Signs: Chapter 3 – Pencarian Part 1

images (1)

Marry, di mana kau? Cepatlah pulang! Kau begitu merepotkan kami! Kalau kau bukan kakakku

, aku sudah pasti membiarkanmu pergi dan tidak perlu pusing-pusing mencarimu. Tapi kenyataannya tidak berkata begitu, dan aku harus bisa menerima sebuah kalimat bahwa tidak etis bila seorang adik dapat menikmati liburan dengan senang tanpa mendapat kabar dari kakaknya yang hilang.

            Setelah kami menyantap burger—yang setidaknya dapat mengganjal perut, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari Marry. Apapun akan kami lakukan walaupun tak jarang hanya nihil yang kami dapatkan. Aku tidak pernah menyerah, lagipula aku tidak sendirian. Paul dan Elle masih setia menemaniku. Terutama Reese dengan mobil van tua berwarna coklat pudarnya yang setia mengantar kami ke mana-mana.

Saat itu hari sudah sore,  van milik Reese meluncur di jalanan Atlantic Boulevard. Hari ini kami benar-benar menempuh perjalanan yang cukup jauh meski hasilnya tetap saja tidak menunjukkan bahwa Marry akan segera ditemukan. Sebelumnya—setelah kami membeli burger FEBO, kami sempat mengulik-ulik isi department store lain yang ada di sekitar tempat itu. Tapi tetap saja hasilnya nol besar.

“Apa kau percaya kita akan menghabiskan waktu liburan untuk mencari Marry?” desah Elle sambil meniup poni yang menutupi dahinya. Aku mengerti perasaannya. Marry benar-benar menyebalkan!

“Setidaknya itu lebih baik dibanding kita tidak bertemu Marry sama sekali untuk liburan kedepannya.” Reese ikut ambil bagian bicara. Ia memicingkan matanya karena terik matahari menembus kaca mobil. “Apa kita perlu mencarinya ke airport?” ujarku berusaha untuk tidak memulai perdebatan di antara mereka. Panas membuat emosi kami ikut mengepul.

“Memangnya dia akan pergi ke mana? Apakah Nick akan mengekspornya ke luar negeri?” sahut Paul sambil mengibas-ngibaskan sebuah majalah ke tubuhnya. “Hey, Reese. Kau membaca majalah cewek?” celotehnya kemudian. Reese menatapnya tajam dari balik kaca spion yang memantulkan sosok Paul. “Jangan sentuh benda milik Ashley, ia akan marah padaku.” Timpalnya kemudian. Paul hanya terkekeh dan kini ia iseng membuka satu per satu halaman majalah yang digenggamnya. “Keliatannya menarik juga.”

Reese mendelik ke arahnya.

“Apakah kita benar-benar akan mencari Marry ke airport?” tanyanya kemudian, padaku, karena Paul dan Elle sibuk dengan pikirannya masing-masing. “Lupakan saja, Reese. Sepertinya bukan ide yang bagus. Lagipula Marry tidak akan pergi ke mana-mana, ia tidak akan berani meninggalkan Florida.”

Reese mengangguk. Ia hampir tidak pernah memprotes perkataanku.

“Panas sekali, apakah ini efek global warming?” gerutu Elle. Sebenarnya ia bukan tipikal gadis yang terlalu cerewet apalagi untuk hal-hal ilmiah seperti itu, hanya saja kondisi panas ini memang cocok untuk diumpat. “Apa kau lupa ini musim panas?” Paul mendorong kepala Elle dengan jari telunjuknya.

“Oh ya, bahkan aku lupa kita sedang menikmati liburan musim panas.” Sudah pasti, ucapan Elle akan mengarah pada kesia-siaan liburan gara-gara sibuk mencari Marry. “Tenanglah, Elle. Kita masih punya waktu lebih dari dua bulan lagi untuk menikmatinya.” Aku mencoba menenangkannya, berharap ia tidak menyesal telah membantuku.

