Signs: Chapter 2 – Teman Baru Part 3

images

“Kurasa sebaiknya kau bisa bergerak lebih cepat, kita sudah hampir empat jam di sini.” Ujar Oliver yang masih berdiri di luar kamar pas sebuah pusat perbelanjaan. Ia benci menunggu Marry yang sejak tadi sibuk berkutat memilah mana yang akan menjadi pakaian barunya.

“Kau bilang aku boleh memilih sesukamu! Kau kan sudah membuang semua pakaianku! Kau mau ingkar janji, ya?” Marry memandangnya dengan tatapan menusuk. Tangannya menjinjing dua potong celana jeans.

“Aku tidak bilang aku ingkar janji, hanya saja bergerak cepatlah.” Sahut Oliver yang tak dapat lagi menyembunyikan ekspresi kesalnya. Marry keluar sambil mendengus dan berjalan menuju rak, mengaitkan celana yang dibawanya pada gantungannya dan menyimpannya.

“Sudahlah, dua potong baju saja sudah cukup untuk mengganti pakaian seisi tasku. Aku harus mengerti bahwa mungkin perbekalanmu untuk kabur dari rumah tidak banyak.” Marry mencibirnya. Oliver merangkulnya sambil tersenyum. “Aku tidak mengerti wanita itu lelet dan terlalu selektif saat berbelanja, sudahlah, ambil semua yang kau mau dan kita pergi dari sini.”

Marry tidak sanggup menyela apapun, ia lalu mengamit beberapa helai pakaian dan membawanya ke meja kasir. Oliver tidak menunjukkan ekspresi keberatan, kurang dari waktu sepuluh menit mereka sudah berada di basement dan keduanya memasuki Volkswagen Polo hitam milik Oliver yang terparkir.

Orang-orang yang ada di sekitarnya berpura-pura tidak memerhatikan mereka, banyak wanita kagum melihat ketampanan Oliver, dan mereka iri pada gadis yang menemaninya. Bahkan hingga Oliver melajukan kendaraannya, tidak ada yang dapat mengalihkan pandangan mereka.

“Kenapa semua orang memerhatikan kita?” tanya Marry kalut. Sesekali ia menengok ke belakang sampai keempat ban mobil sudah tak lagi menggelinding di atas aspal pelataran JCPenney.

“Justru itu aku ingin cepat-cepat pergi, aku tidak suka menjadi pusat perhatian.” Oliver sama sekali tidak melirik pada Marry saat berbicara. Matanya lurus menerawang ke jalanan. Wajah tampannya yang dingin itu kembali datar, tangannya lalu bergerak-gerak mencari kacamata hitam untuk menghindari cahaya yang menembus kaca dan menyilaukan matanya.

“Kau butuh ini?” Marry mengulurkan kacamata itu. Oliver memungutnya tanpa suara. Kadang dia begitu asyik tapi tak jarang ia juga dingin. Namun dia adalah orang yang tidak akan aku tinggalkan untuk saat ini, batin Marry. Oliver lalu melirik ke arahnya dan tersenyum. Seolah bisa mendengar bisikan hati Marry dan merasa tersanjung.

Marry balas tersenyum. Ia begitu senang bisa berada di dekat Oliver, tanpa sedikitpun noda kecurigaan menghinggapinya. Ia percaya penuh bahwa Oliver adalah orang baik yang tak akan mencelakainya. Entah naluri itu muncul dari mana, tapi baginya pria yang baru dikenalnya selama sehari itu benar-benar membuatnya nyaman.

“Apa kau lapar?” Oliver akhirnya membuka mulut setelah sekian menit ia terdiam. Marry dengan cepat mengangguk, “Kau polos sekali.” Ledeknya membuat Marry melotot.

“Kau sendiri kan yang bertanya apakah aku lapar!” potong Marry membela diri. Oliver hanya menyeruakkan tawanya, menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya yang rapih. “Baiklah, aku sedang tidak ingin makan. Tapi aku tak ingin kau kelaparan.” Ujar Oliver sambil memarkirkan mobilnya di area parkir La Place foodcourt  yang tidak jauh dari tempat mereka menghabiskan waktu sebelumnya.

Tidak lama setelah Marry dan Oliver keluar dari JCPenney Department Store, Reese berhasil menepikan mobilnya di area parkirnya.  Kami lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung itu dengan langkah cepat, aku dan Reese memimpin di depan sedangkan Paul dan Elle membuntuti kami di belakang.

Saat kami memasuki lorong tempat perbelanjaan untuk peralatan dan aksesoris sepeda motor, Paul kemudian menghentikan langkahnya dan sibuk mengamati sesuatu. Reese segera menghampiri dan menarik tangannya. “Kau ingat tujuan awal kita ke sini  kan, Bodoh?”

Mereka lalu berjalan cepat menyusulku dan Elle yang sudah menaiki tangga berjalan lebih dulu. Tidak sabar dengan kecepatan eskalator yang begitu lamban, kami melompati anak tangganya satu per satu, di tengah orang-orang yang mencengkramkan tangannya erat pada pegangan escalator yang terbuat dari stainless steel.

