Mercusuar

“Kau cemburu terhadap orang gila, apakah kau sama-sama gila, Mas?!”

Hampir setiap hari Mas Leo harus kutampar dengan kalimat itu, dan kali ini mulutku kembali meluncurkan ucapan-ucapan keramat seperti itu lagi.  Sedikitnya itu membuat tenggorokanku terasa terbakar. Mas Leo juga tak ingin kalah, sumpah serapahnya kembali bergulir diiringi ancaman-ancaman untuk manyambut perceraian di antara kami. Aku tidak takut akan itu. Aku hanya menyesali bila tujuh tahun pernikahan kami harus berakhir seperti ini. Bercerai memang halal, tapi Tuhan sangat membencinya.

               “Ini bukan perkara cemburu atau tidak, ini mengenai kelalaianmu menjalankan kewajiban sebagai istri!” bentak Mas Leo lagi-lagi. Telingaku tidak cukup panas mendengarnya. Sudah biasa. Aku bisa mendengar suara pangeran kecilku, Jilon, menangis sambil berteriak-teriak “Papa, jangan banting Ultraman punya Jilon!”

Sangat pedih. “Grace, seharian kau menghabiskan waktu di rumah sakit hanya untuk menemani pasien itu. Apa kau tidak ingat kalau kau punya keluarga di rumah?” suaranya kini melembut, tapi tetap saja terdengar sangat ketus.

“Aku tidak benar-benar menghabiskan waktu di sana, kan? Buktinya setiap malam aku berada di rumah. Mas, kau saja yang selalu berburuk sangka padaku. Aku juga harus professional, ini tuntutan profesi. Dennis adalah pasienku, dan aku punya tanggung jawab untuk selalu memberi kabar perkembangan pada keluarganya. Itulah mengapa aku harus selalu menemaninya. Kau mengerti tugas seorang psikiater sekaligus psikolog pribadi, kan?”

Mas Leo menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menahan amarah. Wajahnya yang memerah seperti kobaran api tidak meluluhkan aku untuk berdiam dan angguk-angguk saja terhadap ceracauan seorang suami. Aku mengaku salah, namun yang dibicarakannya pun tidak seratus persen benar. Sudah kewajibanku untuk mengingatkan setiap kesalahannya.

Mas Leo lagi-lagi menarik napas. Tangannya mengepal. Entah akan memukul, menampar, atau apapun. Aku hanya bisa memerhatikannya. Sebagai seorang ahli kejiwaan, aku tahu dan mengerti segala maksud gerak-geriknya saat ini. Masih menahan amarah. Aku mencoba untuk menunjukkan ekspresi tidak peduli, dan ia sama sekali tak memberikan reaksi.

“Sudahlah, terserah kau saja. Selalu saja tuntutan profesi dijadikan alasan.” Ia lalu pergi sambil menggendong Jilon yang sedang terisak. Mata beningnya mencucurkan air mata saat melihat robot kecil Ultraman-nya hancur berantakan di lantai. Tak lama Mas Leo membanting pintu, lalu aku mendengar suara mesin mobil menderu. Sudahlah, mungkin malam ini ia sedang tidak ingin melihat wajahku di rumah.

                Aku menatapnya sekali lagi, Dennis membalasnya dan tersenyum. Bagus, respon dan reaksi yang bagus. Kini ia bisa berkomunikasi kembali secara nonverbal. “Kok ngeliatin saya terus, Mbak Grace?” komentarnya. Aku memang tidak suka dipanggil Bu Psikolog, Bu Psikiater,atau apapun yang menunjukkan kedudukanku di tempat kerja, maka dari itu ia biasa memanggilku dengan menyebutkan nama saja. Aku hanya terkekeh. Luar biasa, ia mulai peka pada sekitar dan lawan bicaranya.

“Ehm.” Aku berdehem, membersihkan tenggorokan. Dennis tertawa kecil. Aku panik, jelas aku panik. Apakah kejiwaannya terganggu kembali? Semua orang tahu orang yang tertawa sendiri tanpa sebab identik dengan seseorang yang…… kejiwaannya terganggu—aku tidak bisa menyebutnya gila.

“Tidak usah khawatir, Mbak. Saya baik-baik saja. Saya hanya sedang mencari-cari alasan agar tidak dibawa pulang keluarga. Saya masih ingin tinggal di sini. Tidak peduli orang-orang menyebut gila atau tidak. Saya tidak mau  pulang.”

