Signs: Chapter 1- Hilangnya Marry Part 1

downloadNamaku Claire, aku tinggal di sudut Florida, tepatnya di kota kelahiranku  Jacksonville. di tengah-tengah keluarga yang tidak jelas atmosfernya. Aku memiliki seorang ibu, tentu saja, dia yang melahirkan dan selalu menemaniku hingga saat ini. Tapi aku tidak begitu mengidolakannya, cukup berterimakasih saja. Aku tak suka dengan pilihannya untuk menikah lagi dengan Jer—ayah tiri yang kupikir sakit jiwa. 

Waktu di jam tangan yang mengikat tangan kiriku menunjukkan pukul 3 sore. Aku masih duduk manis dalam diam di pelataran rumah. Memang tak ada yang perlu kulakukan di waktu-waktu santai seperti ini. Waktu sebelum Jer pulang dan membuat rumah menjadi seperti neraka.

Sore ini begitu indah, sama indahnya seperti tahun lalu ketika Ayah masih sempat untuk membelai dan mencium rambutku. Tentu saja saat itu Ibu belum bertemu dengan Jer, dan jika Ayah masih ada, Jer tak akan pernah datang untuk mengacaukan seisi rumah kami. Uhh… kau harus tahu, aku sangat membencinya.

“Sebatang es krim untuk sore yang cukup panas.” Marry datang dan mengulurkan tangannya. Aku mengemit sebatang es krim coklat yang ditawarkannya.

Ini dia satu-satunya kakak perempuan yang kumiliki, usianya hanya berbeda satu tahun denganku. Bahkan orang-orang akan mengira kami ini kembar jika baru saja bertemu. Semua orang biasa memanggilnya Marry, tidak berbeda jauh dengan namanya yang benar, Mariah.

Marry duduk di sampingku. Matanya menerawang jauh pada hamparan rumput kering yang membentang di halaman rumah. Pemandangan tempat tinggal kami memang seperti rumah yang tak berpenghuni. Mungkin karna semak belukar menyembul di sana-sini.

“Apa yang sedang kau lakukan? Melamun? Apa kau sedang patah hati? Sudah kubilang kau harus dandan sedikit. Tidak ada yang mau berpacaran dengan gadis tomboy sepertimu, begitu pula Reese.” godanya dengan bibir belepotan coklat. Aku hanya menyikutnya sambil terkekeh.

Marry memang selalu tampak lebih kekanak-kanakan dibanding aku, padahal dia sudah lebih dulu menginjak usia tujuh belas tahun. “Kau tidak lihat aku sedang apa? Memakan es krim pemberianmu.” Jawabku datar. Marry mengerutkan keningnya. “Oh, Claire. Kau adikku yang begitu cantik namun sedikit tolol. Maksudku apa yang kau lakukan sebelum aku datang.” Sambungnya kemudian tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Es krim yang dilahapnya itu sudah habis, ia melempar stik nya jauh ke depan.

“Tidak ada. Memangnya apa yang harus kulakukan?”

Marry tak menjawab. Sejenak keheningan singgah di antara kami, aku dan Marry sama-sama diam. Mencoba untuk menikmati suasana kedamaian di rumah pada sore hari. Hal yang jarang kami temukan akhir-akhir ini.

“Setelah kepergian Dad, segalanya berubah. Apa kau juga berpikir begitu?” Desis Marry dengan air mata yang tertahan. Wajahnya ditundukkan. Aku tidak biasa melihatnya yang periang bahkan terkadang menyebalkan itu menjadi sendu seperti ini. Namun bukan berarti aku pun tak sedih mengingat ayahku sudah tak ada di sini.

“Dad sedang memantau kita dari surga, jangan menangis! Ia akan sedih.” Ujarku perlahan. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Aku merasakan sesak yang sama dengannya. Marry terisak. Sebetulnya aku ingin ikut menangis dan memeluknya, namun aku mengurungkan niat itu saat mobil yang mengangkut Jer memasuki halaman.

            Bukan hanya pria sialan bernama Jeremy yang keluar dari mobil truk mini berwarna merah tua itu. Paman Henry juga datang dengan membopongnya yang sedang dalam kondisi mabuk. Paman Henry adalah kakak laki-laki ibuku.

Aku dan Marry saling berpandangan. Kami sama-sama melayangkan pandangan jijik ke arah pria berperawakan kurus itu. Paman Henry dengan sabar memapah adik iparnya yang kupikir sudah gila. Eh, bukan hanya aku yang berpikir seperti itu. Dunia harus mengakuinya.

Jer terlihat sangat pucat dan tidak berdaya. Ibu menghampirinya dan segera mengaitkan lengan Jer ke pundaknya lalu menuntunnya seperti balita yang baru belajar berjalan. Ibu membawanya untuk duduk di atas sofa yang sudah tidak terlalu empuk untuk diduduki.

Aku dan Marry lagi-lagi saling berpandangan.

“Marry, tolong ambilkan air hangat untuknya. Agar ia merasa lebih baik.” Desis Ibu penuh dengan beban. Dipandanginya suami bodohnya itu. Ibu menangis dalam diam, aku tahu batinnya menjerit-jerit.

Marry menghela napas panjang dan tetap menatap Jer yang terkulai dengan sinis. “Mom, aku lebih sudi untuk menyiramnya dengan air mendidih.” Ujarnya kemudian. Ibu terhenyak. Aku yang ada di sampingnya hanya bisa menggeleng pasrah.

