Hujan

Langit sedikit demi sedikit menghapuskan warna kelabunya, rinai hujan yang mengguyur genting-genting rumah dan sekolah kini berhenti menyerbu meski masih menyisakan rintik-rintik gerimis yang terkadang membuat kepala menjadi pening.
Nirina menengadahkan wajahnya ke langit, matanya menerawang jauh ke atas sana hanya saja yang didapatkannya bukan apa-apa. Hanya sekelompok burut wallet berbondong-bondong pulang ke rumahnya, baris-berbaris dan saling mengekor membentuk ular hitam raksasa di angkasa.
“Ayo, pulang! Hujannya udah berhenti.” Gita mengulurkan tangan kirinya pada Nirina, tangan kanannya memegang gagang sebuah payung bercorak bunga-bunga. Nirina menoleh singkat, dan kembali menatap gugusan awan cumulonimbus yang mulai menghilang.
“Sehabis hujan, langitnya cantik ya, Git?” desisnya kemudian. Gita ikut-ikutan melayangkan pandangannya ke atas sana, namun kemudian ia abstain. Ia pikir apa yang dilihatnya terkesan biasa-biasa saja.
“Ayo kita pulang, Nir. entar hujan lagi lho!” Gita mengultimatum. Nirina hanya tersenyum dan mendesah “Setelah hujan itu suka muncul pelangi, Git.”


Gita mendongak tak percaya. Sejak kapan omongan Nirina menjadi ilmiah begini? Namun kemudian Gita sadar, Nirina akan seratus delapan puluh derajat berbalik dari sifat aslinya yang ngocol saat melihat hujan turun.
Gita dan Nirina berjalan beriringan dalam satu payung. Mereka memang terbiasa pulang bersama sejak masa orientasi di SMA favorit di Kabupaten Subang ini. Awalnya mereka tidak saling mengenal, Gita asli Sagalaherang—salahsatu kecamatan yang letaknya di barat daya Kabupaten Subang, sedangkan Nirina berasal dari Jakarta. Tanpa terasa, mereka telah bersahabat kurang lebih satu tahun. Sebentar lagi mereka sama-sama akan duduk di bangku kelas XI.
“Ada kenangan indah saat hujan memangnya, Nir? Kamu suka hujan atau kamu suka pelangi?” Tanya Gita dengan tatapan menyelidik. Lagi-lagi Nirina hanya tersenyum penuh makna. Ada yang disembunyikan dari sorot matanya.
Kenangan-kenangan di masa lalu berlompatan di benak Nirina. Kenangan itu terkadang berserakan seperti mainan anak-anak yang tidak dibereskan kembali setelah bermain atau mungkin seperti tumpahan gula yang tak bisa kita pungut per butirnya.
Bau rumput yang menyapa penciuman terus meluncur dan membuat dada Nirina terasa lapang. Ia lalu memejamkan matanya sejenak dan berhenti melangkah disusul Gita yang juga berhenti dan menatapnya kebingungan. Nirina membayangkan lagi. Kenangan itu adalah……
“Jenis presipitasi tergantung pada apa yang terkandung dalam awan, bisa berupa butiran air, kristal es, ataupun keduanya. Awan rendah yang tipis hanya mengandung butiran air sehingga menghasilkan hujan atau gerimis. Awan yang lebih tebal mengandung baik butiran air maupun kristal es sehingga dapat menghasilkan hujan, salju, atau hujan butiran es.” Pak Djohar menerangkan dengan logat Jawa nya yang kental.
Sebagian siswa masih antusias menerima materi pelajaran IPA mengenai hujan dan siklus hidrologi tersebut. Sebagian lagi, tidak memerhatikan sama sekali, Nirina adalah salah satu di antaranya.
“Nir!” desis Malia di telinganya.
Nirina menggumam sewot karena Malia mengganggu tidurnya. Sejenak ia berpura-pura memerhatikan Pak Djohar yang sedang mengajar lalu kemudian memalingkan wajahnya pada Malia, teman sebangkunya.
