Signs: Chapter 1- Hilangnya Marry Part 2

         download

             Ini sudah pukul sembilan malam. Marry tak kunjung pulang ke rumah. Aku terus mencoba menghubungi nomor ponselnya namun tak kunjung tersambung. Ibu terdiam di hadapan perapian. Wajahnya gundah gulana.

            “Apakah Marry sudah memberi kabar?” Tanya Ibu kemudian. Aku hanya menggeleng dan kembali menghubungi nomor ponsel Marry yang tertera di layar ponselku. Ia tidak mengaktifkannya.

“Kau ingin aku mencarinya, Mom?” Aku segera bangkit dari sofa dan bersiap untuk pergi. “Tidak. Tidak ada yang boleh pergi. Paman Henry sudah kuminta untuk mencarinya.” Timpalnya sambil mendekat dan segera memelukku. “Jangan pergi seperti Marry.” Lirihnya kemudian membuat dadaku sesak.

Brak!

Pintu kamar Ibu terbuka. Jer keluar dengan wajah yang kusut dan mata merah. “Buatkan aku secangkir kopi.” Ujarnya dingin sambil membantingkan tubuhnya ke atas sofa.

“Marry pergi dan belum kembali. Tidakkah kau merasa khawatir?” cela Ibu dengan tatapan yang menyala-nyala. Jer membalasnya pandangan ibu dengan tak acuh. “Jer! Anakmu hilang!” Ibu tak dapat menahan isak tangisnya. Jer mendekatkan wajahnya ke wajah Ibu dan meludah.

“Aku tidak pernah punya anak. Aku dan Rose tidak pernah memiliki anak.” Oh, efek mabuk Jer belum sepenuhnya menghilang, atau bisa jadi alcohol telah mengacaukan isi otaknya yang sudah kacau. “Berhenti memanggil namanya, aku bukan Rose! Marry hilang! Kau seharusnya mencarinya!” jerit Ibu sambil layangkan kepalan tinjunya ke arah Jer dengan tidak berdaya. Tapi pria itu malah mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.

Aku ingin memukul kepala Jer keras-keras dengan apapun, hanya saja yang bisa kulakukan adalah sekedar tertohok dan tetap diam.

“Sekali lagi kau bicara, akan kurobek mulutmu!” Jer kembali memasuki kamar dengan tubuh sempoyongan dan tertawa sendirian. Aku segera mengamit tangan Ibu dan membantunya untuk bangkit. Jer benar-benar keterlaluan.

Marry benar, aku terlalu pecundang untuk melawan.

            “Kenapa kau tak mencegahnya pergi, Claire?” Tanya Reese sambil memain-mainkan rambut pirangku dengan jari-jarinya.  Aku memandangi teman-temanku bergantian. Elle dan Paul  tampak menunggu jawaban.

“Ia begitu bersikeras.” Timpalku seperlunya. Paul hanya mendengus. Dadanya yang bidang terlihat kembang kempis. “Kau seperti tidak tahu Marry saja.” Elle membenarkan.

“Marry sudah pergi sejak kemarin sore, bisa saja sekarang ia sudah sampai di California.” Celetuk Paul yang segera dihadiahi tatapan sinis ketiga di antara kami. “Aku hanya berharap semoga ia tak diculik pria hidung belang.”

“Jika kau tak bisa bicara dengan baik, lebih baik jangan berkata apapun, Paul.” Elle mengultimatum. Paul mengangkat sebelah alisnya dan mencoba tersenyum damai ke arahku. “Yang harus kita lakukan sekarang adalah memikirkan bagaimana cara mencari Marry.” Reese kembali ambil suara. Aku menyukai bagaimana cara dia berpikir dan berbicara.

“Setahuku, nenek moyangku bisa mendeteksi keberadaan seseorang. Ia juga bisa meramal masa depan. Apakah kalian percaya jika kekuatan magis itu turun kepadaku?” Paul kembali berceloteh. Tidak ada yang menanggapinya.

“Bagaimana kalau kita berpencar? Elle dan Paul bisa mencari ke barat dan aku bersama Claire mencari ke timur.” Reese kembali menambahkan. Tidak ada yang serius menanggapinya. Aku hanya berdehem. Kami semua tahu bahwa Reese menyukaiku, jadi ucapannya memang akan selalu membelok seperti itu.