Dennis membuka jendela ruanganku. Aku masih memerhatikannya sambil duduk di atas kursi. Biasanya, aku membiarkan Dennis duduk dihadapanku dan mengintrogasinya untuk tahu seberapa besar perkembangannya yang signifikan. Namun sekarang aku tidak perlu melakukannya lagi karena Dennis sudah kembali ke normal.

“Kenapa kamu tidak ingin pulang? Apa kamu tidak rindu keluargamu?” tanyaku menyelidik. Ia memandang ke luar jendela dengan tatapan menerawang sejauh-jauhnya. “Mbak sendiri bagaimana? Hampir sepanjang hari menemani saya, apa Mbak tidak rindu dengan kebersamaan keluarga di rumah?” Aku terhenyak.

“Mbak punya seorang suami dan anak yang lucu. Saya takut mereka kecewa karena Mbak terlalu sibuk mengurusi pasien seperti saya. Apa Mbak masih suka bermain dengan mereka?” ujarnya kembali membuat sesuatu meletup-letup dalam hati. Ada emosi yang bergolak di dalam.

Darimana Dennis tahu mengenai suami dan anakku? Ia menunjuk ke arah sebuah bingkai yang di dalamnya terdapat potret aku, Mas Leo, dan Jilon. Aku mendengus, memaksakan untuk tersenyum. “Kami baik-baik saja, tidak perlu berpikir begitu. Lagipula sebentar lagi kamu kan akan pulang, Dennis. Bergabung kembali bersama keluarga dan teman-temanmu.”

Senyuman di wajah tampannya mengendur. Sinar matanya meredup. Dennis berusia tiga tahun di bawahku. Namun wanita berusia kepala tiga sepertiku selalu saja tampak lebih tua dari seharusnya, terutama dibanding seorang pria.

“Tidak, Mbak. Saya tidak ingin pulang. Saya ingin tetap tinggal di sini.” Aku menghela napas. “Kenapa? Kenapa kamu tidak ingin pulang? Saya tidak punya alasan untuk mempertahankan kamu di sini. Orang normal tidak seharusnya tinggal di rumah sakit jiwa.”

Dennis menunduk dan kemudian menengadahkan wajahnya ke langit biru muda yang ditatapnya melalui jendela. “Karena segala tentang rumah mengingatkan saya pada Rani, Mbak.”

Lagi-lagi aku tersentak mendengarnya. Jantungku kembang-kempis. Ternyata Dennis masih tetap menyimpan luka itu. Dalam memorinya masih terpatri nama Rani Dianaristi, istri tercinta yang meninggal tiga bulan yang lalu karena menderita kanker lambung.

Hal itu pula yang kemudian menjadi pemicu kedatangan Dennis ke rumah sakit jiwa ini. Hal itu yang membuat aku bertemu dengan sosok sepertinya. Memang cukup berlebihan bila keluarganya memasukkan Dennis ke rumah sakit jiwa seperti ini hanya karena depresi dan stress berat yang dirasakannya setelah kepergian orang yang sangat dicintainya, tapi itu tidaklah salah. Semua ingin yang terbaik baginya.

Tiga bulan lalu, Rani pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Dennis tertekan dan merasakan kehilangan yang amat mendalam. Kesedihannya yang berlarut-larut menjadikannya seseorang yang di luar garis normal. Emosi dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan, semua yang dikatakannya tidak jauh dari nama Rani.

Dennis selalu saja memohon kepada keluarganya untuk pergi ke makam Rani setiap hari. Ketika sampai, yang dia lakukan tidak pernah jauh berbeda dari sekedar mencakar-cakar tanah kuburan—bahkan sempat berniat memakannya, menggali kuburan Rani dengan jari-jarinya hanya untuk berupaya menarik kembali sang istri ke dalam pelukannya. Sungguh berat dan pedih rasa kehilangan yang menghinggapi jiwanya yang ditinggalkan. Jiwa yang lemah, yang tidak bisa mengendalikan diri dari kesedihan yang mengguncangnya itu.

