Signs: Chapter 2 – Teman Baru Part 1

images

Marry merutuki kesialannya malam ini. Ia masih harus terus berjalan menyusuri sepanjang trotoar yang terhampar di jalanan jantung kota Jacksonville ini. Lampu-lampu terus saja terang redup dan begitu gemerlap. Jalanan tidak mungkin sepi bahkan untuk beberapa jam ke depan. Masih banyak orang berlalu lalang namun tak ada satu pun di antara mereka yang ia kenal.

Pasalnya, Marry tak punya sepeser uang bahkan berbentuk koin sekalipun untuk menyewa sebuah kamar di losmen apalagi hotel berbintang untuk mengistirahatkan tubuhnya malam ini saja. Parahnya lagi ia benar-benar tidak tahu akan ke mana dan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Mungkin ia hanya menantikan nasib baik kembali datang.

Pikiran Marry melayang-layang. Seandainya ia tidak pergi dan tetap di rumah, ia pasti tidak harus susah-susah melakukan ekspansi seperti ini hanya untuk tujuan yang tidak jelas. Ia membayangkan sedang tertidur nyenyak di sampingku atau menonton televisi di kamarnya bersamaku. Sejenak ia merindukan orang-orang yang ditinggalkannya, namun saat bayangan Jer menghampiri lamunannya, Marry batal menyesal telah pergi.

Marry berjalan perlahan dan langkahnya semakin gontai tak beraturan. Ia sesekali memegangi perutnya yang kosong belum teraliri makanan sejak pergi meninggalkan rumah. Cacing-cacing di dalam perutnya mulai membentuk koor dan menjerit-jerit kelaparan.

Ia merasa sangat miskin malam ini.

Marry berniat untuk menghubungiku, namun ia mengurungkan niatnya saat melirik jam tangan pink kesayangannya, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ia pasti berpikir aku sudah tertidur pulas, padahal tanpa sepengetahuannya aku sama sekali tidak bisa tidur karena meresahkan keberadaannya.

Saat pandangannya mulai memburam di tambah dengan suasana malam yang temaram, Marry mulai merasa sesak dan begitu lemas. Ia berhenti berjalan dan menepi, menyandarkan tubuhnya ke dinding pembatas jalan. Pendengarannya mulai melemah, deruman kendaraan-kendaraan bermotor yang berseliweran di sampingnya semakin lama tidak terdengar lagi.

Marry tidak sadar seseorang tengah memerhatikannya dengan serius. Bahkan mungkin ia telah menguntit Marry sejauh ia berjalan. Orang itu menyilangkan tangan di dadanya, terus fokus memandanginya. Dan tiba-tiba orang itu berlari mendekati Marry saat tubuh lunglainya tergolek ke lantai trotoar.

            Marry membuka matanya perlahan, sinar matahari yang menelusup menembus jendela membuat matanya menyipit. Sambil mengucek matanya ia memandangi sekeliling. Asing dengan keadaan tempatnya kini berada. Ia terkejut saat mendapati tubuhnya berada di atas sebuah tempat tidur dengan seprei tipis berwarna putih tulang tanpa corak.

Selain itu, ia juga merasa aneh saat melihat pakaian yang dikenakannya berbeda dengan yang ia gunakan sebelumnya. Kali ini ia hanya menggunakan sebuah simple dress dengan corak bunga-bunga berwarna merah jambu. Mini gaun yang digunakannya itu tampak kusut karena digunakan untuk tidur. Marry tidak mengerti kapan dan bagaimana caranya ia berganti pakaian tanpa menyadarinya.

Marry terbalalak saat beradu pandang dengan seseorang dengan celana jeans dan kaus serba hitam menyandar di dekat pintu. Melihat dari wajah dan perawakannya, mungkin usianya hanya berbeda dua atau tiga tahun dari Marry. Sepertinya Marry pernah bertemu cowok itu. Ya, dialah orang yang ia cari karena telah membayar uang di tempat pemandian umumnya tadi malam.