“Marry, tak bisakah kau sedikit lebih sopan terhadap ayahmu?”

Marry tertawa keras dengan cukup memaksakan. “Heh, sudikah kau memanggilnya ayah?” tanyanya padaku dengan nada mencibir. Aku hanya mengangkat bahu dan mencoba untuk abstain. Berharap sebuah pertengkaran kecil tidak akan terlahir dari sini. Marry memutar bola matanya dan pergi.

“Claire, biar aku yang mengambilnya. Kau jaga dia di sini.” Mohon Ibu kemudian sambil beranjak menuju dapur. Aku masih tetap diam dan hanya mengangguk perlahan. Kutatap Jer yang masih tetap tak sadarkan diri. Ia pasti mabuk berat.

“Kau seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kakakmu.” Ujar Paman Henry. Dari semburat wajahnya, ia nampak sangat kelelahan. Aku tersenyum dan tak terlalu memedulikan perkataannya.

Ibu datang dengan sebuah mangkuk besar berisi air hangat di tangannya. Ia segera mengusap-usap kening Jer dengan handuk kecil yang digantungkan di pundaknya. Ibu tampak benar-benar mengurus Jer dengan penuh kasih sayang. Ia tak hanya tampak seperti seorang istri yang baik, Jer justru terlihat seperti anak bungsunya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Ibu pada Paman Henry.

“Aku menemukannya tergolek sambil meracau tidak karuan.” Sahutnya kemudian. Ibu menunduk lesu.

Aku memerhatikan Jer sekali lagi. Ia masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah yang baik untuk kedua putri barunya, Aku dan Marry. Usia Jer masih sekitar dua puluh delapan tahun, sedangkan Ibu sudah kepala empat. Karena itu aku tidak pernah mengerti alasan Ibu memilih Jer sebagai pengganti Ayah. Usia pria ini terlalu muda dan kelakukannya terlalu jauh untuk menjadikannya standar panutan sebagai pemimpin keluarga.

Rose, kau tidak benar-benar pergi, kan? Kau..kau. Baik… Baik… Aku akan berjanji membawamu pulang, kau pergi dengan siapa?” ceracau Jer sambil memegang erat kedua lengan Ibu. Aku mengernyitkan kening. Ibuku bernama Ruby, dan siapa Rose?

“Claire, pastikan kakakmu baik-baik saja!” ujar Ibu kemudian, berharap aku dapat menangkap maksudnya untuk segera beranjak dari tempat itu. Aku mengalihkan pandangan pada Paman Henry, ia sedang memainkan janggut tipisnya dan segera mengisyaratkan aku untuk pergi.

Rose, tiada wanita lain yang aku cintai selain dirimu. Rose, aku masih memegang janji. Kemarilah, sayang,

Aku melihat Ibu menangis saat berjalan memunggunginya. Aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar dan  berpura-pura menganggap ibu baik-baik saja.

Marry memanyunkan bibirnya dan menggigiti bantal bergambar Snoopy kesayangannya ketika aku memasuki kamar. Itulah yang biasa ia lakukan saat emosinya meledak-ledak selain berteriak-teriak dan membantingkan segala yang ada di sekelilingnya.

“Aku benci kau, Claire.” Erangnya sambil melemparkan bantal anjing kartun tersebut. Aku menangkapnya dan meletakkan kembali ke tepi tempat tidur. Marry masih menusukku dengan tatapan murka. Aku sudah siap mendengarkan ocehan-ocehan tak karuannya.

“Kau lemah. Kau selalu saja menuruti apa yang Mom katakan. Ku kira sebelumnya kau tidak menyukai Jer.” Semprotnya tanpa jeda. “Aku sangat tidak bisa menerima Dad digantikan oleh orang sepertinya. Tapi kau tampak setuju-setuju saja. Tanpa perlawanan, tanpa pemberontakkan. Payah! Kau senang punya ayah seperti bajingan itu, ya?” bentaknya kembali.

Aku menelan ludah.

“Aku hanya tidak ingin membuat Mom semakin pening. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan menerima Jer dengan baik.” Itu saja, itu saja yang bisa kuutarakan pada Marry. Mukanya semakin merah padam.

“Kau terlalu pecundang, Claire.”

“Apa maksudmu?”

“Sudahlah, aku tidak perlu repot-repot berbicara dengan anak manja sepertimu.” Marry segera bangkit dan berjalan cepat menuju lemari. Ia mengambil beberapa potong pakaian dan memasukkannya ke dalam tas sekolah.

“Apa yang akan kau lakukan dengan baju-baju itu?” ujarku dengan nada meninggi. Marry sudah cukup memancing emosiku. Lagipula mengapa ia jadi marah padaku. Untuk melawan Jer, seharusnya kan kami ada dalam satu tim. Tingkahnya terlalu berlebihan, dia selalu saja lepas kontrol.

“Apa yang akan kulakukan? Memangnya kau akan peduli? Bantulah Mom mengurus suami tak bergunanya itu!” Marry mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan segera melempar dompet berwarna hitam itu ke arahku. Ia tidak sengaja melemparnya tepat ke wajahku.

“Marry, cukup! Mau ke mana, kau?!”

Marry tak memedulikan perkataanku. Ia segera melangkah keluar dan membanting pintu. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s