Signs: Chapter 2 – Teman Baru Part 2

images

Sudah hampir lebih dari tiga puluh jam Marry meninggalkan rumah. Kami semua mengkhawatirkannya. Ya, kami semua. Kecuali Jer.

Bahkan teman-temanku seperti Reese, Elle, dan Paul pun sedang sibuk membantuku mencarinya. Kami mendatangi rumah teman-temannya satu per satu, namun tak ada jawaban yang mengarah pada keberadaannya. Terang saja, hampir semuanya menjawab serempak ‘tidak tahu’.

Tadinya kami berniat akan melaporkan kehilangannya ke kantor polisi, namun sudah pasti hal itu justru akan membuat Marry semakin tidak ingin pulang. Jadi, niat itu kami batalkan. Aku benar-benar pusing, tanpa ketiga sahabatku, entah apa yang bisa kulakukan. Benar-benar tidak ada clue mengenai kepergiannya.

Aku tahu, Mom jauh lebih mencemaskannya dibanding aku. Mungkin ia merasa bersalah, walaupun aku tahu itu tidak murni seratus persen kesalahannya. Marry memang berkepala batu, ia selalu bersikukuh dengan apapun kemauannya. Termasuk untuk lari dari rumah, tidak ada yang dapat mencegahnya.

Malam saat sorenya Marry pergi, aku benar-benar tidak bisa tidur. Pikiranku terus melayang dengan perasaan takut terjadi apa-apa padanya. Bukan apa-apa, tak jarang Marry bersikap sembrono sehingga aku tidak dapat memastikan ia terhindar dari bahaya.

Mom pasti mengkhawatirkannya lebih dari itu, ia tak henti-hentinya menangis. Aku sudah berulang kali menenangkannya dan bilang bahwa Marry akan segera pulang, namun tak jua  berhasil membuatnya pergi untuk tidur. Terlebih Jer yang terkutuk itu semakin memperparah keadaan.

Kini jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Mom terkulai lemas di atas sofa di dekat perapian dengan mata sembabnya. Sepertinya tanpa sadar ia tertidur. Aku tidak tega melihatnya, namun bila aku memindahkan posisinya, otomatis ia akan terbangun dan kembali pusing memikirkan anak sulungnya yang belum pulang.

Mencari Marry dan membawanya pulang adalah tugasku.

Reese sudah memakirkan mobil van milik ayahnya di depan rumah. Aku tahu Elle dan Paul juga ada di dalamnya. Yang perlu kulakukan saat ini adalah bergabung bersama mereka dan mendatangi kediaman Nick, mantan pacar Marry. Siapa tahu ia pergi ke sana, karena tiapkali bertengkar dengan Mom, Marry akan pergi menemui Nick—itu terjadi sewaktu mereka pacaran sih.

Saat kami memasuki pelataran Hortland Square yang merupakan kompleks perumahan Nick,  kami harus berputar-putar terlebih dahulu karena tak ada satupun di antara kami yang mengetahui di mana letak rumahnya yang pasti.

Elle mengaku pernah mengantar Marry menemui Nick ke rumahnya, namun itu sudah hampir setahun yang lalu dan kini ia sudah tidak ingat apa-apa lagi. Reese berulang kali memainkan kemudi dan bernapas pasrah saat Elle selalu saja menunjukkan jalan namun pada akhirnya ia meminta memutar balik.

“Kau benar-benar tidak ingat?” Reese membuang napasnya, menahan kesal. Aku dan Paul hanya mengikuti dan berharap saja. Tak ada tindakan kami yang begitu berarti.

“Aku menyesal dengan ingatan jangka pendekku, Reese.”

Reese kemudian mematikan deruman mesin mobil di dekat sebuah pohon chinaberry berukuran besar. “Sebaiknya kita menunggu di sini sampai Elle mengingatnya, kalau tidak kita hanya akan menghabiskan bahan bakar.” Ujarnya kembali, mencoba untuk tetap tenang.

