Signs: Chapter 3 – Pencarian Part 2

images (1)

Kami sudah berada tepat di muka rumah Nick. Dan persis seperti sebelumnya, selalu saja pemandangan sepi yang kami dapatkan. Paul bergerak memasukinya dengan terburu, ia menarik gerbang besi yang berkarat itu hingga berderit. Aku, Elle, dan Reese lalu mengikuti gerakannya.

“Nicholas! Keluar!” Paul kembali berteriak seenaknya. Amarahnya muncul ke permukaan karena ia kesal Nick telah membawa lari Marry dan membuat kami semua kelimpungan. Itupun kalau Marry memang benar-benar menghilang bersamanya.

Untuk sekian kali teriakan yang Paul lontarkan, tidak ada jawaban. Reese berjalan mendekat dan menerawang melalui jendela. Mungkin ada tanda-tanda keberadaan Nick di dalam.

“Sepi.” Desisnya kemudian lalu kembali berdiri di dekatku. “Apa mungkin dia tahu kita akan ke mari lalu ia lari?” Paul bersungut marah. “Kenapa jadi kau yang begitu emosi sih?” Elle mencoba menenangkannya, namun tidak berhasil.

“Karena dia telah menculik Marry. Dan ia telah merepotkan kita semua! Kau sadar, kan?” bentaknya kemudian sambil melirik ke arahku. Aku bisa melihat urat nadi di lehernya menegang.

Jangan heran, sikap di antara kami berempat bisa saja berubah sewaktu-waktu. Namun sepertinya aku tetap berada di posisi selalu diam dan mencoba setenang Reese.

Suara deruman mobil berhenti di depan gerbang seperti jeruji itu. Dan kami melihat Nick turun dari mobilnya. Sendirian. Ia terbengong saat melihat kami berdiri mematung di depan rumahnya. Menunggunya.

“Heh, pengecut! Dari mana saja kau?” Paul mengambil ancang-ancang untuk memukul namun Reese berhasil menahannya dan kini Elle mengunci gerakan Paul dengan sikutnya dan telapak tangannya menutup mulutnya. Nick masih memandangi kami dengan wajah tak berdosa. Ia tidak mengerti apa-apa, atau justru ia sudah mengetahui semuanya namun berupaya bersandiwara.

Reese berjalan hingga jaraknya lebih dekat dengan Nick. Aku mengikutinya. “Di mana Marry?” tanya Reese ketus namun terdengar sangat serius. Ia tidak peduli Nick adalah seniornya di sekolah. Ia tidak peduli mereka itu satu tim baseball di sekolah dan Nick adalah kaptennya.

“Apa maksudmu? Sedang apa kalian di sini?” Nick memandangi kami satu per satu dengan tatapan bingung sekaligus ketakutan. Saat berbicara, bibirnya bergetar. “Kami hanya ingin Marry pulang. Kumohon Nick, beritahu kami di mana Marry.” Desahku kemudian.

“Apa? Marry? Memang apa urusannya denganku?”

“Berhenti berakting!” ujar Paul masih tetap dalam posisinya, Elle melingkarkan tangan ke sekeliling perutnya dengan erat. Menahannya agar ia tidak maju dan melakukan hal yang tidak baik pada Nick.

“Apa yang kalian bicarakan?” erang Nick kemudian. Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada tetangga yang usil memerhatikannya. “Marry sudah hilang dua hari, waktu perginya sama dengan saat kau pergi. Nenekmu yang menceritakannya. Kau pergi dengan seorang gadis. Itu Marry, kan?”

Nick bungkam. Ia tidak segera menjawab pertanyaanku. Matanya malah menatap liar ke seluruh penjuru pekarangan rumahnya. Mencoba mengalihkan perhatian kami. Di situlah kami semakin yakin Marry benar-benar pergi bersama Nick.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang Marry, bahkan aku tidak peduli lagi. Aku memang pergi tapi bukan dengannya. Kenapa sih semua tentang Marry selalu saja dikaitkan denganku?” protesnya. Aku dan Reese saling berpandangan.

