Signs: Chapter 3 – Pencarian Part 3

images (1)

Marry pasti berpikir bahwa hari ini akan jadi hari yang jauh lebih indah dari biasanya. Ia memang belum lama mengenal Oliver Sawn, dan sampai saat ini ia tidak menyesal telah dipertemukan dengannya.

Tidak seperti biasa, Marry sudah bangun di pagi buta. Membayangkan serangkaian aktivitas yang akan dilaluinya bersama Oliver hari ini. Hari ke-tiga pelariannya dari rumah.

Oliver membuatnya semakin yakin bahwa keputusannya untuk pergi dan tidak pulang itu adalah tepat, bahkan merupakan keputusan yang paling cantik. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan mereka untuk bertemu? Atau mungkin berjodoh?—Ini lah yang diharapkannya.

Gadis itu menyisir rambut pirangnya, tubuhnya yang langsing sudah dibalut sebuah dress sederhana yang Oliver beri padanya. Ia harus tampil secantik mungkin, tentu saja agar Oliver tertarik dan tidak pergi meninggalkannya. Meski pada kenyataannya ia bukan siapa-siapa, tidak lebih dari sekedar teman baru untuk saat ini.

Tapi Marry yakin setengah mati bahwa Oliver memang tidak akan meninggalkan gadis sepertinya begitu saja.

“Apa kau sudah siap?” tanya Oliver masih pakaian serba hitam dari luar kamar hostelnya. Marry mengulas sebuah senyuman manis di depan cermin, sebelum akhirnya senyuman itu diberikan pada Oliver pada saat membuka pintu.

“Mau ke mana kita sekarang?” tanya Marry sambil mengunci pintu dari luar. Oliver sudah berjalan lebih dulu tanpa memedulikan pertanyaan Marry, melewati gerbang, dan memasuki mobil. Marry berjalan cepat menyusulnya dan segera duduk di samping bangku kemudi.

“Kita punya banyak waktu kan hari ini? Aku sengaja bangun pagi untuk itu.” Ujar Marry sambil mengenakan seat belt. Oliver tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menoleh ke arahnya dan tersenyum.

Oliver tidak bicara sepatah katapun hingga sepuluh menit selanjutnya.

“Eh, mmm…Ngomong-ngomong, apa kau tidak ingin memberitahuku ke mana kita akan pergi?” Marry kembali mengoceh. Ia tidak berhenti mengamati pemandangan di luar mobil  sepanjang perjalanan, ini adalah bagian dari kota yang belum pernah ia kunjungi.

Oliver tetap tidak menjawab apapun, pandangannya fokus ke jalanan. Hal ini membuat Marry kesal juga, hingga akhirnya lima menit kemudian berlalu, Oliver memarkirkan mobilnya di depan deretan pertokoan yang asing bagi Marry. Tapi sepertinya tempat ini masih tertera di peta kota.

“Hari ini aku tidak akan mengajakmu ke tempat-tempat mewah, tapi ini pun akan jadi hal yang menarik.” Seru Oliver sambil menarik tangan Marry dan mereka berjalan dengan langkah yang cepat, menembus suasana yang ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang.

“Apa kau kehabisan uangmu?” goda Marry, sekaligus memastikan. Tapi lagi-lagi Oliver tidak menjawab rasa penasarannya. Setelah keadaan tempat yang bisa disebut pasar itu lengang, Oliver melepaskan tangannya dan mereka berjalan lebih santai.

“Kau membawaku ke mana sih? Tempat apa ini?” tanya Marry sambil menunjuk sebuah toko yang menjual banyak pernak-pernik. Tanpa ba-bi-bu lagi, Oliver mengajaknya masuk untuk melihat apa yang ada di dalamnya.

Marry tak henti membelalakkan matanya, takjub melihat lampu-lampu unik berbentuk lampion dan UFO yang digantung dan menyala di langit-langit toko. Lampu berbentuk UFO itu berukuran lumayan besar, dengan diameter satu setengah meter, dan ada lima lampu seperti itu yang dipajang di sana. Mungkin akan lucu jika ia memasangnya di kamar kami.

