Move On ~ 8

“Masuklah dulu, aku yakin ibu sudah ada di rumah.” Ujar Sheena resah sambil menarik-narik tangan Kao. Kao terus saja menolak dan tersenyum. Tidak peduli pakaian yang dikenakannya basah. Sheena memandanginya dari ujung rambut sampai roda motornya dan memaksa Kao untuk memasuki rumah. Kao hanya menggelengkan kepala.

“Aku tidak ingin kau sakit Kao, please. Aku tidak ingin teman terbaikku sakit karena menemaniku di hari ulang tahunnya.”

Kao tampak berpikir, kemudian ia malah memutar kunci dan menyalakan mesin motornya. Sinar lampu menyorot ke depan, Kao sudah siap untuk mengemudikannya. Sheena mendesah kecewa. “Kalau begitu aku harus segera pulang, Sheena. Aku sudah lega bisa menemanimu di hari special ini. Pergilah mandi dan ganti bajumu yang basah. Sebelum kau yang masuk angin.” Kao langsung melajukan motornya. Sheena hanya bisa pasrah dan melambaikan tangan, berharap sahabatnya itu bisa pulang dengan selamat.

Sheena melangkahkan kaki-kakinya dengan gontai. Malam ini benar-benar super. Benar-benar tidak ada yang dapat menggantikan posisi Kao dengan gelar sahabat terbaiknya. Sejak kecil bahkan. Sheena kadang berpikir tidakkah Kao merasa bosan karena selalu bersamanya, tapi Sheena tahu jawabannya sebagaimana ia tidak pernah merasa bosan di dekatnya.

“Ibu pikir Kau akan menginap dengan teman-temanmu.” Ujar Ibu sambil meletakkan remote televisinya. Ia lantas khawatir memandangi Sheena yang datang dalam keadaan basah kuyup. “Teman-teman? Aku hanya pergi dengan Kao, Bu.”

Ibu tersenyum sebelum kembali memandangi drama di layar kaca. “Dan apa yang anak itu lakukan di hari ulangtahunmu?” Kini mata Ibu kembali menyoroti gambar bergerak di dalam tv. “Membawaku ke sebuah taman, Bu. Lalu dia pergi dalam waktu lama dan datang dengan berpura-pura sebagai hantu. Aku nyaris saja pingsan, dasar bocah menyebalkan.”

Ibu tertawa. Sheena bingung karena tidak tahu apa yang ibu tertawakan, ucapannya atau apa yang ia lihat di televisinya. Sheena mengambil sebuah gelas dan mengisinya penuh dengan air. Ia meneguknya pelan-pelan sebelum akhirnya tersedak karena mendengar komentar Ibu. “Kao sangat romantis, Sayang.”

Sheena tertawa kecil dan segera memutuskan untuk mengambil handuk, mengeringkan seluruh tubuh dan rambutnya. Ia lantas teringat kalimat yang terakhir diucapkan Kao dan segera melaksanakannya.

Seusai mandi dan mengganti pakaian yang bisa membuatnya sakit Sheena memasuki kamarnya kembali. Ia tertegun saat melihat isinya sangat berantakan. Foto Mario tergeletak di mana-mana dalam posisi yang tidak menyenangkan. Sebelum berangkat tadi, hati Sheena sama berantakannya seperti kamar ini. Tapi kini Kao telah merapikannya kembali. Sheena segera menyalakan komputer dengan melangkah percaya diri—menginjak foto-foto Mario yang berserakan di lantai.

Sheena tersenyum. Ayah mengirimnya sebuah pesan manis berisikan ucapan ulang tahun melalui e-mailnya. Sekarang bukan lagi e-mail dari Mario yang  ia tunggu-tunggu. Ia membuka id yahoo-messengernya, melihat akun Kao sedang diaktifkan. Ia lantas mengetik dalam kolom chat.

Young_Sheena (Sheena Youngtacham) : Aku suka malam ini, terimakasih hantu Kao.

Sheena masih berdiam di depan layar. Harap-harap cemas.

Kao-Laongmanee (Jirayu Laongmanee) : Aku sudah tidak jadi hantu lagi! Apa kau tidak ingat aku sudah membuang topengnya?

Young_Sheena (Sheena Youngtacham) : Padahal kau lebih tampan saat memakai topeng 😛 Kau tidak sakit karena hujan tadi kan?

Kao-Laongmanee (Jirayu Laongmanee) :  :@

Sheena mengernyitkan dahinya dan merasa tidak enak. Padahal ia tidak merasa bercanda berlebihan. Mungkin Kao sedang kelelahan hingga tidak ada mood untuk chatting dengannya.

Kao-Laongmanee (Jirayu Laongmanee) : Tadinya aku merasa pusing, tapi setelah kau mengechat ku, aku segar kembali. Tapi pas kau meledek, aku pusing lagi. Hahahaha. Selamat ulang tahun, putri Sheena. Jangan pernah lupakan hantu Kao.

Offline.

Sheena tertawa sendiri. Ia lantas membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia masih tersenyum-senyum sendiri. Otaknya memutar tombol flashback.

“Kalau seandainya nanti kau mencintaiku, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Kao kembali. Berusaha menutup lubang penasarannya. Mungkin saja ia bisa memperoleh sesuatu dari sini. Sesuatu mengenai isi hati Sheena padanya. Mungkin ada perasaan lain selain hanya menganggapnya sahabat.

“Kenapa kau bertanya seperti itu terus, sih?” komplain Sheena.

“Aku hanya bertanya, iseng saja. Ingin tahu jawabanmu. Kalau kau mencintaiku nanti, apa yang akan kau lakukan?”