“Ada anak baru kelas 8 ganteng banget.” Ujar Malia antusias. Ekspresi wajah Nirina hanya dingin, namun ia tetap mendengarkan ocehan Malia walau dengan malas-malasan.
“Oh ya? Terus gimana?” komentarnya tak perlu. Malia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. “Iya, kelas 8D. Namanya Rayana, tapi katanya biasa dipanggil Ray.”
Nirina pura-pura mengangguk-angguk, sebetulnya ia masih mengantuk. “Brondong?” tanyanya segera agar Malia tidak merasa kecewa karena tidak didengarkan. “Kita masih SMP, Nir. Jangan sembarang pacaran.”
Nirina mengacungkan jempol dan kembali membenamkan wajahnya ke atas meja.
“Yah, ini anak malah tidur lagi.” Cibir Malia segera.

Sepulang sekolah, Nirina menunggu di teras kelasnya dengan harap-harap cemas. Sesekali ia merutuk pada dirinya sendiri karena hujan tak kunjung berhenti. Nirina sangat membenci hujan, baginya hujan menghalangi segala aktivitasnya. Hujan tak jarang membuang-buang waktunya percuma hanya untuk menunggunya reda.
Seorang siswa laki-laki berjalan mendekati Nirina. Usia tampak setahun lebih muda. Nirina belum pernah melihatnya, baginya wajahnya sangat asing dan bisa dipastikan ia bukan teman seangkatannya.
Anak laki-laki itu lalu tersenyum, wajahnya memang begitu unyu namun tinggi badannya menyamai Nirina. Ia lalu tersenyum dan duduk disamping Nirina, “Menunggu jemputan, Kak?” tanyanya kemudian sedikit kaku.
“Menunggu hujan reda. Tidak ada yang menjemput.” Balas Nirina tidak bersahabat. Anak itu mengangguk-angguk. Nirina memerhatikannya dengan pandangan aneh.
“Hujannya lucu ya, Kak.” Ujar anak itu kembali dengan penuh antusias. Sangat polos. Nirina terhenyak dan memicingkan matanya. Apanya yang lucu? Cibirnya dalam hati sambil memerhatikan anak itu dengan aneh.
“Kakak sebel sama hujannya, ya?”
“Yaiyalah, siapa juga yang enggak sebel. Hujan itu bikin kita basah dan bisa sakit, hujan itu buang-buang waktu kita, hujan itu bikin jalanan becek bahkan banjir. Kalo ada hujan juga seringnya ditambah petir yang bikin ngeri.” Ceracau Nirina tanpa memerhatikan ekspresi anak laki-laki di sampingnya. Wajah anak itu tampak sendu dan matanya kuyu.
“Emangnya kenapa?” Nirina menunggu respon. Anak itu hanya menunduk lesu. “Enggak kenapa-kenapa, Kak. Cuma bingung kenapa banyak orang enggak suka hujan.” Katanya dengan nada miris. Nirina mengerutkan keningnya dan lagi-lagi berpikir tak enak. Ini anak ganteng-ganteng kok autis sih? Siapa juga yang suka kalo hujan turun! Umpatnya dalam hati.
“Oh iya, Kak. Kenalin namaku Ray. Rayana Hujan.”
“Hah?”
“Iya Kak, nama kepanjanganku Rayana Hujan biasa dipanggil Ray.”
Sejenak Nirina mengingat Malia dan ia kembali tersadar setelah anak itu balik bertanya. “Nama kakak siapa?” tanyanya terkesan sok kenal. Nirina hanya menyunggingkan se per empat dari senyum termanisnya dan menjawab “Nirina Luwika.”
“Kakak pasti bingung kenapa nama belakangku Hujan. Sedikit orang yang tahu, tapi aku akan cerita deh. Kakak janji akan mendengarkan, ya?” ujar anak bernama Rayana itu. Sebenarnya Nirina ingin cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu, namun hujan malah turun semakin deras dan memaksanya untuk tetap tinggal dan mendengarkan cerita Rayana.