Elle kemudian memandangi sekeliling. “Lagipula mengapa kita harus bertanya pada Nick? Aku tidak yakin Marry masih membutuhkannya.” Desah Paul sambil mengelap keringatnya dengan sapu tangan. Aku dan Elle memandanginya sejenak dan membuang muka. “Aku sih lebih kepikiran untuk bertanya pada Nick daripada bertanya pada nenek moyangmu.” Timpalku segera.

“Eh! Sepertinya aku kenal rumah itu. Ya, mungkin itu.” Elle menunjuk sebuah rumah bercat kuning yang sudah pudar dengan pekarangan luas dilapisi paving block. Kami hanya perlu  berjalan lima belas meter untuk dapat menjangkaunya.

Tanpa komando, kami melangkah beriringan, namun Reese lebih memilih diam di mobil. Aku tidak bisa memaksanya untuk ikut bersama kami, wajar bila Reese merasa lelah. Apa yang telah ia lakukan untukku kurasa sudah lebih dari cukup. Ia sudah sepatutnya mendapatkan lebih dari sekedar ucapan terimakasih.

“Mmm… Apa kau yakin Marry ada di sini?” tanyaku sambil memicingkan mata kala melihat pelataran rumah Nick yang begitu berantakan oleh daun-daun yang berjatuhan. Daun-daun berbentuk menjari yang kering seperti tangan keriput.

Tempat tinggal Nick tampak seperti rumah tak berpenghuni. Awalnya kami merasa ragu untuk semakin mendekat ke rumah itu, tapi tidak ada pilihan lain. Siapa tahu Marry ada di dalam. Paul kemudian memberanikan diri untuk membuka gerbang dan berteriak-teriak memanggil nama Nick, bel rumah yang sudah sekian kali kutekan tidak berfungsi.

Setelah berselang cukup lama, seorang wanita tua dengan rambutnya yang hampir keseluruhan beruban membuka pintu dan berjalan ke arah kami. Mungkin saja itu ibu Nick, atau juga neneknya. Aku tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah apakah Marry ada bersamanya.

“Bisa kami bertemu dengan Nick?” tanya Elle dengan lembut. Wanita itu tidak menjawab namun ia balik bertanya “Apakah kalian menemukan Nicholas?”

Kami saling berpandangan. Paul lantas berbicara dengan volume suara yang keras. “Kami justru sedang mencari Nick. Apakah ia ada di sini?”

Wajah wanita berkacamata plus itu lalu merenggut kecewa. “Ia belum pulang sejak kemarin.” Jawabnya. “Apakah kau tahu ia pergi ke mana dan dengan siapa?” tanyaku. Ia diam saja. Paul lantas kembali berteriak “Apakah kau tahu ia pergi ke mana dan dengan siapa?”

“Terakhir aku mendengar ia sedang berbicara dengan seorang gadis seusia kalian lalu kemudian mereka pergi. Nick tidak pulang dan tidak memberi kabar sejak kepergiannya kemarin. Aku tidak tahu ke mana Nick pergi tapi aku sudah menyuruh paman dan bibinya untuk mencarinya. Bisakah kalian membantu keluargaku untuk mencari cucuku?”

Ah, bisa jadi Nick memang pergi bersama Marry. Aku menatap keduanya lalu mengangguk mantap pada nenek Nick. Yang harus kami lakukan saat ini adalah mencari Nick dengan si gadis yang kemungkinan besar adalah Marry itu.

“Lalu kita akan mencarinya ke mana?” tanya Paul sambil menutup pagar besi yang sudah berkarat. Kami kini meninggalkan rumah Nick dan berjalan kembali menuju mobil tempat Reese menunggu.

“Mungkin sebaiknya kita mencarinya di JCPenney, kau kan tahu Marry suka sekali belanja.” Elle memberi saran. “Tapi seingatku ia hanya membawa uang tak lebih dari sepuluh dollar.” Sanggahku.

“Tapi kan dia bisa memanfaatkan Nick, meski ia hanya sebatas mantan pacarnya.” Sahut Elle kembali. Aku hanya mengangguk-angguk dan masih mencerna kata-katanya. Masuk akal. “Tidak ada salahnya kita mencoba, Marry memang mungkin saja ada di sana.”

“Ya, dasar perempuan gila belanja.” Umpat Paul dingin.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s