The Girl Who Sucks Your Blood Chapter 4

Riley membuka tudung jaketnya, ia rasa saat ini cukup aman untuk berlindung dari terik sinar matahari yang akan membuat kulitnya berkilauan saat orang-orang memandangnya. Sayup-sayup terdengar suara murid-murid lain sedang membicarakan sesuatu di depan jajaran loker masing-masing. Riley tak perlu susah-susah memikirkannya, ia tahu apa yang sedang hot dibicarakan saat ini. Keyness and the gank, seniornya, pasti sedang berurusan dengan kepala sekolah karena mereka ketahuan melepas semua ban mobil Mr. Potrait hanya karena tugas karya tulis yang dikumpulkannya tidak diterima. Terang saja, karena mereka hanya menyalin dari internet. Benar-benar payah.

“Hey, Ms. Jones. Tunggu—Tunggu aku!” Riley menghentikan langkahnya, tanpa menoleh. Ia tahu siapa yang sedang berdiri di belakangnya. Itu pasti Carl, cowok bertubuh ramping yang sangat mengaguminya. Kelemahan yang ia miliki hanyalah satu, dia adalah sepupu Patrica—bahkan mereka tinggal satu rumah, dan kau tahu Patrica adalah musuh besar Riley di sekolah.

“Apa kau sudah mendengar kabar mengenai Keyness, Pitt, dan kawanannya?” Tanya Carl sambil berjalan di sampingnya. Riley hanya memandanginya dingin dan tak tertarik. Ia hanya meneruskan langkahnya menyusuri koridor menuju kelas dengan pandangan lurus ke depan.

“Mereka benar-benar tidak punya otak. Menjahili guru tapi ketahuan. Dungu, benar-benar dungu. Kalau ada orang seperti mereka yang kukenal dekat, maka aku akan menyemprotkan saus ke matanya.” Celotehnya kembali. Sebaiknya ia benar-benar menyemprotkan saus ke mata sepupunya sendiri. Pikir Riley yang hanya bisa menahan geli dalam hatinya.

Riley dan Carl kini berada tepat di depan kelas. Carl membuka resleting jaket jeansnya dan berniat memasuki kelas. Berharap ada tempat duduk kosong di dekat pilihan Riley. Mereka mendongak, tak ada satu pun siswa di sana. “Cepat masuk ke laboratorium biololgi, Mr. Andy sudah menunggu di sana.” Ujar Zeborah sambil menepuk pundak Carl. Carl hanya mengangguk dan tersenyum, ia lantas menunjukkan isyarat pada Riley untuk pergi bersamanya.

Erin dan Christian berlari menuju laboratorium biologi, Carl dan Riley hanya memerhatikan mereka tanpa sedikit pun berniat untuk bergegas menyusul. “Mungkin kursi di laboratorium kurang dari seharusnya dan kita harus berlomba untuk mendapatkan itu?” Carl mencoba menebak-nebak. Riley hanya terkekeh, tentu saja ia tak mungkin melesatkan opininya bahwa Carl sungguh-sungguh idiot dengan pemikirannya. “Kalau aku tidak kebagian kursi, aku akan duduk di bangku kantin.” Ujar Riley sambil segera melangkahkan kakinya menuju lab.

“Carlton!”

Riley mendongak dan menyilangkan kedua tangannya. Carl hanya mendengus sembari mengacak-acak rambutnya sendiri. “Mengapa kau meninggalkan aku sih? Kau kan tahu Paman Flip itu seperti siput dalam mengendarai mobil!” Teriak seseorang memekakan telinga keduanya. Bahkan ia cukup menyedot perhatian murid kelas lain yang mulai memerhatikan mereka. Riley mendengus, ia ingin segera lari dan meninggalkan mereka. Kenapa sih Patrica harus datang?

“Aku harus menunggu sleeping beauty sepertimu? Kapan sih Kau akan bangun pagi?” Carl membangun perdebatan. Patrica memanyunkan bibirnya. “Oke, sorry. Aku menonton talkshow di televisi hingga larut malam, bintang tamunya adalah Matt Prokop, aku tidak tahan melihat body sexynya. Apa Kau tidak bisa menungguku sebentar?” Patrica kembali bersungut. Riley hanya menggeleng-gelengkan kepala.

 “Kalau begitu berangkat sekolah saja dengan Matt Prokop!” Carl memutar kedua bola matanya. Patrica hanya melotot dan bersiap untuk mendorong tubuh Carl. Patrica masih belum menyadari dan tidak cukup peduli dengan keberadaan Riley di dekatnya, dan saat ia sadar, sudah dipastikan Patrica akan segera menggonggong.