Keputusan yang diambil tanpa musyawarah menunjukkan bahwa aku dan Elle akan mencari Marry di tempat pakaian-pakaian dipajang di lantai atas. Sedangkan Reese dan Paul tetap berkutat di lantai satu, berlalu lalang mencari Marry dengan menyusuri rak-rak makanan dan produk-produk kecantikan.

Aku dan Elle pun berpencar. Aku mencari ke tempat pakaian perempuan sedangkan Elle ke tempat laki-laki. Kami berlari ke sana ke mari dengan pandangan menyerbu segala penjuru ruangan.

Elle memusatkan perhatiannya pada rak sepatu pria. Berharap ia dapat menemukan Marry dan juga Nick di sana. Ia berjalan begitu cepat dengan sorot mata mondar-mandir sehingga tanpa sadar ia hampir saja menabrak poster yang disangga sebuah besi.

Dari jauh ia melihat sosok gadis yang perawakannya mirip dengan Marry, rambutnya panjang dan ikal berwarna pirang. Tinggi tubuhnya pun persis dengan Marry. Ia lantas berlari untuk menghampiri gadis itu. Hanya saja gadis itu berjalan sendirian, tapi siapa peduli? Mungkin saja Nick meninggalkannya ke bagian lain. JCPenney kan luas.

Aku bertanya pada satu per satu pengunjung dengan menunjukkan foto Marry yang ada di ponselku. Namun di antara mereka sama sekali tidak ada yang mengetahuinya. Uh, kupikir sebentar lagi Marry akan dikenal seantero Jacksonville.

“Claire, sedang apa kau di sini?” Seseorang menepuk pundakku. Dan ketika aku berbalik aku melihat  Jeanne—teman sekelasku di Sandalwood High School. Ia lantas tersenyum, memamerkan gigi-giginya yang dipagar dengan kawat gigi berwarna hijau. “Marry belum pulang sejak kemarin dan aku sedang mencarinya.”

“Oh, kakakmu itu menghilang saat musim liburan seperti ini, benar-benar super. Tidakkah ia berlibur bersama teman-temannya?” Komentarnya singkat. Sebenarnya aku ingin cepat-cepat pergi dan meninggalkan Jeanne, masih banyak hal yang harus kulakukan, namun tidak sopan bila aku harus pergi begitu saja.

“Apakah kau melihatnya? Atau mungkin kau melihat Nick? Kami curiga ia pergi bersamanya.” tanyaku dengan intonasi cepat. Aku tidak dapat menyembunyikan ekspresi bahwa aku sedang terburu-buru. “Nick? Maksudmu Nicholas mantan pacarnya? Nicholas yang menjadi kapten baseball sekolah kita?” ia balik bertanya. Aku cepat-cepat mengangguk. “Ya, apakah kau melihatnya?”

“Kemarin aku bertemu dengannya, tapi ia sendirian. Ia menyapaku di bengkel Jerry’s  Pump Service” jawabnya. Ah, mungkin ini sebuah informasi penting. “Dan apa yang ia lakukan?” tanyaku kembali. Jeanne dengan cepat mengedikkan bahu.

“Claire, eh hai Jeanne!” Elle menghampiri kami. Jeanne melambaikan tangannya. “Aku sudah mencari di mana-mana tapi tak ada.” Bisik Elle di telingaku. “Apa kau mau aku membantu kalian mencari Marry juga?” kata Jeanne segera.

“Oh, tak perlu. Hanya saja jika kau menemukan Nicholas atau Marry, tolong hubungi aku.” Timpalku segera dibarengi dengan anggukan cepat Jeanne. Aku dan Elle segera berpamitan untuk menemui Reese dan Paul di bawah.

“Ada hasil?” tanya Paul saat aku dan Elle menghampirinya. “Apa kau lelah, Claire?” ujar Reese yang langsung dihadiahi jitakan dari Elle. “Modus di waktu yang tidak tepat, Reese.”

“Aku baik-baik saja, akan lebih baik jika kita berhasil menemukan Marry.” Jawabku spontan. Ia lalu tersenyum cerah disambut oleh cibiran dari Elle dan Paul. Kami lalu berjalan keluar setelah memastikan Marry ataupun Nicholas tak ada di dalam.

“Aku lapar. Kita sudah hampir seharian mencari Marry, bisakah beristirahat dan makan?” Desis Elle sambil memegangi perutnya. Kami semua mendongak ke arahnya. “Bagaimana jika kita pergi ke La Place sebentar?” tanya Reese kemudian sambil menyalakan mesin mobil. “Aku tidak bawa banyak uang, Reese.” Elle berhenti sejenak untuk mengambil napas. “Lebih baik kita beristirahat sejenak dan menikmati burger FEBO.”

Advertisements

2 thoughts on “Signs: Chapter 2 – Teman Baru Part 3

  1. Hyo-won says:

    Grace, I alr read all published stories of this. I enjoy it and hv many questions in ma mind, would you kindly tell me if you publish new chapter? (I know you will do, heheh.) anw nice story, keep up ur good writing :]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s