Move On ~ 9

    “Apa yang kau katakan pada Sheena?” tanya Kao pada Kwan dengan sinis. Kwan masih berdiri mematung di depan rumahnya. Ia tidak menyangka Kao akan datang dengan tidak begitu ramahnya. “Apa yang ku katakan? Memangnya apa?” Kwan masih tetap tidak mengerti.

Kao menghembuskan napasnya kencang-kencang. “Tentang Mario.”

Kwan merenggutkan wajahnya dan menunduk. Ia baru mengerti, seharusnya ia sadar apapun yang berhubungan dengan Sheena adalah Mario. “Aku hanya memberitahunya perihal kekasih baru Mario. Aku hanya tidak menyangka baru dua minggu Mario pergi dan bisa mencari pengganti Sheena dengan begitu cepatnya.”

Kao tetap memandanginya serius. “Kau hanya mengarang cerita, kan? Aku tahu kau masih mengharapkan Mario. Kau seharusnya tidak perlu menyakiti Sheena dengan bualanmu itu.” Kwan terhenyak mendengar perkataannya. “Aku tidak suka melihat Sheena sedih, jadi tolong jangan bicara apapun padanya.”

  “Aku bersumpah tidak memiliki maksud apapun, aku memberitahu yang sebenarnya, Kao. Aku pernah dikecewakan Mario dan aku tidak ingin itu terjadi kembali padanya.” Kwan mencoba menepis segala tuduhan Kao yang menyudutkannya.

Kao tidak bergeming.

“Kau tidak perlu melakukan ini, Kao. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau juga mencintai sahabatmu itu? Tidak perlu berpura-pura tidak berharap! Aku tahu kau sebal melihatnya sedih, tapi melihat Mario pergi pasti kau senang. Ya, kan?” Kwan balas mengomentarinya.

Kao menengadahkan wajahnya dan menatap Kwan lekat. Ia kemudian mengenderkun alisnya yang bertautan. “Sheena adalah sahabatku.”

“Aku tidak peduli. Hanya saja aku kasihan pada Natt. Kau mengharapkan sesuatu yang tidak pasti karena kau tidak sanggup menunjukkannya. Pengecut. Dan karena itu pula kau harus menelantarkan perasaan Natt yang sungguh-sungguh kepadamu.”

“Kau dibayar berapa oleh Natt untuk mengungkit ini semua?” Kao melanjutkan perdebatan. Kwan hanya bisa diam dan mencoba menahan amarah yang sudah membusung. Natt adalah sahabatnya, ia berhak mengutarakan segala hal yang harus ia ungkapkan. Berharap Kao dapat mengertikannya.

“Aku tidak suka melihat sahabatku patah hati, Kao. Balaslah cintanya. Ia sungguh-sungguh mencintaimu. Sheena juga pasti senang mendengar itu.”

“Apa?” Kao meminta pengulangan. “Sheena pernah bilang padaku ketika kami masih dekat, ia sangat menginginkan kau bisa jadian dengan Natt. Kau kan ingat aku dan Sheena pernah dekat sebelum ia tahu bahwa aku mantan Mario.”

“Sheena hanya mencintai Mario dan Kau hanya dianggap sebagai sahabat.” Lanjutnya kembali. Sesuatu berdecit di hati Kao. Kwan benar, Kao hanya melakukan hal yang sia-sia. Mencintai seseorang yang tidak mungkin mencintainya lebih. Sedangkan Natt yang mencintainya ia abaikan begitu saja.

“Aku mengertikan perasaanmu, Kao. Aku tahu bagaimana rasanya cinta tak terbalas. Walaupun kau tetap tidak bisa bersama Natt, minimal aku ingin kau menghargai perasaannya dengan tidak menunjukkan kau menyukai orang lain di hadapannya.”

Hati Kao kini melemah, ia tak lagi merasa kesal seperti awalnya pada Kwan. “Aku ingin tahu pendapatmu. Bagaimana jika aku menembak Sheena?” tanya Kao tidak dengan maksud apa-apa. Otaknya masih sibuk mencerna perkataan Kwan sebelumnya.