“Aku tidak bisa meninggalkan Mom begitu saja.” Sanggahku segera. Mereka saling berpandangan dan mengangguk mengerti. “Bisakah kau pikirkan cara lain?” ujarku memohon padanya. Reese mengangguk dan terlihat berpikir. Kupikir di antara kami, Reese lah yang paling sering menggunakan isi otaknya.

“Apakah ayah tirimu itu sama sekali tidak berguna, Claire?” Tanya Elle tak bermaksud menyinggung. Aku hanya menyunggingkan senyum penuh maksud berharap mereka tahu apa yang kuutarakan tanpa harus mengucapkannya. Dan kuyakin mereka mengerti. Aku melirik Paul, ia terdiam kebingungan. Aku kembali memalingkan wajah ke arah Reese, ia menyampatkan diri untuk tersenyum. Wajahnya memang tampan dan berbeda dari orang sekitar, mungkin karena tipikal wajahnya turun dari ayahnya yang berdarah Pakistan.

“Aku akan mencarinya dengan teman-temanku klub motocrossku.” Usul Paul bersemangat. Elle terperangah. “Saat kau menemukannya dan ia tahu pencariannya begitu menghebohkan, Marry akan semakin marah dan mengamuk. Bisa jadi pergi ke tempat yang lebih jauh dan mengerikan.” Ujar Elle kembali paranoid.

Hening.

“Elle benar, sebaiknya kita—” ucapanku menggantung karena ponselku bergetar. Sebuah pesan tertera di layarnya. “Marry mengirimku pesan.” Ujarku sambil memandangi ketiga temanku dengan harap-harap cemas.

“Apa yang dia katakan?” Reese bersungut girang.

“Claire, aku senang di sini. Aku belum ingin pulang. Kecuali kalau kau mempercepat upacara kematian Jer. Nanti aku akan pulang sendiri. Sampai nanti.”

Sore itu Marry menggebrak pintu rumah dan langsung berjalan cepat tanpa arah. Di punggungnya menempel sebuah tas gendong yang sudah berisi penuh dengan perbekalannya untuk melarikan diri. Marry benci tinggal di dalam kondisi keluarga seperti ini.

Setelah aku gagal untuk melerainya, Ibu tak berhasil untuk mencegahnya pergi. Apalagi Jer terang-terangan mengusirnya dengan umpatan-umpatan yang semakin membuatnya sakit hati. Marry benar-benar pergi dan tak tahu apakah ia akan kembali lagi.

Marry terus berjalan menyusuri tepian jalan kecil di pelosok Jacksonville. Ia sesekali menengadahkan wajahnya ke langit dan muram saat melihat cuaca tak lagi bersahabat dengannya.

Marry terus berjalan dengan gontai. Jalanan begitu sepi, ia beruntung tak ada yang memergokinya pergi. Ia benar-benar terlihat nekat lari ke suatu tempat jauh. Hanya saja pada kenyataannya ia sendiri tidak tahu akan menuju ke mana.

Jauh di belakang punggungnya, Paman Bernandez mengemudikan truk pengangkut besinya dengan sangat lambat. Ia melihat sosok gadis yang dikenalnya  berjalan di depannya, Paman Bernandez menyempatkan untuk berhenti dan memastikan bahwa gadis itu bukan Marry. Namun kenyataannya, dia benar-benar Marry.

“Hai gadis kecilku, kau hendak pergi ke mana?”

Marry tak menjawab namun ia menghentikan langkahnya dan menatap Paman Bernandez kaku. “Ayo cepat naik dan berceritalah seperti biasanya.” Tak menunggu waktu lama, Marry segera membuka pintu mobil dan duduk di samping Paman yang mengambil kemudi.

Aku dan Marry memang sudah sangat dekat dengan Paman Bernandez. Ia adalah sahabat baik Ayah sejak kecil. Bahkan, kami sudah menganggapnya sebagai Ayah kedua. Jujur saja, aku lebih setuju ibu menikah lagi dengan Paman Bernandez dibanding Jer si pembuat kekacauan itu. Sayangnya, tak ada yang bisa memaksakan pilihan hati ibu.

“Apa kau punya masalah?” Paman segera menanggapi Marry yang terus membungkam mulutnya dan menunjukkan ekspresi tidak begitu baik.

Marry tetap membisu. Paman Bernandez berdehem. “Ceritakanlah, aku janji tak akan melapor pada ibumu.” Sambungnya. Marry menoleh sejenak pada Paman yang tampak fokus pada jalanan di depannya. Marry menarik napas panjang. Otaknya mencari-cari akal bagaimana cara mengawali ceritanya dengan baik.