“Apa kalian hanya akan bertengkar dengan bicara saja? Aku sudah lama tak menonton ajang smack down.” Sindir Riley dengan tenang. Ia masih setia berjalan bersama mereka, meski seharusnya ia melindungi telinganya dengan sebuah perisai. Tidak penting baginya mendengarkan pembicaraan bodoh Carlton dan Patrica.

“Oh, aku tahu. Mungkin kau lebih senang memilih menjemput singa gunung ini, ya?” Patrica kembali berteriak-teriak. Sungguh, Riley ingin sekali menyumpal mulutnya dengan kaus kaki. Atau paling tidak merekatkannya dengan selotip berukuran besar.

“Tenang saja, dia tidak usah repot-repot menjemputku.” Balas Riley segera, matanya berkilat-kilat. Seharusnya ia tak perlu membalas tingkah Patrica, sebelum pertarungan sengit yang tolol benar-benar terjadi.

“Bagus, kupikir kau tidak sanggup membayar taksi.” Patrica mencemooh. Carl segera menjambak rambutnya. Kini mereka bertiga sudah ada di bibir pintu laboratorium biologi. Mr. Andy sudah bersiap dengan alat-alat peraganya.

“Tugasku sekarang adalah mendamaikan kalian sebelum memasuki ruangan.” Desah Carl mencoba mencairkan suasana. Tentu saja ia ingin menarik perhatian Riley. Ia tahu dan mengerti bagaimana kelakuan Patrica yang selalu saja memancing emosi. Kalau ia memiliki tongkat sihir seperti Harry Potter, tidak muluk-muluk ia akan mengubahnya menjadi seorang putri yang anggun dan santun. Benar-benar harapan yang mulia.

“Aku harus duduk di depan agar bisa melihat jelas wajah tampan Mr. Andy.” Ujar Patrica bersemangat. Ia segera melepas sepatu bertali yang bergambar Tweety dan meletakkannya di rak sepatu, meninggalkan Riley dan Carl yang gemas ingin menendangnya dari belakang.

“Aku harus duduk di tempat yang jauh dari sepupumu yang gila itu.” Desah Riley sambil melepas sepatu ketsnya. Ia segera berjalan masuk mendahului Carl. Carl menggaruk-garuk kepalanya, tapi lantas rona wajahnya kembali cerah. Ia tahu bagaimana caranya membuat mereka berdamai. Meski kemungkinan keberhasilannya hanya nol koma sekian persen.

 ♦

Daniella menyerobot ke dalam kerumunan orang-orang di depan salah satu mall di pusat perbelanjaan Seattle. Ia masih mengenakan sebuah payung berwarna abu-abu, tidak terlalu mencolok untuk menarik perhatian orang.

Daniella menyeringai saat melihat seseorang yang tampan dengan mengenakan seragam police sedang berbincang dengan salah satu warga yang ada di sana. Ditangan pria itu terdapat gulungan police line. Daniella segera memutuskan untuk menghampirinya.

“Excuse me, apa yang terjadi?” ujarnya mencoba memotong obrolan antara si police dengan seorang ibu. Ibu rumah tangga biasa, Jer hanya mencoba untuk mencari informasi, batinnya sambil bernapas lega. Police itu segera memalingkan wajahnya, dan begitu melihat Daniella, senyumannya mengembang.

“Hi, umbrella girl! Rasanya kita pernah bertemu.” Ujarnya kemudian. Daniella hanya tersipu dan mengangguk-angguk. Sebuah senyuman khas yang memabukkan semua laki-laki di dunia ia suguhkan. Jeremy Hugson, police muda itu, kemudian berjalan mendekat.

“Sebuah perampokan terjadi di dalam pada malam tadi, rak makanan hancur berantakan dan semua bendanya berserakan. Anehnya, barang-barang mahal seperti elektronik sama sekali seperti tidak tersentuh, dan seorang security ditemukan tak bernyawa dengan gigitan di lehernya. Teman-temanku yang lain sedang berusaha menyelidikinya. Aku berusaha mencari informasi dari warga di sekitar sini. Mungkin kau dapat memberiku suatu informasi?”

Apa mungkin itu yang dilakukan Riley tadi malam? Ia tidak pulang malam tadi sejak melihatku bersama Smith. Tidak mungkin Dakotta yang melakukannya, ia tidak pernah ceroboh seperti ini, lagipula semalam ia berburu denganku. Tidak salah lagi, ini pasti kerjaan Riley.

“Namamu De—Della?” Tanya Jer kembali. “Bukan, Daniella.” Ujar Daniella segera, ia mendesah kecewa karena lelaki yang ditaksirnya itu tak mengingat namanya. Tapi setidaknya ia masih mengingat bahwa mereka pernah bertemu di malam itu.