“Tapi memang sih, setidaknya liburan dengan kalian seperti ini lebih mengasyikkan dibanding menunggu Jason—anjing peliharaan ibuku di salon anjing  selama berjam-jam.” Ocehannnya kembali membuat kami tertawa. Aku melirik ke arah Paul yang kini diam saja. Ternyata ia sedang asyik membaca majalah milik Ashley, adik perempuan Reese.

“Kalau begitu seharusnya kau—“ ucapanku terpotong oleh getar ponselku. Kuambil dari saku celana yang kupakai dan kulihat nomor Jeanne tertera di layar. “Jeanne menghubungiku.” Ujarku yang langsung disambut dengan hentakan kaki Reese yang menginjak rem. Ia lalu menepikan mobil di pinggir jalan.

“Kau tidak bohong, kan?” tanyaku setelah Jeanne menuturkan sesuatu. Reese, Paul, dan Elle memandangiku dengan tatapan menyelidik. “Baiklah, Jeanne. Terimakasih. Hubungi aku jika kau menemukan informasi lain. Bye.” Ujarku sambil menutup telepon. Ketiga di antara mereka masih memandangiku dengan harap-harap cemas.

“Apa yang ia katakan?” Elle mengumpanku untuk bercerita. Reese membalikkan tubuhnya dan bergerak mendekatkan wajahnya pada kami yang duduk di belakang.

“Tadi Jeanne bertemu dengan Nick, Hanya saja Nick sendirian. Lalu ia memutuskan untuk membuntutinya. Setelah itu ternyata Nick pulang ke rumahnya.”

“Apa hubungannya dengan Jeanne? Apa kau memintanya untuk mencari Marry juga?” tukas Reese kebingungan. Aku mengangguk mantap. “Tadi aku dan Elle bertemu dengannya di JCPenney dan kami memintanya untuk menghubungiku jika mendapatkan informasi.”

“Tunggu, Jeanne bilang Nick hanya sendiri. Lalu di mana Marry?” tanya Elle mencoba menelaah informasi. Aku, Reese, dan Paul saling berpandangan. Lalu Reese mengencangkan seat beltnya kembali, ia sudah siap memainkan kemudi. “Kita tanyakan saja pada Nick!”

            “Kapan kau ingin aku mengantarmu pulang?” ujar Oliver sambil mengeluarkan beberapa kantong belanjaan milik Marry dari dalam mobilnya. Marry tak menggubris, ia sibuk memutar kunci kamar hostelnya. “Pulang? Ini kan aku sudah pulang.” Desahnya sambil mengeluarkan ekspresi lega saat ia berhasil membuka pintu.

“Maksudku ke rumah aslimu.” Balas Oliver segera sambil menyimpan kantong-kantong belanjaan itu. Ia lalu membuka jendela dan duduk di tepiannya.

“Kupikir kau akan membiarkanku tinggal seperti ini selamanya.” Marry merenggut kecewa. Aku tidak ingin pulang. Ayo kita membangun kehidupan baru, Oliver! Pekiknya dalam hati. Kini Oliver memandanginya yang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang yang telah dibelinya.

“Kau benci rumahmu ya?” tebaknya. Marry menatapnya lalu mendelik. “Aku tidak membenci rumah, hanya pada orang-orang yang ada di dalamnya.” Sahutnya dingin. Berbicara mengenai suasana rumah, sebentar lagi ia akan meledak.

“Memangnya kenapa?”

Marry bangkit, seperti ada sesuatu yang menyulutnya. “Pokoknya aku tidak suka mereka! Aku punya seorang ibu yang selalu cengeng menangisi suami barunya yang berengsek. Dari awal aku tidak menyetujuinya! Suaminya itu sudah seperti kerasukan setan setiap waktu. Dan adikku Claire, apa yang dilakukannya? Diam dan pasrah tanpa perlawanan. Dia seperti kutu!” ujarnya sambil membentak-bentak Oliver, seolah Oliver harus bertanggungjawab atas  keluarganya yang hancur.

