Keluarga Sunarti

Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada semua yang telah memberi dukungan beserta inspirasinya karena Alhamdulillah cerpen ini menjuarai Audisi Penulis Subang Berbakat 2012 🙂

 

Bulan pucat tersenyum pahit di atas genting rumah duka, ditinggal mati keluarga kecil  Sunarti. Sunarti benar-benar patut berduka, ia harus meminjam kediaman ibunya hanya untuk melaksanakan tahlil tujuh malam selanjutnya.

Nasib… nasib…

Guratan takdir hidupnya membuat tetangga sekeliling rumah ikut mengelus dada. Kehidupan Sunarti yang masih berusia dua puluhan itu berguncang hebat. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu rumah gedong peninggalan bapaknya habis ditelan bara api, suami dan anaknya mati gosong di dalamnya.

Sunarti duduk di teras rumah ibunya. Menyalami satu per satu pelayat yang berdatangan membawa bergantang-gantang beras hasil panen bulan kemarin. Seperti itulah kebiasaan orang-orang desa untuk menghibur hati warga yang sedang berduka ditinggal pergi sanak saudara. Dan Sunarti hanya membalasnya dengan beberapa patah kata “Terimakasih. Doakan Juhara dan Asoka mudah-mudahan diterima di sisi-Nya.”

Di antara pelayat-pelayat yang berdatangan, sepasang bola mata yang dipunyai seorang pria memandangi Sunarti dari kejauhan. Mata itu terus menerawang melalui celah dedaunan pisang yang tertanam beberapa puluh meter dari tempat Sunarti berada.

  Setelah bersalaman dengan Bude Salamah, Sunarti kembali duduk di atas teras dan melayangkan pandangan tak tentu arah. Tidak ada air mata yang menggenang di pelupuk mata, hanya saja semburat luka masih terpancar dari mimik wajahnya. Ganang—orang yang mengintip di balik pohon pisang itu bisa merasakannya.

                Saya yakin dia tidak menyesali kepergian Juhara, batin Ganang antusias pada dirinya sendiri. Ganang masih berdiri mematung di tempatnya. Ingatannya mondar-mandir, menyetel kenangan-kenangan di otaknya seperti menyalakan pemutar video. Di benaknya tergambar jelas masa-masa ketika langkahnya untuk meminang Sunarti tinggal sejengkal lagi namun harus pupus diludahi kenyataan bahwa Sunarti sudah dijodohkan bapaknya dengan seorang anak lurah bernama Juhara.

Jodoh memang tidak akan pernah lari ke mana-mana, pikirnya kembali, menyulut semangat dalam dada yang mulai berapi-api. Masih ada sesuatu yang disimpannya sejak dua tahun lalu. Luka yang didapatkan pasca menghadiri pesta pernikahan Sunarti seperti sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Sunarti kini sudah menjadi seorang janda. Ganang tak akan pernah membiarkan kehidupannya berantakan seperti puing-puing Sukhoi Superjet 100 yang hancur sehabis membentur dinding Gunung Salak. Juhara sudah mati. Almarhum bapaknya Sunarti tidak akan lagi menghalanginya—jika beliau masih hidup pun tak ada alasan untuk menolak kesuksesan yang Ganang raih di kota.

Ganang menyimpulkan sebuah senyum keyakinan. Dipandangnya Sunarti yang mulai memunggungi dan memasuki rumah. Saya datang untuk mewujudkan kebahagiaan kami yang tertunda, ujarnya dalam hati. Sebuah niat suci menyembul dari dasar hatinya, untuk kembali meminang Sunarti ia hanya tinggal mengambil ancang-ancang karena Sunarti sudah menjadi janda.

                “Koe arep dipakani opo[1]?!” sindir Bapak sambil melayangkan pandangan tajamnya pada Sunarti, sesekali ia menatap Ganang tak suka. Sunarti mendelik kecewa, tidak terima dengan penolakkan Ayah terhadap Ganang secara mentah-mentah. Ganang memandangi Sunarti dengan tatapannya yang teduh. Ia masih belum putus asa untuk mencoba merenyuhkan hati bapak sekali lagi.

“Saya akan berusaha, Pak. Saya benar-benar mencintai Narti.” Ujarnya getir. Bapak tetap memandangnya dengan angkuh. Ganang panas dingin. Sunarti meraih telapak tangannya yang basah itu, mengepalkannya dan mencoba merapalkan berbagai macam doa agar bapak mau menerima keberadaannya.

