Signs: Chapter 4 – Oliver Sawn Part 1

3450837c5ee809e12e4f2897854b041e

Marry memandangi nightmare catcher yang baru saja dipasangnya di dinding. Manusia Indian yang terbuat dari kulit hewan itu tampak seram bila dilihat secara detail. Tapi Marry tidak merasa ketakutan dibuatnya.

Benda itu membuatnya mengingatkannya pada sebuah ruangan kecil bernama kamar. Kamarku dan kamarnya. Di kamar kami, sebuah nightmare catcher seperti itu juga digantung di dinding walau tak sebesar yang baru saja dibelinya. Kami sangat menyukainya. Itu pemberian Dad.

Marry menatap sekeliling kamarnya. Ia baru benar-benar menyadari bahwa ia sedang sendirian dan waktu sudah menunjukkan larut malam. Sejenak hatinya hampa. Ada ruang kosong dalam hatinya yang ingin ia isi kembali. Ia rindu rumah, sudah pasti ia rindu rumah.

            Sedang apa Mom dan Claire di sana? Apakah Jer akan membunuh mereka saat aku tak ada? Gumamnya dalam hati. Sejenak, rasa cemas menjalari tubuhnya. Ia memikirkan Mom, memikirkanku, dan kejahatan Jer pada kami yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Tentu saja, mereka tidak bisa melindungi diri tanpa aku. Mereka terlalu lemah. Pikirnya.

Tapi bukan hanya perasaan tak enak itu saja yang meliputi dirinya. Mungkin ia juga merindukan teman-teman seperti Paul dan yang lainnya? Entahlah, aku hanya berharap semoga saja ia segera membulatkan tekad untuk pulang dan berhenti merepotkan kami.

Marry mendekati jendela dan membukanya, Ia merasakan dinginnya angin malam yang menusuk menerpa wajahnya. Membuat rambutnya yang tergerai bebas berkibar-kibar.

Tidak ada pemandangan indah yang dilihatnya sejauh ini. Jendela kamar hostelnya hanya menghubungkannya pada pemandangan sebuah lapangan kosong dengan satu pohon oak  yang tumbuh di antara rerumputannya.

Marry menerawangkan matanya jauh ke depan, namun pandangannya kosong. Saat ia memutuskan untuk kembali ke tempat tidur, ketika membalikkan tubuhnya, tubuh Oliver sudah berdiri di hadapannya.

“Mengapa melamun?” tanyanya sambil memerhatikan Marry se-detail mungkin. Marry masih membiarkan mulutnya menganga, berusaha menstabilkan degup jantung yang barusan hampir saja berpindah posisi saking kagetnya. Ia tidak mengerti bagaimana mungkin Oliver bisa masuk ke kamarnya dan tiba-tiba berada di depannya seperti sekarang ini.

Marry menengadahkan wajahnya, menatap mata Oliver yang berwarna gelap—hitam, namun sedikit ke merah-merahan. Tubuh Oliver terlalu jangkung baginya, bila Marry memandang lurus, yang bisa ia lihat hanyalah dada Oliver yang bidang.

“Heh, apa kau baik-baik saja?” Oliver mendekatkan wajahnya ke wajah Marry. Marry bisa merasakan napasnya yang begitu dingin, dan itu membuatnya sadar bahwa barusan ia sedang setengah melamun.

Marry menjauhkan tubuhnya dari Oliver. Ia lalu berjalan dan duduk di bibir tempat tidur. Oliver terus memandanginya, seolah tidak ingin ia pergi meninggalkannya.

“Sepertinya aku mulai kangen rumah.” Ucap Marry sambil balas memandanginya. Oliver terdiam, entah ia terkejut atau merasa telah menebaknya. Ia lantas tersenyum, tapi senyumannya aneh.

“Lalu apa masalahnya? Aku bisa mengantarmu pulang. Sekarang? Besok? Minggu depan? Atau setelah musim panas berakhir? Ya, kapanpun yang kau mau. ” ucapan Oliver terdengar meyakinkan. Marry mengangguk pelan, tapi masih menunjukkan rasa ragu. “Tapi aku tidak bisa membayangkan aku pulang begitu saja, mereka pasti marah.”

Oliver memasukkan tangan ke saku celananya. “Cuek saja, mereka adalah alasan yang membuatmu pergi.” Marry belum bisa yakin seratus persen. Tapi ia sudah bernafsu ingin pulang.

“Baiklah, aku akan segera mengemas barang-barangku.” Marry menunjuk semua barang yang dibelikan Oliver sejak kemarin. Oliver tersenyum memandangi barang-barang yang berserakan di lantai itu. Barang-barang yang ia tak mengerti kenapa mereka bisa begitu penting bagi perempuan.

“Tidurlah.” Desak Oliver sambil melangkah meninggalkannya. Marry mengangguk. Namun saat Oliver baru saja akan membuka pintu, ia memanggilnya. “Heh, bagaimana caranya kau bisa masuk ke sini?”

Oliver mengangkat sebelah alisnya. “Tentu saja mudah, kau lupa mengunci pintunya.” Ujarnya sambil melangkah keluar. Marry tak bisa lagi melihatnya. Bukannya aku sudah menguncinya, ya? Tanyanya pada diri sendiri. Meragukan. Namun sudahlah, tak ada yang harus dipikirkan dalam-dalam. Ia terlalu lelah.

Marry memasukkan baju-baju barunya ke dalam tas yang baru juga—barang bawaannya dari rumah sudah dibuang Oliver saat pertama kali ia membawanya ke sini, kan. Ia lantas mengambil sebuah handuk kecil di atas meja, dan menjatuhkan sesuatu. Satu-satunya barang bawaan yang tidak dibuang Oliver. Ponselnya.

Baiklah, kini saatnya mengecek berapa banyak orang yang merindukanku saat aku pergi. Batinnya. Marry lantas mengaktifkan ponselnya.

Oh, ponselnya bergetar begitu lama dan tanpa jeda. Mungkin karena terlalu banyak pesan yang masuk. Tentu saja, ia sudah menghilang dan membuat banyak orang khawatir, mereka pasti mencoba menghubunginya.

Claire, Mom, Elle, dan yang kawanannya. Oh, Mrs. Orrah—wali kelasku juga. Ah, pasti mereka hanya menyuruhku untuk pulang. Marry sama sekali tidak merasa bersalah. Lalu sebuah pesan dari sebuah nama yang tertera di ponselnya membuatnya tercengang. Pesan itu dikirim Nick kemarin.

HEH IDIOT, KENAPA SIH KAU SELALU MENYERETKU KE DALAM MASALAHMU? DI MANA PUN KAU BERADA AKU TIDAK PEDULI. CEPAT PULANG DAN BERITAHU MEREKA AKU TIDAK TERLIBAT APAPUN DENGAN KEPERGIANMU!***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s