The Girl Who Sucks Your Blood Chapter 5

Suara deruman mobil mengikuti setiap langkah Dakotta menuju sekolah, tak seperti biasanya, kali ini ia lebih memilih pergi dengan berjalan kaki. Dakotta merasa ada yang aneh. Ada yang membuntutinya.

“Butuh tumpangan untuk pergi ke sekolah?” Dakotta tidak menoleh. Sepertinya hanya orang iseng yang menganggunya. Ia tak cukup peduli untuk mencari tahu. Kalau orang itu macam-macam, terpaksa Dakotta harus menyantap sesuatu lebih cepat.

“Dakotta, kau tidak takut berjalan sendirian?”

Dakotta segera membalikkan tubuhnya. Orang itu mengenalnya. Astaga, ternyata anak ini! Ia sama sekali tak menduga siapa yang ternyata mengekornya. Sama sekali tak ada dalam bayangannya.

Dakotta mendengus saat melihat Melvert sudah tersenyum penuh maksud kepadanya. Ia melajukan mobilnya dengan sangat pelan di samping Dakotta. Mungkin penawarannya tulus, namun Dakotta merasa sedikit tersinggung. Ia kembali berjalan tak menghiraukannya, Melvert tak henti membunyikan klakson mobil untuk menarik perhatiannya kembali.

“Aku minta kau ikut denganku, aku tidak ingin kau kelelahan.” Seru anak itu kembali. Dakotta terus berjalan dan tidak memedulikannya. Ia hanya semakin membenamkan wajah dan merapatkan tudung jaketnya.

‘Oh, Dakotta! Sepertinya murid laki-laki yang kau sebut itu menyukaimu. Cinta pada pandangan pertama’.

Kalimat yang meluncur dari  mulut Daniella tadi malam terngiang kembali di telinganya. Dakotta merasa mual mendengarnya. Untung saja ia berhasil menyembunyikan sesuatu dari Daniella. Ia tidak menceritakan perihal dirinya tak bisa membaca pikiran Melvert itu. Dakotta tak ingin Daniella berkomentar ‘Nah, mungkin dia adalah belahan jiwamu!’. Kalau apa yang Daniella katakan akan menjadi kenyataan, Dakotta lebih baik memutuskan untuk gantung diri. Toh, vampire tidak akan pernah mati.

Baginya, tingkah Melvert terlalu sembarangan. Ia seharusnya tahu sampai saat ini tidak ada yang berani berteman dengan gadis pendiam seperti Dakotta di sekolah. Dan jika Melvert benar-benar berniat untuk mendekatinya, Dakotta benar-benar merasa terganggu.

Dakotta tidak ingin itu terjadi, ia ingin menutup diri dari siapa pun. Tak ingin seseorang berhasil melacak identitas aslinya, sebelum nyawanya dan sepupu-sepupu kesayangannya terancam. Dakotta lebih baik mengasingkan diri dari pergaulan di sekolah, meski sebenarnya ia berpotensi melakukan apa yang diinginkannya. Ia kan supernatural.

“Hai, Dakotta Wren. Cowok keren sepertiku tidak pernah ditolak mentah-mentah oleh gadis mana pun.” Ia kembali berteriak. Dakotta menghentikan langkahnya dan mendaratkan sebuah tatapan tajam ke arahnya. Sumpah aku tidak mengerti betapa percaya dirinya orang tolol ini. Batinnya.

Dakotta benar-benar tidak menyukainya, tidak peduli seberapa besar ketampanan Melvert yang memikat gadis-gadis.

“Dan apa maumu, Hah?” Dakotta benar-benar geram. Hal ini justru membuat Melvert semakin penasaran untuk dapat mendekati gadis galak sepertinya. Melvert tersenyum bangga dan segera keluar dari Porsche berwarna merahnya.

“Aku menawarkanmu jasa baik, ikutlah denganku.” Melvert segera menarik tangan Dakotta. Laganya seperti seorang kriminal yang akan menculik gadis di hadapannya. Refleks Dakotta melawan dan segera memelintirkan tangan kanan Melvert, dalam hitungan detik Melvert terpelanting dan tubuhnya terbanting ke aspal.

“Astaga, tenagamu super. Kau berhasil mematahkan tanganku.” Ujar Melvert masih dengan ekspresi tidak enak, hanya saja nada bicaranya malah terdengar seperti pujian. Sungguh gila. Melvert kini  meratapi tangannya yang bermasalah. Dakotta hanya melongo dan memandanginya dingin, ia tidak merasa menyakitinya, hanya sedikit menyentuh dan menekan pergelangan tangannya.

“Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan?” Tanya Dakotta memastikan bahwa dirinya merasa bersalah. Ia tidak ingin menambah musuh di sekolahnya. Cukup kawanan gadis-gadis menyebalkan yang mencemoohkannya. Meski Dakotta suka kesendirian, ia sadar mungkin buruk untuk meninggalkan Melvert sendirian.

“Aku tidak mungkin bisa menyetir sendirian. Kau bisa mengendarai mobilku, kan?” sahut Melvert dengan nada seperti mengejek. Sesungguhnya, ia hanya berusaha untuk membujuk agar Dakotta mau pergi ke sekolah bersamanya. Tapi aksi yang dilakukannya gagal, reaksi yang ditimbulkan Dakotta nyaris tidak seperti yang ia harapkan.

Dakotta membuang napas pasrah. Kalau ia tak punya otak, ia pasti akan langsung melesat ke angkasa dan segera duduk di bangku kelas. Meninggalkan temannya yang menyebalkan ini.

“Jangan salahkan aku jika kita tidak sampai di sekolah.” Dakotta segera bergegas memasuki Porsche di hadapannya dan bersiap dengan kemudi. Melvert segera bangkit dan duduk di samping Dakotta, ada raut wajah kekaguman bercampur tegang. Ia lantas berusaha memakai kan seat belt dengan sebelah tangannya. “Kau tidak akan mengirimku ke upacara pemakaman, kan?” Melvert panik. Tidak menyangka Dakotta akan merespon tantangannya.

“Tidak, karena kita harus segera menuju kelas. Bel baru saja berbunyi.” Ujar Dakotta sambil menekan pedal gas. Ia melajukan mobil dengan kecepatan yang semakin meninggi.

Melvert terlihat sangat menikmati perjalanan itu. Sama seperti Dakotta yang teringat masa lalunya. Puluhan bahkan ratusan tahun silam, saat hidupnya aman untuk terang-terangan menunjukkan bahwa ia seorang vampire. Ia bebas melakukan apapun yang diinginkannya, sebelum tragedi yang merubah hidupnya habis-habisan terjadi.

“Aku tidak percaya gadis cantik sepertimu berjiwa seorang pembalap.”

Dakotta tidak memedulikannya. Ia terus saja melajukan mobil dengan stabil. Saking cepatnya, ban mobil seperti melayang dan sama sekali tak menyentuh jalanan. Pengalaman mengesankan bagi Melvert yang masih sibuk berkutat dengan tangannya.

Dakotta memakirkan mobil Melvert dengan sangat keren. Semua orang yang ada di sana langsung menyorotinya. Ia menekan rem hingga ban berdecit menggesek parkiran dengan sangat kasar. Ia segera memutar mobil dengan cepat. Sangat mengagumkan.

“Luar biasa! Kita menjadi perhatian orang-orang sekarang.” Melvert berdecak kagum sambil menepuk tangannya. Bola mata birunya menyala-nyala menatap Dakotta. Tersirat rasa gembira yang meluap-luap yang tak dipedulikan Dakotta.

“Hey, kau menipuku ya?!” erang Dakotta sambil memelototinya. Ia sebal melihat Melvert dengan leluasa dapat menggerak-gerakan tangannya kembali. “Ups, aku lupa memberti tahumu, aku terlahir dari keturunan dokter-dokter hebat. Jadi, mudah bagiku untuk menyembuhkan sesuatu dalam hitungan menit.”

Dakotta mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu manusia bisa berlaku seperti itu. Ia segera membanting pintu dan kembali memasukkan kepalanya ke dalam tudung jaket bertuliskan LOVE SUCKS YOU. Melvert turut mengikutinya. Semua orang kini memandang ke arah mereka. Ada yang takjub juga iri melihatnya.

Melvert berjalan di samping Dakotta, dan jelas terlihat rona wajah Dakotta yang menunjukkan bahwa ia sangat risih. “Kau pasti tidak percaya diri dengan kulitmu yang berkilauan ditimpa sinar matahari, kau tak pernah melepas tudung jaketmu.” Bisiknya.

Dakotta terbelalak. Ia menelan ludah dan merasa sesuatu bergolak dalam hatinya. Apa yang dibicarakan orang ini? Jangan-jangan dia—

“Sebaiknya kau jangan menggunakan lotion dengan glitter terlalu banyak.” Lanjutnya kemudian. Dakotta masih berusaha mengatur napasnya, ia melangkah semakin tak karuan. Pandangan dan pikirannya membuncah. Melvert memandangnya lekat lantas tersenyum.

“Terimakasih karena kau berhasil membawaku dengan selamat. Tidak membuatku dimakamkan segera.” Ujarnya sambil tertawa kecil dan melambaikan tangan. Dakotta kini hanya bisa memandangi punggungnya. Entah mengapa ia menjadi benci ditinggal sendirian.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s