Aku mengerti betul kondisi psikologi Dennis saat itu. Kecintaannya terhadap Rani memang benar-benar luar biasa. Hanya saja cinta itu belum dilandaskan iman yang kuat. Iman yang bisa membuatnya berpikir positif kepada Tuhan bahwa Dia akan menjaga Rani dalam keadaan baik di sana.

Aku mengerti betapa sakitnya ditinggal seseorang selamanya. Jangankan itu, bila melirik ke dalam kehidupan remaja pun banyak hal yang kurasa dapat menyayat hati dan mengganggu kejiwaan seseorang. Putus cinta, bertepuk sebelah tangan, dikhianati, tidak direstui, bahkan ditinggal untuk selamanya adalah masalah-masalah klasik yang berdampak besar pada psikologi manusia. Tergantung pada manusia yang mengalami masalah klasik cinta itu, bila mereka juga mencintai Tuhannya, hal itu tidak akan membuat mereka rapuh, justru akan membuat jiwanya semakin kokoh.

“Mbak, saya boleh bertanya sesuatu?” ujar Dennis membuyarkan lamunanku. Aku segera mengangguk tanpa bergeming. Ia terlihat berpikir dan kemudian tersenyum. “Apakah saya pernah bertemu Mbak Grace sebelumnya? Apakah kita sudah saling kenal sejak lama? Apa saja yang Mbak lakukan saat saya mengalami frustasi mendalam, mmm… saat saya gila.”

Aku memainkan bolpoint yang ada di atas meja dan kemudian bangkit menghampirinya. Berdiri di samping tubuhnya yang lemah. Aku melihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta di depan jendela, mungkin Dennis sudah lupa bahwa ia pernah memimpin salah satu perusahaan di sana sebelum Rani pergi.

“Kita baru dipertemukan di sini. Memangnya kenapa?” gumamku kemudian. Ada sesuatu yang menggelitik di dalam. Ingat ketika pertama kali bertemu dengan Dennis—saat keluarganya membawa ke rumah sakit ini dan melaporkan tingkah-tingkah anehnya, ia langsung berlari dan memelukku. Mengiba-iba dengan menyebutku Rani. Entah apa yang dilihatnya dariku saat itu.

“Entahlah, saya merasa begitu dekat dengan Mbak Grace. Saya merasa Mbak begitu berarti untuk saya. Mbak mengembalikan lagi hidup saya, karena itu saya tidak ingin pulang. Saya tidak ingin merasakan kehilangan untuk kedua kalinya.”

Aku menelan ludah, masih berdiam diri dan berusaha berpikir jernih.

“Lalu?” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Dennis tidak menghiraukannya. “Mbak membuat saya berhasil ikhlas untuk melepaskan Rani, bahkan saya telah menganggap Mbak sebagai Rani yang baru. Tapi saya tahu Mbak Grace punya keluarga di rumah, saya merasa tidak enak karena waktu Mbak banyak dihabiskan untuk saya. Saya hafal betul bagaimana perihnya kehilangan, saya tidak ingin keluarga Mbak kehilangan sosok luar biasa seperti Mbak. Selain itu, saya juga tidak ingin Mbak menjadi seperti mercusuar yang bisa menerangi hidup orang lain termasuk saya, tapi kehidupan Mbak dan sekeliling gelap gulita.”

“Ah, kamu. Saya dan keluarga baik-baik saja, Dennis.”

“Tapi saya tidak pernah melihat mereka mengunjungi Mbak ke mari.” Protesnya kembali. Aku berusaha memutar otak. Dennis benar-benar kritis. Tapi aku seharusnya senang mengetahuinya, Dennis benar-benar dapat kembali pada kehidupannya seperti semula.

“Tidak juga, mereka suka menghubungiku lewat telepon.” Ujarku berbohong. Jangankan telepon, berbicara dan bertemu saja tidak akan jauh dari yang namanya pertengkaran, gumamku mencibir dalam hati. Dennis hanya mengangguk-angguk.

Tak lama setelah itu ponselku bordering, aku melihat ke layar dan nomor Mas Leo yang tertera. Ada apa ini? Jangan-jangan ia menghubungiku karena surat tuntutan cerai sudah dilayangkan? Bagaimana dengan hak asuh Jilon? Sudikah ia memberikannya padaku?

“Kenapa tidak diangkat, Mbak?” Dennis mengingatkan. Aku masih terlihat menimbang-nimbang. Ada yang lain di dalam hati, perasaan haru biru bercampur gundah gulana. Semoga saja ia tidak meleponku untuk hal-hal yang akan membuatku depresi.

