Move On ~ 7

Sheena masih berdiam diri di kamar. Ucapan-ucapan Kwan masih memenuhi otaknya. Sheena hanya bisa pasrah, berusaha mencari tahu bagaimana cara mengobati luka hatinya. Mario sungguh telah menorehkan sesuatu yang tidak mengenakkan di hati Sheena, persis setelah ia tahu kenyataan yang sebenarnya setelah Kwan bicara.

Srek!

Sheena merobek fotonya bersama Mario, sebelumnya ia telah membanting figura yang membungkusnya hingga kacanya pecah berkeping-keping. Ia sudah tidak peduli dengan barang-barang itu. Sudah saatnya benda itu diletakkan di dalam tempat sampah, pikirnya.

Sheena terduduk lemas di lantai. Matanya basah. Mario telah memberikan sebuah kado pahit di hari kelahirannya—andai saja Kwan bisa menunda untuk tidak memberitahunya hingga esok hari. Tapi Sheena tetap bersyukur karena bila Kwan tak memberitahunya, ia akan tetap terkekang dalam cinta buta yang jauh berada di sana.

Sheena kembali membongkar isi rak bukunya, mengambil sebuah foto album yang hampir semua isinya adalah potret dirinya bersama mantan kekasihnya itu. Ia lantas mengambil satu per satu foto itu dan menghamburkannya ke lantai. Meratapinya, menangisinya, mencoba mengejar bayangan masa lalu yang sudah tak berpihak lagi padanya.

Dunianya berguncang. Sheena tidak habis pikir mengapa semuanya terjadi dan berjalan sesuram ini. Ia pikir cintanya bersama Mario adalah sebuah ending yang pas untuk skenario jalan cintanya. Namun pada kenyataannya, tidak.

Terdengar dering telepon dari luar, Sheena mengabaikannya. Ia tak cukup berselera untuk bangkit dan berkata ‘Halo’ pada si penelepon. Mulutnya terlalu asin untuk mengucapkan sesuatu. Asin karena banyak air mata yang bermuara di bibirnya.

Suara telepon tetap berbunyi, tak ada yang kunjung mengangkatnya.

“Bu……” panggil Sheena sambil mengelap daerah sekitar matanya yang basah dan sembab. Tak ada jawaban. Sheena kini mencoba berdiri dan menahan rasa sesak di hatinya, semoga saja penelepon itu tidak memberinya kabar buruk lebih dari ini.

“Halo?”

Tidak ada jawaban. Sheena menarik napas dalam-dalam. “Swadee Kaa, siapa ini?” tanyanya kembali. Tidak terdengar sesuatu pun dari lawan bicaranya. Sheena berniat untuk menutup telepon namun niatnya terhenti saat terdengar sesuatu.

“Happy birthday to you, happy birthday to you…”

Terdengar seseorang nyanyian dalam telepon itu. Sheena tersenyum dan mencoba mengingat-ingat siapa yang memiliki suara indah seperti itu. Semoga saja bukan Mario, dan memang bukan suara Mario.

“Happy birthday—“

Sheena membalikkan tubuhnya, suara dalam telepon kini menjadi dobel, dan sama persis seperti suara yang dikeluarkan seseorang di belakangnya. Sheena menyunggingkan sebuah senyuman dan matanya berkaca-kaca.

Beberapa detik setelah tertegun Sheena langsung memeluk orang yang kini ada di hadapannya. Orang itu membalas pelukan hangat Sheena dan membelai rambutnya. “Selamat ulang tahun, tidak bermaksud mengucapkannya terlambat.”

Sheena memeluknya semakin erat. Sesuatu mulai kembali ditampilkannya. Sebenarnya ia benci untuk melakukan ini. Menangis.

“Hei, jangan menangis di sini! Bajuku basah nih.”

Sheena melepaskan pelukannya dan memandangi orang itu lekat. Sheena sangat menyayanginya, dan Sheena sadar orang itu sangat ia harapkan saat ini. “Kau tidak jadi menemani ibumu ke pasar ikan?”

Kao menggeleng. Ia menatap Sheena sambil terheran. Sebenarnya ia sangat benci melihat bulir-bulir air mata menetes dari matanya. “Ada sesuatu yang harus diceritakan?” tanyanya sensitif. Sheena menggeleng dan mencoba untuk tertawa kecil. Ia ingin Kao tahu bahwa dirinya baik-baik saja, meski ia sangat ingin untuk menceritakan segalanya. Sesuatu telah mematahkan hatinya di hari special ini. Kao mengernyitkan dahinya dan Sheena menggeleng.