“Cinta… Cinta… Aku ora sudi nek anakku dipakani cinta tok[2].” Bapak terkekeh sendiri sambil memainkan blangkon yang menutupi rambut berubannya.  Ganang menghela napas, perutnya kembang kempis menahan sakit yang menonjok ulu hati. Bapak tetap bersikukuh untuk menikahkan Sunarti dengan Juhara.

“Kawinlah dengan Juhara, Nduk.” Ujar Bapak datar. Sunarti segera bangkit dari tempat duduknya. Emosinya sudah mengepul hingga ke ubun-ubun. Kalau saja yang bicara tadi bukanlah bapaknya, Sunarti pasti sudah—Ah, ia tak ingin jadi anak durhaka.

“Kalau gitu saya pamit pulang, Pak. Matur nuwun[3].” Gumam Ganang pelan dan segera melangkah meninggalkan bapak yang tetap memandangnya tak acuh. Sunarti menatap bapak sinis sejenak, kemudian menyusul langkah-langkah Ganang yang gontai.

“Turuti permintaan bapakmu saja.” Desahnya menyerah. Sunarti sedih bukan kepalang. Dahinya berlipat-lipat dan matanya membulat. Ia merengek-rengek minta Ganang untuk tidak pergi. “Kita kawin lari saja, Mas.” Usulnya gila. Ganang hanya tersenyum dingin dan berusaha untuk tetap berpikir jernih dalam situasi tersulit seperti ini.

“Tidak mungkin. Siapa yang akan mengurus bapakmu nanti? Beri saya waktu untuk membuktikan pada bapakmu bahwa saya lebih baik dari Juhara.” Sunarti memandanginya resah. Pandangannya gusar. Ia ingin Ganang segera membawanya pergi, namun ia sadar akan kewajibannya untuk menjaga bapak adalah yang utama. Bapak sudah tidak punya siapa-siapa lagi, ibu sudah tidak lagi peduli sejak mereka pisah ranjang saat Sunarti masih duduk di bangku SMA. Di usianya yang cukup matang ini, Sunarti harus mampu mengurus bapak dan semua hartanya. Oleh karena itu ia membutuhkan sosok seorang suami yang bertanggung jawab. Bapak tetap keukeuh pada pilihannya, Juhara.

Setelah kejadian menyakitkan itu, Ganang pergi meninggalkan rumah Sunarti dengan perasaan kacau balau. Namun di hatinya yang sedang diliputi kegalauan itu terselip sebuah tekad kuat untuk memperbaiki hidupnya. Ganang sadar, saat ini ia memang hanyalah seorang pengangguran, namun ia yakin suatu saat nanti akan dapat meluluhkan hati bapak dan membawa Sunarti ke pelaminan.

Ganang berjalan dengan sandal jepit lusuh yang dikenakannya. Sesekali tangannya mengusap peluh yang bercucuran dari dahinya. Di persimpangan jalan, ia melihat Juhara sedang berbincang-bincang dengan Bang Togar, seorang tukang ojek asal Pematang Siantar. Darahnya perlahan terasa berdesir dan ada luapan amarah yang memuncak. Wajah Juhara mengingatkannya pada sesuatu. Jikalau tidak dosa, Ganang pasti akan langsung berlari dan menggorok lehernya. Orang inilah yang akan menikahi Sunarti.

“Gila, Kau! Sambil menyelam minum air, selain menikahi anaknya kau juga akan mengeruk habis hartanya, kan?” sambar Bang Togar diiringi gelak tawa. Ganang yang baru saja akan lewat di depan mereka kini menyingkir dan bersembunyi di balik sebuah mobil bak yang parkir di dekat mereka.

“Lihat saja nanti, Bang!” Sahut Juhara meyakinkan. “Haha baiklah, asal jangan kau lupa komisi tutup mulut untukku, ya!” ujar Bang Togar kembali. Ganang memicingkan matanya, curiga. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres. Ia yakin semua ini berkaitan dengan kekasihnya, Sunarti.

Juhara mengangguk mantap. “Abang lihat saja apa yang akan terjadi besok!”

 

Esoknya, bapaknya Sunarti mendadak terserang penyakit yang aneh. Seluruh badannya lemas dan pucat pasi, padahal sebelumnya ia masih bugar seperti biasa. Hal ini membuat Sunarti kelimpungan. Bapak terus memegangi dadanya yang sesak dan megap-megap. Seluruh badannya yang kurus mengejang, bapak terus saja melafalkan kata-kata tidak jelas. Suaranya seperti tersendat-sendat. Seperti orang yang tengah sekarat.