‘Halo? Selamat siang. Dengan istri dari Bapak Leo Hardian?’

Aku mengiyakan. Lama kudengar suara wanita itu bicara melalui ponsel, tapi tiba-tiba sesuatu menyambar diriku, hidupku, dan segalanya. Aku melihat ke arah Dennis yang panik melihatku.  Air mataku menetes. Kaki-kaki ini sudah gatal minta diajak pergi. Aku segera mengambil kunci mobil dan pergi tanpa berpamitan terlebih dulu pada Dennis.

                Aku terduduk lemas di samping kedua makam ini. Peziarah sudah pulang dan meninggalkanku, Tamara—adik Mas Leo, dan Mama. Aku tidak pernah menyangka hal mengerikan seperti ini akan mampir pada hidupku. Seorang psikolog pun kadang tidak bisa menahan emosi yang mendalam saat-saat rapuh seperti ini. Aku tak berhenti mengelu-elukan nama Mas Leo dan Jilon yang telah terbaring dan pergi untuk selamanya.

“Semalam Leo dan Jilon memang menginap di rumah Mama, menanyakan pendapat Mama mengenai perceraian kalian. Awalnya Mama tidak setuju, tapi Leo bersikeras. Ia pikir perpisahanlah yang terbaik bagimu, meski ia tidak mau. Mungkin inilah perpisahan yang sesungguhnya. Bisa jadi itu adalah sebuah firasat. Sebelum ia berniat pulang tadi pagi, Leo masih sempat bicara untuk memohon hak asuh Jilon bersamanya. Dan Leo benar-benar membawanya pergi bersamanya setelah kecelakaan itu.”

Aku tak henti-hentinya menangis.

“Tuhan benar-benar menyayangi mereka. Tuhan tahu yang terbaik, Tuhan tahu Grace tidak bisa mengurus mereka dengan baik, maka dari itu Tuhan mengambil mereka.” Tamara menambahkan. Pedas. Pilu hati ini mendengarnya. Ia benar, tapi mengapa seolah-olah hanya aku pecundang yang patut dipersalahkan? Padahal aku pun tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Sama seperti mereka.

“Mbak Grace.”

Seseorang memanggilku. Aku menoleh. Ada Dennis di sana dengan mengenakan kemeja dan celana hitam. Kali pertama aku melihatnya tidak menggunakan seragam pasien rumah sakit jiwa. Aku tersenyum dengan air mata yang berlinangan.

“Saya pernah ada di posisi Mbak, tapi saya tahu Mbak adalah orang yang kuat.” Dennis  menepuk pundakku. Aku berusaha untuk mengelap wajahku yang basah karena banjir air mata. Bukankah aku yang selama ini memaksanya untuk ikhlas dan tegar untuk kepergian Rani? Aku merasa malu pada diriku sendiri, terutama padanya.

“Mas Leo dan Jilon baik-baik saja di pangkuan Tuhan, Mbak. Kita di sini ditugaskan untuk menyambung hidup dan mendoakannya. Itu saja.” Aku terharu, Dennis masih hafal betul apa yang kukatakan kepadanya. Aku bingung bagaimana bisa Dennis mengetahui nama suami dan anakku, dan aku baru ingat nama mereka kini tertera di batu nisan. Juga terpatri selamanya di hati orang-orang yang mencintainya.

“Mbak tidak perlu khawatir, banyak yang menjaga Mbak di sini. Mbak membuat saya merasa hidup kembali. Mengisi kekosongan dan hati yang hampa karena ditinggal Rani. Sekarang giliran saya yang membalas budi, saya ingin membahagiakan Mbak bagaimana pun caranya.”

Aku kembali meneteskan air mata. Dennis hanya tersenyum teduh dan sedikit demi sedikit menghapus perih serta luka yang bercampur karena kepergian dua orang terpenting dalam hidupku.

Aku akan menata kehidupan baru yang lebih baik lagi. Aku tidak ingin seperti mercusuar yang menerangi hati orang-orang sedangkan kehidupanku sendiri terperangkap kegelapan. Aku harus berterimakasih pada Dennis yang telah mengajarkanku bahwa ternyata rasa kehilangan itu benar-benar menyakitkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s