Sheena menegakkan tubuhnya kembali. Ia berdehem dan merapatkan jaket yang dikenakannya. Angin semakin liar, dinginnya menusuk tulang. Kao mengangkat sebelah alisnya. Memaksanya untuk berbicara. Degup jantungnya tak beraturan.

“Kalau aku mencintaimu? Apa ya yang akan kulakukan? Mmm… Mungkin meminta maaf pada Nattasha.”

Petir menyambar. Hujan mulai turun tanpa sedikitpun memberi sinyal pada mereka. Kao menarik tangan Sheena untuk bangkit dan segera membawanya pergi. “Sial, Sheena. Kita harus pulang, tak ada tempat berteduh di sini.”

Kao melajukan sepeda motornya dengan agak kencang, tidak ingin mereka semakin lama terguyur hujan. Kini Sheena tahu ke mana Kao telah membawanya pergi, taman di belakang daerah Amatyakul School. Di dekat tempat les balletnya ketika kecil. Sejak dulu Sheena ingin pergi ke sana, tapi pintu gerbangnya selalu terkunci dan ia tak pernah tahu bagaimana isi taman itu. Sekarang ia menjadi tahu, setelah Kao membawanya ke sana.

“Pegangan, Sheena!” Sheena segera memeluk Kao dengan erat. Tangannya mendekap kencang karena selain takut terjadi sesuatu, ia juga kedinginan. Kao melajukan motor dengan sangat tidak waras. Sheena tidak pernah berada dalam boncengannya dalam keadaan seperti ini. Rambut Sheena berkibar-kibar, untung saja air hujan tidak menyerbu kepalanya karena tertutup helm.

Memasuki daerah dekat dengan rumah Sheena, Kao memelankan laju motornya. Ia kemudian bergoyang-goyang dan memainkan kemudi. Sheena berteriak-teriak sambil memukul-mukul punggungnya karena Kao tidak berhenti beraksi gila. Tapi selebihnya, ia tertawa bahagia.

Sheena tersadar kembali dari lamunannya, ia lantas menertawakan dirinya sendiri. Ada sesuatu yang aneh meletup-letup dalam hatinya. Kenapa ia terus saja memikirkan Kao? Sheena membuka jendela dan menengadahkan wajahnya ke langit. Berharap bintang-bintang akan memberikan jawaban padanya.

“Aku sedih karena Mario dengan mudah berpaling, tapi aku seharusnya sadar yang ia lakukan tidak salah. Aku bukan siapa-siapanya lagi.”

Sheena mengambil napas sejenak untuk mengisi paru-paru dan batinnya yang mulai sesak. “Tapi Aku senang Kao berada di sini, dia orang terbaik yang pernah ku kenal. Selalu berusaha membuatku bahagia dan ia selalu berhasil. Semoga saja persahabatan kami langgeng, aku rela melepaskan Mario asal tidak pernah kehilangan teman baik seperti Kao.”

Wajah Kao dengan senyuman khas dan lesung pipinya berkelebat dalam pikiran Sheena. Sheena kembali tersenyum-senyum sendirian. “Sangat bodoh kalau aku berpikir dia menyukaiku, Bintang. Aku seharusnya sadar, Kao selalu mengharapkan Natt meski ia tak pernah mengutarakannya padaku.”

Sheena tidak peduli bintang-bintang di langit  itu tak mendengarkan ceritanya. “Aku kagum padanya, tapi sejak ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan ‘bagaimana kalau aku mencintainya’ kepadaku tadi, aku merasa ada yang aneh. Sepertinya—Ah, aku tak pernah berpikir akan mencintai sahabatku sendiri. Ini bukan cinta kan, Bintang?”

Sheena menepuk jidatnya. “Tidak, tidak. Aku tidak memiliki perasaan itu. Aku hanya kagum karena Kao selalu mengerti dan membuatku senang. Terutama tadi, setelah ada yang mematahkan hatiku.”

Sheena menunduk dan mengambil sesuatu di atas lantai. “Hai, Mario. Kau sudah berbahagia dengan orang lain, bukan?” Sheena merasa sedikit sesak di dalam. Terbayang lagi kejadian-kejadian indah di masa lalu. Sampai pada hari kelulusan di mana Mario memutuskan hubungan mereka.

“Mario, apa pendapatmu kalau Kao menggantikan posisimu?” ia berbicara pada foto itu. Jelas saja tak ada jawaban. Lama-lama Sheena merasa geli. Apa sih yang aku bicarakan? Kao Kao Kao kenapa aku jadi memikirkan Kao seperti ini? Sheena memandangi sebuah foto di atas meja. Fotonya bersama anak-anak kelasnya sebelum lulus ujian.

Sheena berpose di samping Kao. Kao mengalungkan tangan ke lehernya. Sheena tersenyum memandang foto itu lalu kembali memandang foto Mario dalam genggaman tangannya. “Sulit melupakanmu, Mario. Tapi bersamanya aku seelalu bisa melupakan kesedihan. Aku harus move on dan berpaling pada orang lain seperti yang telah kau lakukan. Tapi pada siapa?” Sheena melirik kembali ke fotonya dengan Kao.

Foto Kao tak memberinya saran. Angin bertiup kencang hingga ke dalam kamar karena Sheena membuka jendelanya lebar-lebar. Sepertinya Bangkok akan kembali diguyur hujan. Ia segera tersenyum pada foto Mario dan menjatuhkannya ke luar jendela. Foto itu diterbangkan angin dan entah ke mana angin akan membawanya. Sheena merasa sedikit lebih lega. Aku pernah sangat mencintainya, jadi tidak waras bila aku harus membencinya hanya karena ia bisa move on sedangkan aku belum bisa melupakannya. Mungkin Kao bisa membantuku, batinnya.

Sheena menutup jendela.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s