“Jangan katakan pada Mom dan Claire. Aku akan pergi dan tidak ingin pulang. Aku benci dengan rumah. Aku tidak suka dengan mereka semua yang pasrah pada keadaan. Mereka lemah. Mereka lebih memilih untuk menunduk pada laki-laki itu. Daripada aku harus seperti itu, lebih baik aku pergi saja.” Marry mengambil napas sejenak untuk jeda. Namun ia tidak langsung melanjutkan ucapannya, menunggu respon dan komentar yang akan diterimanya.

“Memangnya apa lagi yang terjadi dengan ayahmu itu?” Tanya Paman tanpa sedikit pun menoleh pada Marry, ia hanya melirik sekilas. “Cih! Jangan menyebutnya ayahku, Paman! Aku hanya punya satu ayah dan ia sudah bahagia di surga.”

Paman tersenyum.

“Jer lagi-lagi pulang dalam kondisi mabuk. Aku benci melihat Mom mengurusnya. Ditambah lagi Claire ikut membantunya. Semuanya…Aku benci semuanya!” Marry kembali menceracau. Paman Bernandez mengerutkan keningnya. Ia paham betul bagaimana kebiasaan Jer yang selalu membuatnya geleng kepala, namun ia juga tahu terkadang tingkah Marry terlalu labil dan berlebihan.

“Dulu Jer pernah bekerja sebagai buruh bangunan bersamaku padahal ia lahir dari keluarga yang jauh di atas berkecukupan. Ia adalah anak yang baik. Aku tidak mengerti mengapa semuanya berubah begitu cepat.” ujar Paman masih dengan konsentrasinya pada jalanan.

“Kau hanya butuh penenangan sejenak. Saat kau rindu pada mereka, berjanjilah untuk pulang. Kau ingin aku mengantarmu ke mana?” lanjut Paman sambil membelokkan truknya ke kiri. Marry sadar mereka sudah cukup jauh dan berlawanan arah dari rumah.

“Aku ingin ke pantai Miami, paman. Menenangkan diri.”

Paman Bernandez terbelalak. “Miami? Apakah kau sudah gila?—mmm… maksudku truk bututku ini tidak akan sanggup membawamu ke jarak bermil-mil seperti itu.” Paman menggeleng-gelengkan kepalanya. Marry hanya memanyunkan bibir. Ia tahu idenya gila, namun tak ada yang tak mungkin dilakukan oleh dirinya.

Mereka mulai memasuki gerbang pusat keramaian di Sandalwood. Marry memerhatikan dengan dingin gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekitarnya. Truk Paman Bernandez harus berbagi jalan dengan mobil-mobil mewah yang berkeliaran lainnya.

Marry melihat sebuah papan reklame bertuliskan tempat pemandian umum dengan gambar wanita berambut ikal di atasnya. “Paman, stop!” ujarnya langsung dibarengi dengan Paman Bernandez yang menghentakkan kakinya ke atas pijakan rem.

“Aku ingin menghirup udara segar, Paman. Jangan beritahu siapapun, kumohon. Aku janji akan pulang, lagipula ini kan belum terlalu jauh dari rumah, kan. Jika Claire atau Mom menanyakanku, kau berpura-pura tidak tahu saja, oke?” Paman terlihat menimbang-nimbang. “Kau yakin, girl? Bagaimana jika Jer yang menanyakanmu dan memintamu untuk pulang?”

Marry memutar bola matanya dan mendelik meragukan. “Kau hubungi aku jika Jer memang sudah waras, Paman. Sampai jumpa.”

Marry membanting pintu truk. Paman Bernandez tersenyum yakin dan tak lagi mengkhawatirkan gadis labil seperti Marry-nya itu. Ia lalu mengambil langkah memutar dan terus menyusuri jalan pulang.

Marry menatap ke langit. Langit sudah menghitam pekat dan malam ini ia masih harus berpetualang mencari tempat persinggahan.

Marry mengambil ponselnya yang bergetar dari kantong celananya. Puluhan panggilan tak terjawab diikuti tumpukan pesan dariku diabaikannya. Intinya aku hanya ingin ia segera memberi kabar dan segera pulang. Ia lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong celana dan berjalan menuju tempat pemandian umun yang ditujunya dengan malas-malasan.

Sekali lagi ponselnya bergetar dan berdering kencang. Aku kembali menghubunginya. Marry menghela napas sejenak dan segera menon-aktifkan ponselnya. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s