“Kau sudah siap ditolak?” balas Kwan dingin.

Kao menelan ludahnya.

                Sheena sadar, saat kebenciannya kepada Mario kini mulai menyeruak, perasaannya pada Kao kini justru semakin naik ke permukaan. Ia sudah berusaha mengirim berbagai sinyal namun Kao tidak juga menangkapnya.

Ada rasa pesimis yang mendalam dalam benak Sheena. Ia tahu cintanya tak akan terbalas. Pertama, ia yakin Kao menyukai Nattasha. Kedua, ia masih berpura-pura tidak bisa melupakan Mario untuk menutupi perasaannya. Ketiga, mereka bersahabat sejak lama.

“Jadi kau mau membeli buku apa?” tanya Kao padanya sambil memerhatikan Sheena yang sedang memilah-milah dan membandingkan dua buah novel. Sudah hampir dua jam mereka berada di dalam Dasa Books, sebuah toko buku yang terletak di tepi Jln. Sukhumvit.

“Menurutmu novel mana yang harus kubaca?” tanya Sheena padanya. Kao mengerutkan keningnya lalu tersenyum cerah. “Itu menurutku menarik.” Jawabnya sambil menunjuk buku yang ada di bagian kiri rak. Sheena menoleh dan memukul tangan Kao dengan novel di tangannya saat mengetahui yang ditunjuk Kao adalah buku petunjuk untuk melakukan senam kehamilan. “Memangnya aku sudah sinting?” cibir Sheena dibalas oleh ledakan tawa Kao.

“Jangan manyun begitu, Cantik. Kau kan tahu aku tak suka membaca. Jadi pilihlah yang kau suka. Ayo cepat!”

Sheena kembali bimbang dengan kedua novel di tangannya. Kao kemudian melirik sedikit “Purn Sa nit?”[1] Sheena membalas pandangannya dan mengangguk. “Menceritakan apa?” Kao nampak begitu tertarik.

“Seorang anak yang mencintai sahabatnya dan merasa tidak mungkin memilikinya.” Jawab Sheena dengan datar, Kao tidak tahu ada suatu maksud yang disembunyikan Sheena. Di lain sisi Kao justru merasa tersindir.

“Endingnya?” tanya Kao kembali, penasaran.

“Aku kan belum membacanya, Sayang. Dasar bodoh.” Ujar Sheena sambil tertawa dan segera menyimpan sebuah novel lain di rak. Ia lalu meninggalkan Kao menuju meja kasir.

Sesampainya di pelataran parkir, Kao masih tetap diselimuti perasaan aneh. “Kenapa kau memilih novel itu?” tanya Kao kembali. Sheena terkekeh dan seolah mengejek Kao yang selalu ingin tahu. “Sepertinya kisah awalnya sama sepertiku. Ditinggalkan pacar dan—“ ucapannya menggantung.

“Dan apa?” tanya Kao tidak ingin ketinggalan. Dan lalu mencintai sahabatnya, jawab Sheena dalam hati. Tapi ia tak melisankan jawabannya. “Dan aku tidak tahu lagi, maka dari itu aku penasaran untuk membacanya.”

Kao mengangguk-angguk.  “Dasar cewek, kalau tidak sinetron ya gemar menguntit cerita khayalan orang lain dalam novel.” Gumam Kao mencoba meledeknya. “Apa katamu?” Sheena melotot. “Eh? Tidak. Ayo pulang!”

                “Jujur aku masih mengharapkannya. Kyuuri sebenarnya tidak jahat, ia berhak marah padaku karena aku selalu saja mengirimkan puisi-puisi pengharapan ke e-mail Mario.” Ujar Kwan diselingi tangis yang tersendat-sendat. Nattasha mencoba untuk menghiburnya namun tidak berhasil.