Sunarti sudah memanggil seorang mantri di kampungnya itu, namun tetap tidak membantu. Sang Mantri bahkan bilang kondisi bapak baik-baik saja. Aneh, saat Juhara datang untuk memastikan keadaannya, Bapak menjadi normal kembali.

Ono opo to, Pak? Mbok ya jangan sakit to, Pak[4]. Saya sudah mempersiapkan untuk lamaran Sunarti. Semuanya sudah siap, tinggal nunggu Bapak sehat lagi.” Ujarnya lantang. Sunarti terhenyak, sejenak ia memandang jijik ke hadapan Juhara, saat Juhara balik memandangnya ia membuang muka.

Ojo ditunda-tunda, saiki wae[5]!”

 

                Tiga hari berikutnya, digelar pesta pernikahan Juhara dan Sunarti yang walaupun dengan persiapan mendadak, semuanya tetap terkesan sangat mewah. Maklum, bapaknya Sunarti adalah orang terkaya di kampung dan Sunarti adalah anak satu-satunya. Beliau tidak akan sangsi untuk mengeluarkan sebanyak apapun uangnya demi pernikahan anak sematawayangnya itu.

Nasib kurang baik tentunya bagi Sunarti yang tak dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Ia hanya bisa pasrah menerima semua cobaan hidupnya. Kegundahan hatinya semakin menjadi-jadi tatkala melihat Ganang hadir sebagai tamu di acara pernikahannya itu.

Ganang merasa dikhianati, meskipun pada akhirnya ia mengerti bahwa Bapaklah yang memaksakan kehendaknya pada Sunarti. Sunarti hanyalah menjadi korban otoritas ayahandanya. Ia hanya bisa pasrah dan bersikap sportif, setelah itu Ganang pergi ke ibukota bersama rekan-rekannya dari kampung untuk bekerja menjadi seorang office boy di perusahaan milik ayah dari teman SMPnya.

Malamnya seusai pesta itu, sakit tidak jelas yang pernah diderita bapak kambuh kembali. Sunarti panik bukan main karena sudah hampir dua jam lebih kondisi bapak tidak membaik. Semua sudah mengupayakan bapak untuk masuk rumah sakit namun bapak menolak. Berbeda dengan yang lain, Juhara justru santai saja. Dan tak lama setelah itu pekarangan rumah dihinggapi burung siit uncuwing, burung yang selalu datang untuk menandakan kematian seseorang.

                Hampir tujuh belas bulan sudah Sunarti harus bertahan akan prahara kehidupannya. Pernikahannya dengan pria pilihan bapaknya itu justru membuatnya semakin tersungkur ke dalam lumbung penderitaan.

Kekayaan bapak benar-benar dikeruk habis, bahkan Juhara seakan lupa bahwa istrinya lah yang seharusnya mengatur bekal hidup untuk mereka itu. Semakin lama, kelakuan tak bermoral Juhara semakin muncul ke permukaan. Sunarti tidak habis pikir mengapa bapak bisa begitu bersikerasnya untuk menikahkannya dengan bajingan sekaligus penipu ulung itu.

Apa yang dilakukan Juhara selama ini hanyalah mabuk-mabukkan, mengahamburkan uang untuk bermain-main dengan perempuan jalanan, dan bahkan uang-uang itu harus lenyap digerogoti kekalahan saat ikut pertarungan sabung ayam.

Gumpalan amarah menyesakkan dada Sunarti. Setidaknya walaupun tanpa rasa cinta, ia masih sangat menghargai pilihan bapaknya itu. Apalagi kini bapak sudah tiada. Namun alangkah kaget bukan kepalangnya saat ia tahu bahwa ternyata bapak mati dikenai guna-guna, dan guna-guna itu adalah karya Juhara yang ingin segera menyedot habis kekayaan keluarganya.

Sunarti mengetahuinya saat bulan-bulan pertama pernikahannya, saat rumah tangga mereka masih seumur jagung yang masih mentah. Sejak itu tukang ojek langganan ibunya Juhara—Bang Togar selalu datang ke rumah setiap sorenya. Dan Bang Togar tidak pernah pulang dengan tangan hampa. Tangannya pasti berbuah, minimal ia membawa beberapa lembar uang seratus ribu.

“Hey Kau, Juhara. Hidupkau sudah tentram lah pastinya. Sudah jadi orang kaya lah kau ini. Dukun sakti yang kau panggil untuk mematikan mertuakau  itu mati kemarin, jadi yang menyimpan rahasiakau ini hanya aku sendiri.” Cakap Bang Togar yang Sunarti dengar tempo hari itu.