“Baiklah, kalau begitu aku yang harus menceritakan sesuatu.” Ujar Kao segera. Sheena lagi-lagi hanya tersenyum. “Berceritalah, tolong tambahkan sedikit humor. Aku sedang membutuhkannya.” Balas Sheena. Kao mengapit dagu dengan telunjuk dan ibu jarinya.

“Aku sedang tidak mood untuk melawak, Sheena. Maaf. Aku—“ Ujarnya dengan raut wajah tak enak dan terkesan tiba-tiba. Sheena fokus memandanginya dengan serius. Ia harus siap dengan segala kemungkinan yang akan Kao katakan. Semoga perasaannya tidak dibuat remuk kembali.

“Aku sudah meminta izin pada ibumu untuk menculik putrinya, dan ia mengizinkanku.”

Sheena lantas tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu Kao pasti sudah merencanakan sesuatu dengan ibunya, setidaknya ia telah memberitahu ibu. Sheena hanya bisa memukuli pundak Kao dengan manja.

“Dan kau akan menculikku ke mana? Sampai kapan? Bagaimana dengan rumah ini? Ibu sepertinya pergi dan aku tak akan membiarkan tempat ini dikunjungi pencuri.” Tantang Sheena padanya. Kao mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum angkuh. “Rahasia. Pokoknya aku telah diizinkan untuk membawamu sekarang dan bahkan ibumu berkata tidak apa-apa bila mala mini kau tidak pulang. Bagaimana?”

Sheena mengerutkan dahinya. Ia lantas mendaratkan sebuat cubitan gemas di pipi Kao, dalam waktu lama ia tidak melepaskannya. “Kau memang pintar mengambil hati ibuku!” ujar Sheena dengan seruak tawa. Kao hanya meringis kesakitan dan kemudian balas tertawa.

 

“Kao, berhenti menyiksaku. Kau membawaku kemana sih? Pemakaman umum? Rumah yang sudah tidak di huni? Atau ke sebuah rutan tempat narapidana kejam berkumpul?” Sheena terus saja mengomel sambil sesekali melepaskan ikatan di tangannya. Sayangnya Kao telah mengikat kedua tangannya dengan tali kuat-kuat.

“Kenapa sih yang kau pikirkan adalah tempat-tempat ekstrim seperti itu? Aku pasti akan berpikir dua kali karena aku sendiri tidak berani pergi ke sana, bawel.” Ujar Kao santai. Ia mengaitkan lengan kanannya ke leher dan pundak Sheena, memapahnya karena Kao telah menutup mata Sheena dengan sesuatu. Sheena hanya bisa mengikuti arahan Kao.

“Aw!”

Sheena hampir saja terpeleset. Untung Kao masih dapat menahannya. Kao tidak bisa berhenti tertawa melihat ekspresi Sheena yang begitu ketakutan. Seharusnya ia tidak perlu begitu panik, Kao pasti akan membuat Sheena aman bersamanya.

“Kao, ini tidak lucu. Awas kalau kau mengolesi wajahku dengan kecap seperti tahun kemarin!” ancamnya. Kao hanya tersenyum memandangi sahabat yang sangat dikaguminya itu. Ia sangat beruntung bisa sedekat ini dengan orang yang sangat dicintainya, meski Sheena benar-benar tidak pernah menyadari.

“Eh, kita sudah sampai? Akhirnya…..”

Tanpa bicara, Kao segera melepaskan ikatan di tangan Sheena dan ia segera berlari menjauh. “Apakah aku sudah bisa membuka penutup mataku?” Sheena berbicara sendiri, karena tidak ada orang selain dirinya di tempat itu. Begitu ia membuka matanya, sebuah senyuman manis tersungging. Namun senyuman itu meredup kembali kala ia sadar Kao menghilang dari sampingnya.

“Astaga, Kao. Aku capek, jangan menyuruhku mencarimu.” Sheena berteriak-teriak, tapi Kao tak jua merespon. Sheena memutuskan untuk duduk dan menjulurkan kedua kakinya, ia kini berada di hamparan rumput dengan pemandangan indah terbentang di hadapannya. Langit senja berwarna jingga karena lembayung sedang bersemayam. Sheena tersenyum, kapan lagi ia bisa menikmati suasana seperti ini? Suasana menjelang malam, saat hari belum terlalu mengarah pada kegelapan. Tapi Sheena mulai sedikit cemas karena Kao tak juga kembali menghampirinya.