“Jangan berbohong, Nick. Kau akan tahu akibatnya!” ancam Reese segera sambil melayangkan pandangan menusuk. Nick mengernyitkan dahinya. “Memangnya kalian mau apa? Melaporkanku ke polisi? Silahkan saja! Aku tidak tahu apa-apa tentang kepergian Marry dan aku tidak peduli!”

Elle melepaskan Paul dan ia melangkahkan kakinya cepat mendekati Nick. Dan…ups. Ia menampar pipi kirinya. Bukan Paul yang seharusnya kami khawatirkan untuk berbuat seperti itu.

“Kalau bukan dengan Marry, dengan siapa kau pergi? Beritahu kami di mana dia sekarang!” Elle meneriakinya dengan nada tinggi. Elle tidak ingat dulu ia sempat naksir Nick. Nick balas memelototinya. Tangannya sudah mengepal. Kami yakin Nick berbohong. Kami yakin Nick menyembunyikan Marry.

“Apa kalian dungu? Aku sudah bilang aku tidak tahu! Lagipula cewek yang bersamaku adalah Liz! Dia pacarku!”

“Teman-teman, apakah kalian percaya padanya?” Paul angkat bicara kembali. Ia tidak berpindah posisi. Jujur, aku tidak tahu apakah Nick berkata jujur atau tidak. Hanya saja gelagatnya memang seperti orang sedang menyembunyikan sesuatu.

“Terserah kalian saja!” Nick mendengus dan berjalan menjauhi kami. Membuka gerbang lebih lebar dan ia memindahkan mobilnya ke dalam garasi. Saat mobilnya melewati kami, Paul menendang bagian belakang mobil dengan sepatu bootsnya.

Nick turun dari mobilnya segera.

“Maumu apa?” Ia sudah siap mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Paul. Aku dan Reese menahannya sedangkan Elle sibuk mencari sesuatu di dalam mobil Nick. Siapa tahu  Marry disandera di dalam.

“Katakan pada Marry untuk segera pulang!” jawab Reese segera. Paul dan Nick masih saling memelototi satu sama lain. Paul tak henti memandanginya dengan tatapan menuduh.

“Kenapa kalian tidak mencari ke teman-teman dekatnya?” desah Nick frustasi. “Sudah. Dia tidak ada di sana.” Jawabku kemudian. Tanganku sibuk mencengkram lengannya namun tidak ada perlawanan yang berarti darinya. Reese kemudian menatapku dan menyuruhku mundur, aku melepaskannya.

“Dan mengapa kalian percaya pada mereka sedangkan padaku tidak?”

“Mengapa kami harus percaya pada penipu yang sebenarnya?” desis Paul yang langsung dihadiahi upaya Nick untuk memukulnya. Reese benar-benar kerepotan melerai mereka berdua.

“Sepertinya kita harus mencari cara lain jika Nick tak mau mengaku juga.” Elle berbisik di telingaku. Ia lantas maju membantu Reese untuk menarik Paul.

“Pergilah sebelum aku memanggil security!”

Kami berlima lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu rumah yang dibuka. Nenek Nick keluar dengan membawa setoples chocolate cookies. “Nicholas, akhirnya kau pulang. Ajak teman-temanmu masuk! Nenek baru saja membuat kue.”

Kami semua berpandangan. Reese melepaskan cengkramannya dari baju Nick dan Paul lalu berpura-pura merapikannya.  “Mereka tidak akan lama di sini, Nek!” seru Nick dengan suara yang lantang.

“Benar begitu?” sahut Nenek kembali. Nick melihat ke mata kami dan semuanya membuang muka kecuali aku.

“Ya, benar sekali! Kami harus pergi! Sampai jumpa, Nick! Besok kita bermain lagi. Jika kau ingin pergi tolong beritahu kami. Kami khawatir, apalagi nenekmu. Jangan lupa besok!” teriak Paul kemudian. Kami mendongak ke arahnya, merasakan ada sesuatu yang menggelitik.

Aku dan Elle kemudian tersenyum ke arah Nenek sambil berjalan keluar dari pelataran rumah. Reese melakukannya juga di belakangku. Paul pun begitu, hanya saja sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, ia sempat berbisik sesuatu di telinga Nick. “Urusan kita belum selesai!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s