Tanpa ba bi bu lagi, Juhara segera menyerahkan beberapa lembar uang kertas dan Togar pulang dengan raut wajah yang ceria. Sunarti yang saat itu sedang menggendong Asoka kecil—anak mereka yang baru berusia empat bulanan, otak dan emosinya terasa mendidih. Ingin sekali ia mengambil parang dan melemparkannya pada suami biadab itu, sayangnya ia tidak ingin anaknya menjadi yatim.

Pada malam Kamis Legi itu Juhara pulang dalam kondisi mabuk. Sehabis ngeloni[6] Asoka, Sunarti membukakan pintu dengan malas-malasan. Kalau saja Juhara tidak akan mengamuk dan menggedor-gedor pintu rumah hingga memekakan telinga tetangga, ia pasti akan membiarkan Juhara tidur di jalanan.

Tanpa memedulikan Sunarti yang sudah terlalu sering mengelus dada, Juhara melangkahkan kakinya menuju kamar dan membanting tubuh lemasnya menuju alam mimpi. Asoka tidur di keranjang bayi dekatnya tapi Juhara tidak pernah sekali pun memikirkannya. Malang kian memang nasib Asoka memiliki bapak yang tidak bertanggungjawab seperti itu.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, seperti biasa ini waktunya bagi Sunarti untuk mengepulkan asap tungku di dapur dan pergi ke pasar dengan menenteng kantong belanjaan yang terbuat dari anyaman plastik warna-warni.

Ada hal yang Sunarti lupakan sebelum meninggalkan rumah, ia tidak mematikan tungku. Bara api terus mencuat dan menjalar ke setiap permukaan kayu-kayu bakar. Namun lama-lama api-api itu semakin kelaparan karena tidak lagi dipasoki kayu-kayu itu.

Api kemudian menjalar melalui sebuah kayu bakar berukuran panjang dan berlari ke dipan kayu di dekatnya. Bilik-bilik bambu sebagai dinding pemisah ruangan mulai tersentuh kobaran api dan seketika itu seisi daput terbakar. Belum puas, percikan dan kobaran api yang dahsyat berjalan-jalan menuju seisi rumah. Membakar kursi kayu, meja kayu, tirai rumah, tempat tidur, pintu kayu, barang-barang terbuat dari plastik, dan barang-barang lainnya yang belum sempat ditaruhkan untuk sabung ayam Juhara.

Juhara masih lelap tertidur, bahkan ia tidak pernah memedulikan adzan subuh yang menggema dari pengeras suara masjid dekat rumahnya. Ia tidak merasakan apa-apa, padahal ancaman datang padanya dan nyawa anaknya yang tidak berdosa.

                Sunarti terpaku dengan bibir yang mengatup saat melihat Ganang datang dengan segalanya yang berbeda. Namun tentu saja perasaan bersalah itu muncul kembali. Sejak kurang lebih dua tahun lalu hidupnya didatangi badai raksasa. Kini Tuhan kembali otak-atik kehidupan mereka.

“Jangan membuat almarhum bapak kembali kecewa. Tata hidupmu kembali.” Lirih ibu di telinga Sunarti. “Narti, tidak perlu marah sama Allah. Dia sudah punya rencana untuk kita sejak dulu.” Tambah Ganang. Sunarti terenyuh, ia tidak pernah melupakan lelaki idamannya ini. Sejenak Sunarti teringat bapak, tapi ia bukan lagi anak kecil yang harus mengekor kemauan orang tua saja tanpa ada perjuangan sedikit pun.

“Ibu setuju-setuju saja, asal kamu bahagia, Cah Ayu.”

Ganang akhirnya bisa bernapas lega. Sunarti bisa terlepas dari rantai baja yang membuat hidupnya terkungkung seperti katak dalam tempurung. Meski ada perasaan bersalah yang mengganjal di hati Sunarti pada bapak, namun itu diabaikannya. Juhara lah yang seharusnya meminta maaf.***


[1] Kamu mau dikasih makan apa? (bahasa Jawa)

[2] Saya tidak sudi kalau anak saya hanya diberi makan cinta (bahasa Jawa)

[3] Terimakasih (bahasa Jawa)

[4] Ada apa, Pak? Jangan sakit dong, Pak. (bahasa Jawa)

[5] Jangan ditunda-tunda, sekarang saja! (bahasa Jawa)

[6] menidurkan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s