Marry berjalan menyusuri rak-rak, menuju ke bagian toko yang lebih dalam. Mainan anak-anak hingga hiasan untuk rumah tangga yang belum pernah ia lihat sebelumnya ada di sana.

Sebuah gantungan—aku dan Marry menyebutnya nightmare catcher—berbentuk kepala seorang Indian menarik perhatiannya. Marry berhenti di depannya, mengamatinya untuk beberapa saat. “Kau suka benda itu?” desis Oliver sambil memerhatikan Marry yang terlihat antusias. Marry hanya tersenyum, sesaat ia menoleh ke wajah orang yang berbicara sangat lembut padanya itu.

“Aku punya yang seperti ini di atas tempat tidurku dan Claire. Hanya saja ukurannya tidak sebesar ini. Oh, kupikir aku merindukan kamarku. Boleh aku mengambilnya?” Marry yakin Oliver pasti mau membelikannya, dan anggukan Oliver membenarkannya.

Marry berjalan kembali ke rak yang memajang aneka topeng khas berbagai Negara. Ia mengamit dan memainkannya satu per satu. Oliver hanya menertawakan tingkahnya, derai tawa yang masih saja disuguhkannya dengan cara yang dingin. Tapi Marry tidak begitu peduli.

“Apa yang terjadi?” Oliver tersentak kaget saat Marry menarik tangannya dan memaksanya untuk segera menunduk, bersembunyi. Marry hanya memasang jari telunjuk di depan bibirnya. “Jangan banyak bicara.” Bisiknya. Oliver tak bergeming. Ia memandangi Marry dengan kening berlipat.

“Kau lihat gadis berbaju kuning dan yang berkacamata di sebelahnya itu?” tanya Marry dengan nada cemas. Oliver merasa bingung dan ia hanya mengangguk. “Itu Jeanne dan Hannah, mereka itu teman sekelas adikku. Kalau mereka melihatku dan tahu bahwa aku menghilang, mereka pasti akan melapor pada Claire dan semuanya bisa kacau.”

Oliver mengangguk paham. “Kalau begitu kita harus segera pergi dari sini.” Keduanya menyamakan niat. Saat Jeanne sedang sibuk memerhatikan ornamen kuda poni yang diletakkan di salah satu rak, Marry beringsut keluar sedangkan Oliver membayar barang-barang belanjaannya terlebih dahulu. Lagipula Jeanne dan temannya tidak akan mengenalnya.

Setelah keduanya merasa telah terhindar dari bahaya, mereka tertawa lepas dan melanjutkan kembali perjalanan untuk melihat tempat asing lain bagi Marry dan berbagai kejutan yang disiapkan Oliver. Marry tidak begitu ingin tahu alasan kekurangkerjaanan Oliver menyiapkan semua ini untuknya.

“Apa kau lapar?” Marry tidak menjawab, tapi Oliver sudah tahu apa jawaban dari pertanyaannya. Ia lalu menepikan mobil hitamnya yang mengkilat ditimpa sinar matahari. Mereka kemudian melewati sebuah gang sempit dan masuk ke kedai yang ada di dalamnya. “Kita lebih baik berada di tempat tertutup seperti ini, terlalu berbahaya jika kita bertemu dengan orang yang mengenalmu lagi.” Desis Oliver sambil menduduki kursi kedai itu.

“Steak dan segelas cappuccino.” Ujar Marry kepada seorang pelayan yang berdiri di antara mereka. “Kau tidak memesan apa-apa?” tanya Marry kebingungan. Oliver menggeleng mantap.

Hanya berselang sepuluh menit, Marry sudah dapat menikmati pesanannya. “Aku suapi ya?” tawar Marry padanya. Oliver tetap menggeleng. Mungkin ia tidak lapar, atau ia adalah seorang vegetarian, atau memang ada hal yang Marry tidak tahu. “Ayo, makan ini!” Marry menyodorkan sebuah potongan steak yang ditancapkan garpunya, pada awalnya ia hanya berniat menggodanya, namun reaksinya negatif.