Orang itu lalu berjalan mendekat dan mendudukkan tubuhnya di dekat Marry. “Siapa kau?” tanya Marry dengan suaranya yang parau, tenggorokannya terlalu kering. Cowok berambut gelap itu hanya menyunggingkan senyum tanpa menggubris pertanyaannya. Dalam hati Marry bergumam, cowok ini jauh lebih tampan dari siapapun yang pernah dilihatnya. Termasuk Nick.

“Bisa kah kau ceritakan bagaimana aku bisa sampai di sini?”  ujar Marry dengan nada memaksa. Orang yang ada di hadapannya itu menatapnya penuh maksud dan dengan gerakan cepat ia segera mendekatkan wajahnya ke hadapannya. Marry bisa merasakan napasnya yang begitu dingin.

“Aku Oliver Sawn. Selamat datang dalam permainanku.” Ucapnya sambil menarik tubuhnya menjauhi Marry kembali. Marry bergidik. Ia lantas memandang sekeliling dan menerawang ke luar jendela, memastikan apakah ada orang lain di sana.

“Hah? Permainan? Permainan apa? Di mana aku sekarang?” Marry menegakkan tubuhnya dengan perasaan tegang, mencoba untuk bangkit meski tubuhnya masih terasa lemas.

“Bukan apa-apa. Kemarin aku menemukanmu tak sadarkan diri dan segera membawamu ke sini. Kuharap kau senang mengenalku.” Oliver berdiri kembali, pandangannya ikut melayang ke luar jendela.

“Ini rumahmu? Barang-barangku di mana? Kau tidak akan bilang kau yang mengganti pakaianku, kan?” Marry memegangi tubuhnya sendiri sambil mengekspresikan kengerian, ia berharap orang yang sebelumnya tak dikenalnya ini tidak berbuat macam-macam padanya semalam. Ia tidak kuasa membayangkan—hal yang tak ia inginkan tentunya.

“Jangan berpikiran yang aneh begitu, dong. Ini adalah hostel yang kusewa untukmu. Tenang saja, aku yang menyuruh pelayan wanita di sini untuk mengganti pakaianmu saat kau tak juga bangun. Aku masih punya otak.” Oliver tidak berbicara dengan nada mengejek, ia tetap saja dingin.

Marry tak bergeming. Sedikit salut dengan kepedulian Oliver padanya. “Lalu di mana semua barang-barang yang kubawa?”

“Sudah kubuang. Ini ponselmu, kupikir ini terlalu berharga untuk menghubungi keluargamu jadi tidak kuhilangkan.” Timpal Oliver segera, matanya yang berwarna merah tua itu menyala diterpa sinar matahari yang tembus dari kaca jendela.

“Kau membuangnya? Oliver kumohon jangan bercanda! Pakaian-pakaianku—bagaimana mungkin aku bisa pergi tanpa membawanya selalu?” Marry tidak sadar telah berbicara dengan nada tinggi. Hampir sama dengan gaya bagaimana ia memakiku. “Oh jadi tas itu semua isinya adalah pakaian? Hmm… Aku sengaja meninggalkannya di jalan saat membawamu ke mari. Sudahlah, kuganti dengan yang baru saja ya?”

Marry tidak menjawab. Senyum angkuh Oliver yang menawan membekukannya. Semuanya jadi terlalu abstrak untuk dapat dicerna. Bagaimana mungkin Marry dapat hidup di tempat lain selain rumah bila semua perbekalan yang dibawanya tidak ada? Mungkinkan Oliver benar-benar akan menolongnya secara cuma-cuma hanya karena merasa bersalah?

“Gadis, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Oliver melembut, nada bicaranya mulai terkesan akrab. Marry tak merespon ucapannya. Ia terlihat berpikir keras. “Sudahlah jangan pikirkan pakaian-pakaianmu itu, aku bisa menggantinya dengan yang jauh lebih bagus. Kau bisa pegang perkataanku.”