“Apa Sheena tahu soal ini?” tanyanya. Kwan mendongak dan mengernyitkan dahinya. “Tahu apa? Aku sudah memberitahunya bahwa Kyuuri adalah pacar Mario sekarang, tapi ia tidak tahu kalau aku masih mengharapkannya.”

“Kau memberitahunya? Lalu bagaimana reaksinya?” tanya Natt antusias. “Ya hanya bisa menerima. Namun setelah itu Kao memarahiku karena memberikan kabar sedih seperti itu pada Sheena.”

“Kao memarahimu? Kenapa?”

Nama Kao membuat telinga Natt sedikitnya berdengung. Ia begitu peka. “Karena ucapanku membuat Sheena galau. Oh iya, tapi aku sudah memarahi Kao juga. Aku balik memakinya. Aku bilang bahwa aku tidak suka dia menyia-nyiakan kau, Natt. Seharusnya ia sadar dan jangan berharap pada orang lain kalau ada orang yang dengan tulus mencintainya.”

Natt tak bergeming. “Natt, kau baik-baik saja, kan?”

“Kwan, ceritanya kau lanjutkan besok saja, ya! Kita bertemu di taman. Aku ada janji dengan Rebellon sekarang.”

                “Elena ditinggalkan oleh kekasihnya, ia memiliki seorang sahabat yang bernama John yang sama-sama dikhianati. Lalu mereka saling menghibur dari kegalauan dan akhirnya saling mencintai. Lalu jadian.” Sheena menceritakan kisah novel yang dibacanya. Kao mencoba untuk menghentikan debaran jantungnya.

“Jadian?”

“Ya, jadian.” Timpal Sheena. “Memangnya persahabatan mungkin untuk menjadi cinta?” Kao memicingkan matanya. Kali ini giliran aliran darah Sheena yang berdesir kencang. Jantungnya berdetak cepat.

“Mungkin saja, buktinya mereka bisa. Tapi aku tidak tahu, itu kan hanya dalam novel.” ujarnya kemudian. Kao tidak merespons apa-apa, otaknya memikirkan sesuatu. Mereka berdua kini saling pandang dalam diam di atas bangku ayunan di taman kota.

“Sepertinya itu akan lucu bila ada di kehidupan nyata.”

Sheena tidak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang memerah. Matanya terbuka lebar. Semoga saja persahabatanku dan Kao memang akan berakhir seperti tokoh novel ini, ujar Sheena dalam hati yang penuh harap.

Keheningan sejenak menghampiri mereka.

“Sheena, jujur saja, aku sebenarnya me—“ Kao tidak meneruskan jawabannya karena seseorang memanggilnya. Natt. Ia yang datang adalah Nattasha.

Mengapa Natt harus datang? Kalau begitu harapanku tidak akan terjadi sekarang, batin keduanya dalam hati masing-masing. Natt masih berdiri dan melayangkan senyuman pada mereka. “Sedang apa kalian di sini?” tanyanya kemudian. “Menikmati Bangkok sore hari.” Ujar Sheena segera karena tak enak. Ia seharusnya bisa bersikap baik untuk menjaga perasaan Natt.

“Ada apa, Natt?” tanya Kao ramah meski sebenarnya ia merasa terganggu.

Nattasha terdiam dan menunduk. Ia lantas tersenyum dan matanya memancarkan perasaan lega. Ditatapnya Kao dan Sheena secara bergantian. Keduanya hanya bisa membalas tatapannya dengan ekspresi bingung.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa aku sudah jadian dengan Khung.”

∞∞∞


[1] Dalam bahasa Thailand berarti sahabat

THE END

Thank you Kao for the inspirations :*

Advertisements

2 thoughts on “Move On ~ 9

    • haha judul sementaranya move on 😛 pengen dibikin novel, nah konsepnya yang udh di posting disini… itu ceritanya dapet inspirasi sendiri hehe, cuma tokohnya pake artis2 thailand jadi bisa dibilang ini fanfiction 🙂 makasih udah view site ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s