“Hey, tenanglah sedikit. Memangnya apa yang dilakukan ayah barumu itu?”

“Cih! Aku mual mendengarnya di sebut ayah. Bagiku ia lebih pantas disebut sampah masyarakat. Tidak berguna! Kerjanya hanya tidur dan menyiksa ibuku baik mental ataupun fisik. Yah, mungkin ia punya kelainan jiwa.” Oliver lalu melempar sebotol air mineral ke arahnya dan Marry menangkapnya sambil kebingungan. Beberapa saat kemudian tutup botol itu diputar dan ia menikmati beberapa tegukan air tanpa rasa itu.

“Dan kenapa adikmu itu diam saja? Apakah ia seorang introvert[1]?” Oliver menangkap lemparan balik botol minuman itu dari tangan Marry. Ia lantas melakukan hal yang sama, meminumnya. Marry mengangkat bahu. “Aku tidak tahu, ia terlalu pecundang. Atau mungkin ada kerusakan di jaringan otaknya? Entahlah.” Ujar Marry asal. Ia begitu menikmati alur bicaranya yang tidak mengenakkan untuk didengar dari seorang gadis belia.

“Aneh. Kau bisa menjelek-jelekkan adikmu sendiri begitu.” Oliver berhasil membuat Marry memanyunkan bibirnya. “Aku tidak menjelek-jelekannya! Ini kenyataan! Semua selalu saja memuji-muji Claire padahal ia tak ada apa-apanya. Anak macam apa yang tidak bergerak sama sekali saat melihat Mom dipukuli Jer?” Marry lalu menduduki tempat tidur dengan hantaman yang keras.

Oliver memandangi langit sore melalui jendela, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Heh, kau tidak akan tidur di sini, kan?” tanya Marry sambil menarik selimut dan menutup tubuhnya.

Oliver mengalihkan pandangannya pada Marry dengan cepat. “Tidak. Kenapa memangnya? Kau ingin aku tidur di sini dan kau di luar? Atau justru kau ingin kita tidur bersama?” timpalnya sambil tersenyum menggoda. Marry sudah siap melemparnya dengan sepasang heels yang baru saja dibelinya, dibeli dengan uang Oliver maksudnya.

“Kau akan pulang ke rumahmu?” giliran Marry yang bertanya, kini posisinya rebahan di atas tempat tidur. Oliver mengernyitkan dahinya. “Aku kan sedang lari dari rumah, jika aku pulang dalam waktu sehari. Itu tidak asyik!” desisnya kemudian, ia tidak tahu ucapannya barusan sungguh membuat Marry lega. Marry mengacungkan kedua jempolnya.

“Tidakkah kau ingin cerita padaku alasanmu pergi dari rumah?” Marry menatapnya penuh harap. Oliver menggeleng cepat. “Ih, tidak adil! Aku kan sudah menceritakan alasanku padamu!”

Oliver tersenyum. Ia kemudian bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah pintu. “Besok pagi aku akan menjemputmu, kita bersenang-senang lagi. Sampai jumpa!” Oliver mengedipkan sebelah matanya dan menutup pintu dari luar.

Marry masih terbengong-bengong sendirian. Apa yang dilakukannya hari ini adalah benar-benar luar biasa. Oliver benar-benar misterius, tapi ia menyukainya. Makhluk tampan yang royal pada orang yang baru dikenalnya sepertinya hanya akan ada dalam sebuah novel atau skenario film. Tapi ini semua nyata! Barang-barang yang dibelinya dengan uang Oliver pun bukan fatamorgana.

Dia tampan, keren, baik, kaya, misterius, dan yang lainnya! Setidaknya kalaupun dia itu jahat, aku lebih sudi diculiknya daripada harus berdiam diri di rumah!

Marry membenamkan wajahnya pada bantal sambil tersenyum-senyum sendirian.***


[1] Orang yang tidak ramah sosial, selalu lebih memilih mengasingkan diri/menyendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s