“Jadi, aku dilahirkan saat hujan turun, Kak.” Rayana mengawali cerita. Nirina hanya memutar bola mata, tidak tertarik dengan cerita tidak penting seperti itu. “Lalu?” ujarnya singkat.
Rayana menghela napas dan memandang ke langit. Hujan masih terus mengeroyok bumi dengan serbuan air beningnya. “Nah, saat melahirkanku, ibuku meninggal, Kak. Jadi aku diberi nama Hujan agar aku tidak pernah melupakan hujan di tanggal 24 November tiga belas tahun yang lalu, Kak.”
Nirina terbelalak. Darahnya berdesir begitu cepat dan hatinya melembek. Luluh dan iba. Perasaannya menjadi kacau. Ia lalu semakin fokus untuk mendengarkan buncahan hati Rayana selanjutnya. “Ayahku bilang, setiap selesai hujan pasti akan selalu ada pelangi yang indah. Setelah adanya suatu bencana pasti akan ada hikmah yang indah dibalik semua itu. Jadi aku tidak pernah membenci hujan, Kak. Ibu pergi di saat hujan, karena itulah setiap hujan aku selalu senang karena merasa bertemu dengan ibu.”
Nirina memerhatikan setiap ucapan Ray dengan sinar mata yang meredup. Ia bisa melihat kepedihan mengganjal di sela-sela matanya. “Kalau hujan turun pada saat kita melakukan sesuatu, tandanya Tuhan mencintai apa yang kita kerjakan, Kak. Jadi aku percaya bahwa ibu pergi karena dicintai Tuhan.”
“Bukannya saat hujan langit itu menangis ya?” Nirina bertanya ragu. Ray tersenyum cerah dan tangannya terulur ke depan untuk menggapai hujan yang tak urung mereda. “Menangis bahagia, Kak. Oh iya, dulu sewaktu kecil Ayah selalu bilang bahwa saat hujan itu tandanya bidadari di langit sedang mandi jadi kami selalu menatap hujan berharap bisa mengintip bidadari-bidadari itu.”
Nirina terkekeh. Ia mulai sangat menikmati obrolannya sore ini dengan Rayana. “Ray, kau murid baru, ya? Kenapa pindah sekolah?” Tanya Nirina mencoba untuk mengalihkan pembicaraan tentang hujan dan duka yang disimpan Ray dalam hidupnya. Ray menggigiti bibirnya dan terlihat berpikir.
“Kalau aku berkata jujur, aku takut Kakak tidak mau berteman denganku.” Desahnya sedih namun tetap polos. Nirina mendengus. “Ray, Cerita saja!” desaknya.
“Mmm… Di sekolah lamaku aku sering membolos, Kak.” Jawab Ray kelu. Nirina mengernyitkan dahinya. Ia tidak percaya anak sebaik dan sepolos Rayana seperti itu.
“Kak, aku lupa. Ayah menjemputku di toko seberang. Jadi, Kakak pakai saja payungku, ya. Hujannya tidak akan berhenti sebentar lagi, Kakak pulang dengan ini saja, jangan lupa nanti tunggu datangnya pelangi, ya!” gumamnya sambil mengulurkan sebuah payung berwarna biru. Gambar Doraemon terhampar di atasnya. Awalnya Nirina ragu untuk mengambilnya, namun ia juga harus segera pulang. Apa yang ia yakini sama seperti pemikiran Ray, hujan tidak akan berhenti sebentar lagi.

Gita menepuk pundak Nirina, ia kembali tersadar dan tersenyum-senyum sendirian. Gita bergidik ngeri membayangkan hal-hal aneh menimpa sahabatnya itu. Nirina hanya nyengir kuda, mereka lalu melanjutkan kembali perjalanan pulang.