“Jika kau menawarkan aku makanan apapun lagi, aku akan meninggalkanmu sendirian di kota ini atau mungkin mengantarkanmu pulang.” ancam Oliver tiba-tiba, membuat Marry takut dan tak enak hati. Keduanya lalu terdiam sampai Marry memasukkan potongan steak terakhir ke dalam mulutnya.

“Heh, aku ingin bertanya, apa kau masih perawan?” tanya Oliver membuat Marry terhenyak. Terlalu aneh jika pertanyaan itu disampaikan Oliver yang terlihat baik padanya. “Apa maksudmu? Aku bukan seperti remaja California pada umumnya yang merasa dirinya bukan apa-apa jika tidak menjadi liar.” Marry tersinggung. Oliver mengangguk-angguk dan tersenyum puas.

“Keren. Kupikir kau cewek yang mmm… Lalu, apa kau pernah punya pacar?” tanya Oliver lagi-lagi. Marry kembali diam. Menatapnya tajam.

“Tentu saja. Aku pernah berpacaran dengan seorang DJ, atlet pacuan kuda, vokalis sebuah band yang tidak terkenal, jurnalis majalah anak-anak, dan terakhir dengan Nicholas, kapten tim Sandalwood High A yang dipuja-puja semua cewek di  sekolah. Bagaimana menurutmu?” Ceracau Marry dengan ekspresi menantang.

“Jadi apakah kau termasuk cewek super di sekolahmu?” Oliver mengangkat sebelah alisnya. Marry tidak jadi meminum cappuccino yang sudah diangkat cangkirnya. “Aku tidak berpikir begitu. Tapi tidak ada yang tidak mengenal Mariah Appleton.” Marry tersenyum angkuh.

Oliver terbahak tapi ia masih bisa mengamankan wibawanya di hadapan pengunjung kedai lain yang sedang asyik bermain kartu domino dengan lembaran-lembaran dollar dan botol minuman berjejer di meja.

“Bagaimana dengan Ms. Appleton yang satunya? Dia satu sekolah juga denganmu?” Marry mengerutkan keningnya. “Maksudmu adikku? Claire?”

“Tentu. Aku jadi penasaran dengan karakter orang-orang di keluargamu. Jika semua bersikap sepertimu, aku tidak ragu mengapa kau ingin lari dari rumah.” Ujar Oliver dengan sangat inosen. Refleks Marry memukul tangannya dengan garpu steak di piring tapi Oliver sama sekali tidak merasa kesakitan. Marry tidak menduga Oliver tidak merasakan apa-apa.

“Claire. Seorang gadis terlalu cuek pada penampilannya sendiri. Ia mungkin akan lebih memilih tidak menggunakan alas kaki dibanding harus menggunakan heels atau wedges. Lebih suka menghabiskan waktu di rumah atau paling tidak  hang out dengan temannya yang itu-itu saja.  Tidak pernah berani memberontak, aku sadar terlalu kasar untuk menyebutnya pecundang. Tapi ia anak yang baik, ia juga tidak pernah membuat masalah di sekolah jadi ia tidak se-populer kakaknya. Karna umur kami berdekatan, kami jadi terlihat seperti kembar.”

Oliver terlihat menimbang-nimbang. “Apakah bisa nekat seperti yang dilakukan kakaknya saat ini?” gumamnya kemudian. Marry menggembungkan pipinya. “Aku seratus persen tidak yakin. Apalagi diikuti orang asing sepertimu. Ah, dia pasti ketakutan.”

“Dan kenapa kau tidak takut untuk menghabiskan hari-hari dengan orang asing sepertiku? Bagaimana jika seandainya aku orang jahat?” Oliver balik bertanya. Marry menarik napas panjang sambil memikirkan jawaban apa yang tepat untuk diutarakan.

“Setidaknya bersamamu itu lebih baik daripada aku diam di rumah. Aku tidak peduli kau jahat atau tidak, yang jelas kau telah membuatku bahagia. Walau kau akan membunuhku sekalipun, aku lebih senang itu terjadi daripada aku harus mati perlahan di rumah. Jika aku mati di tanganmu sekarang-sekarang, setidaknya aku akan mati dalam keadaan bahagia, muda, dan cantik.”

Oliver kembali tertawa.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s