Signs: Chapter 3 – Pencarian Part 4

images (1)

“Well, harus kuakui kakakmu benar-benar menyebalkan, Claire.” Desah Elle sambil menatap ke jalanan. Reese mengendarai mobil dengan sangat pelan.

Kami masih melaksanakan sebuah misi, misi untuk menemukan Marry yang belum pulang hingga hari ini. Terpaksa, kami harus mencari rute lain dengan jarak yang lebih jauh.

“Maaf aku telah merepotkan kalian.” Ujarku yang langsung disanggah Reese. “Sama sekali tidak merepotkan, dari awal kami sudah berniat membantu.” Setidaknya, ucapan itu terdengar lebih melegakan.

Di samping Reese, Paul terdengar mendengkur, mungkin malam tadi ia tidak tidur? Tidak ada yang tahu. Sementara itu di dalam mobil tercium aroma almond yang menyengat, dan itu berasal dari Elle yang tengah mengoleskan sunblock ke kulit pucatnya.

“Hari ketiga Mariah kabur dari rumah. Dramatis sekali.” Ceracau Elle lagi-lagi, ia tidak memedulikan Reese sedang memelototinya dari balik kaca spion. “Semoga saja ia cepat ditemukan agar kita tidak harus mencarinya di hari keempat.” Reese kembali bicara. Elle mengangguk-angguk terpaksa.

“Apa kita akan kembali menemui Nick?”

“Kupikir itu tidak membantu Reese, ia tampak benar-benar tidak tahu apa-apa. Kurasa begitu.” Jawabku. “Atau bisa jadi ia telah bersekongkol terlebih dahulu dengan Marry. Kita tidak bisa mengandalkannya.” Elle spontan menambahkan.

Tiba-tiba mobil Reese berderum kencang dan berhenti, padahal kami belum keluar dari Sandalwood.

“Oh, sial. Kupikir van tua ini ngadat lagi. Maaf, Claire. Aku harus mengeceknya kembali.” Mohon Reese yang langsung kubalas dengan anggukan. Ia dapat mengerti maksudku: tidak masalah. Ia segera membuka pintu mobil dan membantingnya.

Aku dan Elle tetap diam, duduk manis di dalam mobil.

“Apa perlu kami bangunkan beruang tukang tidur ini?” teriak Elle sambil menyembulkan kepalanya ke luar jendela. Tentu saja yang dibicarakannya adalah Paul. Elle kembali ke posisi semula dan dengan sekuat tenaga ia mengguncang-guncang tubuh besar Paul.

“Di mana aku? Maksudku di mana kita?” Paul masih setengah sadar, namun perlahan matanya membuka lebih lebar. Saat ia menegakkan posisi tubuhnya dan membalikkan tubuhnya ke arah kami yang duduk di belakangnya, aku dan Elle kompak berteriak “Get out!”.

“Ada masalah?” tanya Paul saat menghampiri Reese yang sedang mengotak-atik bagian dalam mesin mobilnya. Mereka kemudian mengotak-atik mesin.

“Claire, bisa kupinjam earphone milikmu?” Aku segera menyodorkan benda yang dimaksudnya. Ia langsung bungkam dan terbawa irama lagu dari musik yang meraung-raung di telinganya. Tidak ada yang dapat kulakukan di dalam, kecuali memperhatikan Reese yang sedang membenarkan penyakit mobilnya ini.

Dalam keadaan seperti ini saja, ekspresi Reese tetap cool. Ia selalu mencoba untuk tenang dalam situasi apapun. Tidak seperti Paul yang seringkali berlaku seperti banteng matador. Itulah hal yang paling membuatku nyaman berada di dekatnya. Dan aku senang karena Reese menyukaiku, itu pun kalau memang benar ia masih menyukaiku hingga saat ini. Karena ia mengungkapkannya saat kami masih SMP. Tapi, ah sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya.

Menunggu mobil mogok berjalan kembali itu memang membosankan. Aku tidak hanya sekali ini saja merasakannya. Van tua ini pernah melakukan hal yang sama saat mengangkut kami—ditambah Marry dan Ashley— pergi menuju perkemahan sepekan yang lalu. Sebelum dimulainya liburan musim panas.

Pada saat itu, tentulah Marry yang paling cerewet di antara kami. Ia selalu saja menggerutu ‘Kupikir mobilmu tidak terlalu butut jika dibandingkan dengan milik Paman Bernandez, Reese. Apa kau merawatnya dengan baik?’

Oh, tunggu dulu. Semua itu mengingatkanku.

“Aku tidak ingat berapa jarak terjauh yang pernah ditempuh mobil ini, sepertinya memang harus sudah di ke museum kan.” Canda Reese sambil mencoba menyalakan mesin mobil. Berhasil.

Paul memasuki mobil kembali. “Lalu, ke mana kita akan pergi? Kukira kita sudah jauh, ternyata tidak.”

“Elle.” Elle tertidur, aku tidak bisa mengajaknya bicara. “Reese, apa kau masih ingat rumah Paman Bernandez?” tanyaku penuh harap. Reese melirik ke arahku yang ada di belakangku dan mengangguk.