“Kao, kau tidak pulang kan?” teriak Sheena kembali.

Hening.

Suara kepakan sayap dan jeritan-jeritan kawanan burung wallet memenuhi langit. Sheena mulai sedikit khawatir karena ia benci ditinggal sendirian berlama-lama seperti ini di alam bebas. Sayangnya, Sheena tidak tahu di mana tempatnya berdiri sehingga ia benar-benar tidak bisa nekat untuk melalui jalan pulang sendiri.

Angin berhembus lembut membelai rambutnya, Sheena mencoba untuk menarik napas dalam-dalam. Suasana kedamaian ini sedikitnya membuatnya rileks meski pikirannya tentang di mana Kao terus meraung-raung di otaknya.

Sheena melihat ke arah jam tangannya, Kao sudah hampir lima belas menit meninggalkannya. Sheena melihat ke belakang, tangga-tangga dari tanah  dengan hamparan bunga di sekelilingnya bisa jadi adalah satu-satunya jalan yang dilalui mereka tadi. Tapi Sheena tidak cukup berani untuk melangkahkan kakinya, ia lebih memilih untuk diam di tempat.

Sinar di taman ini mulai menghilang seiring matahari yang semakin tenggelam. Sheena mendekap tubuh dan kedua lututnya, kedinginan dan dibayang-bayangi perasaan takut. Hanya lampu taman yang pucat dan rembulan di atas sana yang setidaknya membuat Sheena merasa lebih baik.

Psss!

Bulu kuduk Sheena meremang saat sesuatu mendarat di pundaknya, terasa dingin. Sheena tidak berani untuk menoleh, ia malah jadi terbayang-bayang pada film horror yang pernah ditontonnya bersama Mario. Sheena mendesah pasrah. Mengingat Mario justru lebih horror dari apapun, batinnya.

Sheena menutup matanya, ia pasrah apapun yang terjadi. Hanya saja sedikit miris bila ia akan mati konyol di usianya yang tepat 17 tahun. Sheena merasakan sesuatu mendekati wajahnya, benda itu keras dan seperti mencium pipinya. Mungkin sesosok makhluk aneh yang ada di dekatnya? Sheena yakin itu adalah bentuk wajah dan ia  memberanikan diri untuk melihatnya.

“Aaaaah!”

Sheena menjerit dan makhluk aneh itu segera mendekapnya. Membungkam mulutnya dan mendekatkan punggung Sheena pada tubuhnya. Sheena nampak sangat ketakutan. Ia lantas langsung bersungut sebal saat Kao membuka topeng kayunya.

“Sialan, kau.”

Kao masih tertawa terpingkal-pingkal. Lagi-lagi Sheena memukuli punggung Kao dan meluncurkan berbagai protes. Sheena berusaha mengatur napas dan menenangkan jantungnya yang nyaris melompat. Tapi jujur ia merasa sangat lega karena Kao tidak benar-benar meninggalkannya.

“Kau suka tempat ini?” Kao berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia lantas menyilangkan kakinya dan terduduk santai di samping Sheena. Sheena masih memanyunkan bibirnya. Sejenak keheningan menghinggapi mereka.

“Aku suka tempat ini, sangat indah. Tapi Hantu Kao telah merusaknya.” Sheena bersungut kembali. Kao hanya terkikik sambil kembali menakut-nakuti Sheena dengan topeng kayunya, Sheena mendorong kepalanya.

“Dasar penakut! Kau kan sudah tujuh belas tahun!” ledek Kao, Sheena memelototinya.

“Maaf aku tidak sempat menyiapkan surprise-surprise yang kau inginkan. Aku bingung harus bagaimana bahkan ini terkesan dadakan. Aku berusaha untuk membatalkan janji dengan ibuku. Aku hanya ingin kau tidak melupakan aku setiap tahunnya.” Kao menundukkan wajahnya. Ia merubah posisi duduk dan Sheena menatapnya dalam dari samping.

“Aku tidak akan pernah melupakanmu, terutama hari ini.” Sheena segera memeluk Kao gemas. Ia sangat menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang sahabat. Sebuah senyuman indah menghiasi bibir Kao saat Sheena mencium pipinya.

“Thanks, Kao.”

Keduanya tersipu. Diliputi rasa haru karena persahabatan mereka benar-benar tiada akhir. Penuh cinta dan bahagia. Dan Kao benar-benar mengerti bagaimana caranya untuk bisa membuat Sheena tersenyum saat berduka.

“Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada apa?”