“Ketika sinar matahari menyinari jutaan butiran air, terbentuklah sebuah pelangi. Tiap butiran bagaikan sebuah prisma kecil, memecah cahaya tersebut menjadi tujuh spektrum warna—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna pelangi umumnya terlihat paling terang dan jelas di kedua ujung, atau kaki, tempat jatuhnya butiran-butiran hujan yang paling besar.” Nirina menyuarakan apa yang dibacanya dari ensiklopedia lantas segera menutupnya saat Gita memandangnya aneh.
“Kenapa sih kamu suka banget semua tentang hujan atau pelangi atau apalah yang nyangkut semua itu?” Tanya Gita namun dengan nada meledek. Nirina meletakkan kembali ensiklopedi tersebut di rak perpustakaan sekolah. Gita masih tetap memandanginya dari bangku perpus. Nirina kembali menduduki bangkunya di samping Gita berada.
“Soalnya aku naksir orang yang namanya Hujan, waktu SMP.” Timpalnya kemudian. “Hujan?” Gita mengulangi perkataannya. Nirina mengangguk mantap. “Iya, namanya punya sejuta makna.” Ungkapnya lebay.
Memang, sejak peristiwa yang tak pernah Nirina lupakan itu, Nirina sadar ia mulai menyukai Ray atau Rayana atau Hujan. Ray begitu baik saat kesan pertama. Ia juga telah mengajarkan berbagai hal secara tidak langsung. Salah satunya adalah dengan menerima dengan baik ciptaan Tuhan berupa turunnya air hujan.
Nirina tidak memberitahu perasaannya pada Ray, karena ia sadar Ray masih terlalu dini dan polos untuk mengerti cinta-cintaan. Lagipula saat itu sahabatnya—Malia menyukainya. Jadi, Nirina hanya bungkam saja. Dan sampai bersekolah di Subang seperti saat ini, ia masih belum bisa melupakan hal sepele yang berkesan itu.
“Nir, penerimaan siswa baru udah dibuka belum?” Gita mengalihkan obrolan. “Udah diumumin kali, tinggal waktunya daftar ulang.” Timpalnya singkat. “Kenapa emangnya?”
“Cuma mau mastiin brondong aku waktu SMP masuk ke SMA ini juga.” Gita berseri-seri. Nirina menertawakan pipi tembem Gita yang memerah dan jadi seperti tomat.
“Kenapa kamu enggak lihat data-data siswa baru di ruang PSB ? Ayah kamu kan guru.” Usul Nirina yang langsung disetujui Gita untuk segera menemui ayahnya di ruangan PSB.
Sesampainya di ruangan PSB, ternyata ruangan kosong tidak ada yang menjaga. Mungkin ayah Gita atau Pak Murhadi sedang ada keperluan mendadak di ruangan lain. Gita langsung mengarahkan pandangannya ke daftar peserta yang lolos menjadi siswa SMA Negeri 1 Subang dan ia mendesah kecewa saat nama orang yang diharapkannya tidak tercantum di sana.
Tanpa sengaja, Nirina melirik secarik kertas yang ada di atas meja. Ia mengambil kertas itu dan terkejut saat membaca isinya. Sebuah curriculum vitae dari salah seorang peserta yang lolos seleksi.
Nama : Rayana Hujan
Tempat dan tanggal lahir : Subang, 24 November 1997
Alamat : Jln. Piere Tendean No. 10 Subang
Asal sekolah : SMP NUSANTARA JAKSEL
Motto Hidup : Setelah hujan besar pasti akan selalu muncul pelangi. Selalu ada
hikmah di balik sesuatu.
Nirina meroket. Jiwanya lepas. Ia sangat lega, terharu, senang, terkejut, tidak menyangka, tidak percaya, dan segala perasaan yang bercampur aduk seperti gado-gado. Gita hanya memandanginya bingung dan melangkah mendekatinya. Kemudian Gita mengangguk paham dan ikut tersenyum dibuatnya.
Beberapa detik kemudian Pak Murhadi masuk dan terkejut saat mendapati dua siswanya ada di dalam ruang PSB. Nirina terpaksa meletakkan kembali kertas curriculum vitae yang istimewa itu padahal ia ingin membawanya pulang.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s