“Aku tidak mengerti dengan Seattle pekan ini, berbagai hal aneh kerap terjadi. Sesosok mayat di ruang jenazah Seattle City Hospital pun ada yang hilang. Mayat laki-laki, di duga ada yang merampoknya. Kau tahu harga organ tubuh manusia benar-benar fantastis, mungkin dengan itu mereka memanfaatkannya.” Jer kembali bergumam. Daniella tidak terlalu memerhatikan pembicaraannya, ia lebih memfokuskan kepada wajah dan gaya bicaranya yang tegas tapi sensual.

“Kalau kau mendapatkan informasi mengenai perampokan di mall ini, kau bisa datang menghubungiku ke kantor police. Katakan saja pada petugas di sana bahwa kau ingin menemui Jeremy Hugson. Sampai jumpa.”

Daniella hanya mengangguk, ia terlalu terpesona dengan aura yang dipancarkan Jer. Mudah saja baginya untuk menjadi detektif bagi kejadian ini. Hanya saja tidak mungkin untuknya tiba-tiba datang melapor dan berkata ‘Adikku yang melakukannya’ hanya karena ingin bertemu kembali dengan police idamannya itu. Daniella lebih memilih untuk diam. Sampai di rumah, ia akan langsung menyemprot Riley. Perang dunia di rumah akan kembali terjadi, Dakotta harus mengungsi.

“Baik, pertemuan kali ini cukup. Lain kali jangan terlambat masuk ke ruangan.” Ujar Mr. Andy sambil menatap tajam ke arah Riley. Riley hanya membenamkan wajahnya dengan cara menunduk, ia ingin sekali melempar guru itu dengan kursi atau apapun. Berlawanan dengan siswa yang lain, entah mengapa ia sangat tidak menyukainya.

Murid-murid berlarian untuk keluar dari lab lebih dulu, Patrica dan Riley masih saling memandang sengit dan mereka keluar paling akhir. Carl tersenyum penuh maksud, ia sudah menunggu di luar pintu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tontonan menarik baginya, berharap siasatnya mendamaikan Patrica dan Riley akan sukses.

Kedua pasang sepatu milik Patrica dan Riley sudah terpajang rapi di depan pintu, tidak lagi berada di rak sepatu. Mereka segera memakainya sambil saling mendelik, namun begitu mereka akan melangkah, keduanya tersungkur.

Carl telah mengikat tali-tali sepatu mereka satu sama lain, dengan sangat rumit. Berharap dengan begitu mereka akan akur dan bekerjasama untuk melepaskan ikatan tali sepatunya.

“Kau turun dan berjongkok, lepaskan tali sepatunya!” perintah Patrica sambil kembali berdiri. Riley menginjak kakinya dengan sangat keras dan Patrica meringis. Ia segera mendorong tubuh Riley. Carl panik.

Riley bangkit keembali, posisi mereka masing berdekatan, hanya saja tidak ada salah satu di antara mereka yang mengalah untuk membuka sepatu dan melepaskan talinya. Keduanya tetap pada posisi masing-masing. Jadi siapa yang bodoh? Keduanya, Carl apalagi. Ide anehnya berjalan dengan sangat aneh.

Patrica menarik sepatunya namun ia malah hampir jatuh, Riley terlalu kokoh untuk berdiri. “Lepaskan ikatannya, Bodoh!” erang Patrica kembali. Murid-murid yang lain hanya acuh tak acuh karena biasa melihat pertengkaran mereka.

Riley menarik napas dan bersungut. Ia menggerak-gerakkan bibirnya. Mengumpat. Dengan tidak terlalu mengumbar tenaga ia menarik sepatu dengan kakinya. Patrica segera terpelanting dan bersalto di udara. Bruk! Ia mendarat dengan dentuman yang mengerikan. Ia merengek, tulang-tulangnya terasa akan patah.

Benar saja, Riley berhasil melepaskan ikatan tali-tali sepatu mereka. Ia lantas bersiap untuk pergi. “Kau menyuruh aku melepaskannya, kan? Aku sudah melakukannya, ucapkan terimakasih!” ujarnya sambil berlalu.

Carl memandanginya dengan terpana. Sayangnya tak ada yang mengabadikan kejadian seperti itu, saat Riley mengangkat kakinya dan membuat Patrica melayang. Kemudian membantingkannya ke lantai.

Patrica masih memandangi Riley bengis, Ia tak henti memegangi pinggang dan tulang-tulangnya yang seperti kendor. Ia meringis dan bersungut, berteriak-teriak tidak jelas. Riley cuek saja meninggalkannya. Walau lemas, Patrica masih berusaha untuk melempari Riley dengan sepasang sepatu sialannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s