Sheena terpejam, perutnya menegang. Ia bingung kata apa yang pertama kali harus meluncur dari mulutnya setelah ini. Meski ia tahu sangat wajib baginya untuk segera bercerita kepada Kao.

“Tadi siang Kwan datang dan memberiku sebuah kejutan. Tapi kemudian darinya aku tahu bahwa Mario sudah bersama perempuan lain.” Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Lampu-lampu di taman ini cukup menerangi taman dengan jelas, sehingga Kao dapat menangkap tangisannya yang tersembunyi.

“Kwan? Kau akur dengannya? Bukannya ia tidak menyukaimu? Kupikir begitu.” Gumam Kao. Matanya lalu menerawang ke hamparan rumput yang warnanya menghitam tak tersentuh cahaya.

“Ternyata dia baik, Kao. Aku yang banyak bersalah padanya. Aku tidak tahu kalau sakit rasanya menjadi Kwan saat Mario memilih untuk bersamaku.” Lanjutnya kembali. Kao terdiam dan memberi isyarat pada Sheena untuk melanjutkan pembicaraannya kembali.

“Aku mulai membencinya, Kao. Aku ingin melupakannya. Aku harap kau bisa membantuku. Mario membuatku tersiksa, belum tentu di sana ia memikirkanku.” Sheena tidak tahu Kao geram dan sedang mengepalkan tangannya saat mendengar nama Mario.

“Aku harus move on.”

“Move on?” Tanya Kao memastikan. “Ya, move on.” Sheena mengangguk mantap. Kao kembali memicingkan matanya dan menerawang jauh. Ia lalu melempar topeng kayu yang dipegangnya tanpa alasan.

“Kau tahu bagaimana caranya?” desah Kao. Sheena tertohok. Ia berusaha untuk berpikir namun buntu. “Entahlah, belum terpikirkan. Tapi aku yakin bisa, mungkin bila ada seseorang yang mencintaiku dengan tulus. Dan mungkin lama-lama ia akan membuatku jauh melupakan Mario. Semoga saja orangnya sepertimu, Kao. Bisa membuat aku bahagia.”

Kao menelan ludahnya.

“Sepertiku? Haha.. Bagaimana bila memang aku yang bisa membuatmu move on? Bagaimana kalau aku, mmm… suatu saat nanti mencintaimu?” Ada yang meletup-letup dalam batin Kao. Sheena tidak menyadari itu, ia hanya mencerna pertanyaan dan berusaha untuk tidak menanggapinya serius. Ia hanya tertawa kecil sambil menatap mata Kao.

“Kau selalu meledekku, kau tahu banyak kekuranganku. Tidak mungkin kau bisa mencintaiku nanti kalau tidak dimulai sejak saat ini. Ups, aku hanya bercanda. Kau tak mungkin mencintaiku, Kao. Kalau seandainya memang benar, aku adalah orang paling bodoh sedunia karena mengabaikan perasaanmu.”

Kalau begitu kenyataannya kau memang benar-benar bodoh, batin Kao. Tersenyum pada dirinya sendiri.

Sheena menyenderkan kepalanya ke bahu Kao. “Dan kalau misalnya suatu saat kau mencintaiku, itu mungkin tidak?”

Sheena terlihat berpikir keras. Sejenak ia terdiam dan meneruskan obrolan kembali. “Aku tidak tahu. Geli memikirkannya.” Ujarnya sambil terkekeh. Kao hanya tersenyum kecil, dipaksakan.

“Kalau seandainya nanti kau mencintaiku, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Kao kembali. Berusaha menutup lubang penasarannya. Mungkin saja ia bisa memperoleh sesuatu dari sini. Sesuatu mengenai isi hati Sheena padanya. Mungkin ada perasaan lain selain hanya menganggapnya sahabat.

“Kenapa kau bertanya seperti itu terus, sih?” komplain Sheena.

“Aku hanya bertanya, iseng saja. Ingin tahu jawabanmu. Kalau kau mencintaiku nanti, apa yang akan kau lakukan?”

Sheena menegakkan tubuhnya kembali. Ia berdehem dan merapatkan jaket yang dikenakannya. Angin semakin liar, dinginnya menusuk tulang. Kao mengangkat sebelah alisnya. Memaksanya untuk berbicara. Degup jantungnya tak beraturan.

“Kalau aku mencintaimu? Apa ya yang akan kulakukan? Mmm… Mungkin meminta maaf pada Nattasha.”

Advertisements

One thought on “Move On ~ 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s