yang kini dipakainya.

Perasaan lega, senang, terharu, dan kesal bercampur aduk dalam benak kami. Marry bisa bertindak begitu tanpa merasa berdosa sedikitpun meski telah menyusahkan kami semua. Ia benar-benar cuek saja, tidak menunjukkan raut wajah menyesal telah meninggalkan kami.

“Darimana saja kau ini? Apa kau tidak punya otak? Kau itu—” Elle baru saja akan memakinya telak, namun ia harus menunda amarahnya dan ucapannya terhenti saat si pengemudi mobil yang ditumpangi Marry itu keluar dan berjalan ke arah kami.

Tampan sekali, oh sangat keren. Siapa dia? Kenapa dia bisa bersama Marry? batinnya. Ia langsung terbius pada sosok cowok itu hingga mulut yang tak kalah cerewetnya dengan Mariah itu tak mampu berkata-kata. “Claire, bisa kau tolong aku membawakan tasku?” Marry tersenyum arogan. Ia lalu melangkahkan kaki memasuki rumah.

Aku mendelik ke arahnya. Paul dan Reese juga merasakan kesal yang sama. Dan mereka sama-sama tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Biar aku saja yang membawanya.” Ujar cowok asing itu yang kemudian mengikuti Marry sambil menjinjing barang bawaannya.

Aku melayangkan pandangan pada Reese. Ia terlihat kecewa dan bingung. Paul pun begitu. Sedangkan Elle terlihat lain, ia pasti terpesona dengan teman Marry yang sama sekali tidak kukenal.

Mom sudah melihat kedatangan Marry sebelumnya, ia sudah berdiri di ambang pintu. Menunggunya. Atau mungkin menyambut kepulangannya dengan haru biru. Marry kini berdiri di depannya, tidak mengucapkan apapun. Ia hanya berekspresi layaknya sedang mengunyah sesuatu.

Tiba-tiba saja Plak! Mom menamparnya. Aku bisa mendengar tamparan yang mendarat di pipi Marry dengan begitu keras. Begitu telak.

“Darimana saja kau ini? Kau tidak sadar sudah menyusahkan banyak orang yang mencarimu?” Mom berbicara dengan nada yang begitu rendah, sinis, dan menusuk. Mungkin ia masih harus menahan luapan amarah yang tertahan selama lebih dari tiga hari ini. Marry terdiam, ia masih memegangi pipinya yang memerah. Ia juga malu karena temannya  menyaksikan adegan itu.

“Masuk!” perintah Mom dan Marry segera menurut.

Mom meninggalkan teman Marry di depan pintu. Aku melirik ketiga temanku dan kemudian berlari mendekatinya. “Taruh saja barang-barang Marry di sini. Biar aku yang memasukannya.”

Cowok itu tersenyum. Pembawaannya dingin tapi tetap terkesan ramah. “Hai, Claire. Panggil saja Oliver.” Oliver mengulurkan tangannya. Aku menatap matanya yang indah dan kemerahan. Menyelidik apakah orang yang membawa pulang Marry ini adalah orang jahat atau bukan.

“Marry banyak menceritakan tentangmu kemarin.” Lanjutnya kembali. Aku menjabat tangannya. Oliver tidak melepaskannya untuk beberapa saat, ia menggenggam tanganku lembut tapi kuat. Aku menoleh ke arah teman-temanku, dan Reese membuang muka. Ia lalu berjalan menghindar dan masuk ke mobilnya yang terparkir di samping mobil Oliver.

Oliver melepaskan tangannya dan aku memandanginya risih. “Oh ya? Darimana saja kalian? Di mana kau menemukan Marry?”

“Mungkin lebih baik kau bertanya pada Marry langsung.” Timpalnya. Mesin van tua Reese menderu, Paul berteriak tidak jelas namun aku dapat menangkap maksudnya “Claire, kami harus pulang! Salam pada Marry dan ibumu!” Kurang lebih seperti itu.

Aku melambaikan tangan dan tersenyum. Kemudian kembali bicara pada Oliver. “Terimakasih karena kau telah menjaganya dan mengantarkannya kembali. Kami sangat mengkhawatirkannya. Coba kau bisa membawanya lebih cepat. Maaf jika dia merepotkanmu.” Sebenarnya yang kuucapkan tidak murni sebuah ungkapan terimakasih.

“Tidak masalah. Umm… baiklah, kupikir sebaiknya aku pergi. Katakan pada Marry untuk jangan lupa menghubungiku. Sampai jumpa.” Oliver berjalan menuju mobilnya, dan tak lama setelah itu mobilnya menghilang dari pandangan.

Aku masih bingung, ada hubungan apa antara Oliver dan Marry, sudah berapa lama mereka saling mengenal, mungkinkah Oliver adalah teman lama Marry yang tidak kukenal?  Mereka tampak begitu intim.  Tapi sudahlah, yang terpenting aku tidak perlu mengerjakan tugas untuk mencari Marry kembali. Ia benar-benar pulang dengan sendirinya. Tugasku saat ini hanyalah mengangkat barang-barang asing miliknya ke dalam rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s