“Kita ke sana saja, kita semua tahu Marry sangat dekat dengannya. Mungkin ia tahu sesuatu.” Usulku yang langsung disetujuinya. Reese mengatur kemudi, membalikkan arah mobilnya.

“Kenapa sejak kemarin kita tidak kepikiran untuk menemuinya?” Paul menggaruk-garuk kepalanya sendiri. “Aku tidak ingat, benar-benar tidak ingat. Kemarin kita terlalu fokus pada Nicholas.”

“Kau benar.” Paul membenarkan ucapanku. “Eh, sepertinya suara Elle menghilang.” Lanjutnya kembali. Paul berbalik ke belakang dan menggeleng-geleng. “Dasar tukang tidur.” Aku dan Reese saling berpandangan melalui kaca spion datar,

Kupikir dia membicarakan dirinya sendiri, umpatku dalam hati.

            Lagi-lagi kami harus mengakhiri pencarian hari ini dan pulang tanpa membawa Marry. Tapi yang terpenting kami sudah berusaha untuk mencari.

“Thanks, Reese.” Ujarku sambil membuka pintu mobil. Reese mengangguk dan tersenyum. Dari matanya, aku bisa melihat ia sangat lelah. Oh, dia benar-benar banyak membantu. Tak lama kemudian mobil Reese melaju kembali, melewati jalan di depan rumahku.

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai. Aku belum siap melihat ibu yang akan begitu kecewa ketika kabar anak perempuan sulungnya itu belum juga diketahui. Tentu saja, tiga hari anaknya menghilang tanpa jejak sama sekali.

Rumah sepi. Aku bisa menarik kesimpulan, Jer sedang tidak di sini.

Aku melihat ibu sedang panik sambil membawa satu eksemplar surat kabar, ia berjalan mondar-mandir di depan kamarku.

“Mom, apa sudah ada kabar?” Begitu Mom mendengar suaraku, ia langsung menghambur dan memelukku. Aku tahu ia habis menangis, kemudian Mom menciumi pipiku. Ini jarang sekali terjadi.

“Darimana saja kau, Claire? Aku mengkhawatirkanmu. Tadinya aku akan menghubungi police untuk mencari Marry. Tapi aku takut Marry semakin tidak ingin pulang saat melihat fotonya terpampang di surat kabar.” Ujar ibuku kembali dengan nada cemas. Aku melepaskannya pelukannya sambil terus mengernyitkan dahi. “Aku mencarinya, Mom. Namun aku belum menemukannya. Aku sudah mencari ke rumah Paman Bernandez, ia bilang ia pernah melihatnya ketika pergi namun sekarang tidak tahu, dan aku sudah mencari ke rumah guru-guru sekolah kami, ke teman-teman SMPnya, tapi semuanya nihil.”

Ibuku terdiam, memandangi surat kabar yang dicengkramnya.

“Untuk alasan apapun, jangan pergi sendirian. Coba lihat, Claire! Ini kasus yang paling mengerikan yang pernah diliput oleh surat kabar, Jacksonville sedang dihantui seorang pembunuh berdarah dingin. Hampir setiap hari di tempat yang berebeda ditemukan mayat gadis seusiamu. Mereka mati dalam cara yang sama, dan cukup mengenaskan. Belum diketahui siapa pelakunya, hanya saja menurut penuturan police, sudah lebih dari 37 mayat ditemukan dalam waktu satu bulan ini.” Mom menatapku sekali lagi, ucapannya membuatku merinding.

Jangan-jangan Marry adalah salah satu dari mereka. Benarkah? Atau mungkin belum dan nyawanya terancam? Ah, tidak! Batinku itu seperti menampar diriku sendiri. Dan aku harus bisa menepis pikiran buruk seperti itu.

“Tenang saja, Mom. Aku pergi bersama Reese, Elle, dan Paul. Aku yakin mereka bisa menjagaku dengan baik. Kupikir Marry juga bisa menjaga dirinya dengan baik, kami tidak akan menjadi salah satu yang bernasib seperti mereka.” Kata-kataku seperti tidak menghilangkan kegundahannya.

“Kalian berdua akan kembali berkumpul dan kita membangun hidup kembali. Tanpa Jer. Aku sudah membuat keputusan untuk memintanya menceraikanku.” Aku terhenyak. Benarkah ini keputusan yang ibu ambil? Atau ia hanya ingin member kabar bahagia pada Marry agar ia tidak pergi lagi?

“Kalian akan terus bersamaku, kalau tidak aku bisa gila. Aku bukan ibu yang baik.” Tambahnya kembali, air mata menggenang di pelupuk matanya. Aku memeluknya erat, merasakan suatu perasaan kehilangan yang sama. Kami merindukan Marry. Seandainya saja rasa rindu ini ia alami juga, apakah ia akan segera pulang?

“Aku ingin Marry pulang, Mom.” Desahku sambil melepaskan pelukannya kembali. Mom tersenyum pilu. “Beristirahatlah, kau boleh mencarinya kembali esok. Tapi tidak sendirian.”

Tidak, Mom. Aku tidak akan pergi sendirian. Aku punya teman-teman yang super. Dan aku punya pelindung yang baik dan tampan. Reese.

Advertisements

One thought on “Signs: Chapter 3 – Pencarian Part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s