Marry menatap wajahnya sekali lagi, dipandanginya Oliver dengan kening yang berkerut-kerut. “Semudah itu?”

Oliver mengangkat kedua alisnya. “Memangnya apa yang sulit?”

Marry mengangguk. Ia patut menduga bahwa cowok di depannya ini bukanlah orang baik-baik. Namun saat sorot mata keduanya kembali saling bertatap, Marry merasa keraguannya hilang seketika. “Baiklah, tapi kau harus berjanji benar-benar akan menggantinya, ya? Namaku Mariah, panggil saja Marry.”

Oliver mengangguk pasti. “Well, Marry, sedang apa kau di kota ini sendirian?” tanyanya ingin tahu. Ia bingung apakah harus menjawab dengan apa adanya atau menyembunyikan yang sedang dilakukannya saat ini.

“Aku tidak sedirian, saat ini aku kan denganmu.”

“Hey, kita baru saja kenal dan kau sudah berani menggombaliku seperti itu?” Ledek Oliver sambil terkekeh. Rona wajahnya memerah. Marry melemparinya dengan sebuah bantal. Keduanya tertawa bersamaan. Oliver tidak sejudes yang Marry bayangkan pada awalnya. Ia ternyata menyenangkan, namun tetap tampak terlihat cool. “Oke, cukup. Ceritakan bagaimana kau bisa sampai di kota ini!”

“Kita masih di Jacksonville, kan?” Marry mencoba memastikan. “Kau gila? Ini New York!” ujar Oliver dengan nada yang meninggi.

“HAH?” Marry membelalakkan matanya. Tidak mungkin ia bisa memindahkan tubuhnya ke Newyork dalam satu malam. Oliver memandangi Marry serius, beberapa detik kemudian ia tawanya yang renyah menggelegak. “Kalau seandainya kita benar-benar ada di New York, kau mau apa?”

Marry bersungut kesal. “Kau harus mengembalikan aku ke Jacksonville, mengantarku pulang, tapi aku juga tidak keberatan jika kau mau menculikku ke London.” Ujarnya asal. Oliver menghembuskan napas pasrahnya. “Sudah kuduga kau akan merepotkan.”

“Terimakasih sudah mau repot-repot membantuku menjalankan misi kabur dari rumah. Sepertinya aku masih lelah dan harus mengumpulkan energi untuk jalan lebih jauh lagi. ” Marry menarik selimutnya dan merebahkan tubuhnya kembali.

Oliver tak bergeming dan tak lama ia berdehem. “Kalau begitu kita matching sekali. Aku juga sedang kabur dari rumah.” Marry terhenyak. Ia membuat posisinya duduk kembali. “Kau serius? Kabur dari rumah? Wah, baiklah, kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama selama pelarian diri ini.” Marry bersungut riang.

“Tapi lebih baik kau menghubungi keluargamu dulu, aku tidak ingin dianggap sebagai penculik saat mereka menemukanmu bersamaku.” Desis Oliver sambil melempar ponselnya ke tempat tidur.

“Menghubungi mereka? Malas sekali. Aku kan sedang menjauh!” protesnya. “Kau tidak ingin aku meninggalkanmu sendirian kan, Sayang?” Oliver menggodanya kembali. Marry lalu meraih ponsel di hadapannya dan tersenyum, ia lantas mengetik sebuah pesan ‘Claire, aku senang di sini. Aku belum ingin pulang. Kecuali kalau kau mempercepat upacara kematian Jer. Nanti aku akan pulang sendiri. Sampai nanti.

Oliver memasukkan kedua telapak tangan pada saku celananya dan ia kini berjalan memunggungi Marry. Diputarnya gerendel pintu dan ia membukanya. “Ya, baiklah. Ayo kita bermain!”***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s