Move On ~ 6

Sheena kembali memasukkan alamat e-mail dan mengetikkan passwordnya. Ia mengendus kecewa saat di layar tak juga muncul pesan dari Mario. Sudah hampir dua minggu Mario tak kunjung membalas pesannya. Mungkin ia terlalu sibuk dengan urusan perkuliahannya, berbeda dengan waktu pembelajaran di Thailand yang masih dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

Sheena memandangi sebuah benda yang terpajang rapi di atas meja. Fotonya bersama Mario dibingkai oleh figura berwarna cappucino. Sangat lucu. Ia sangat menyukai foto itu, Kao yang memotretnya. Sheena sungguh benar-benar banyak berhutang budi pada Kao.

Ponselnya berdering. Sheena segera mengalihkan pandangan dan bergerak mengambilnya. Jari-jarinya mengetikkan sesuatu di tombol dan layar ponsel menunjukkan ada sebuah pesan masuk. Pesan dari Nattasha.

Happy Birthday, Sheena. Hadiah menyusul, aku sedang ada di Pattaya.

 Sheena tersenyum, ia hampir tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hampir tidak menyadarinya karena ucapan pertama yang ditunggunya dari Mario tak kunjung datang. Padahal Sheena sangat mengharapkannya. Dan sebagai sahabat terbaik, Natt berhasil mengingatkannya.

Sheena kembali memandangi layar monitornya. Tidak berubah. Tidak ada e-mail yang masuk dari siapa pun, termasuk Mario. Ia hanya bisa menggigiti bibir dan memandang pasrah ke langit. Sudah sebaiknya ia pergi melangkah dan melupakan Mario. Siapa tahu Mario telah lebih dulu melupakannya. Meski Sheena tidak pernah yakin untuk bisa melakukannya.

“Sheena, ada yang menunggumu di luar.” Ujar Ibu masih dengan celemek membalut bagian depan tubuhnya. Sheena segera beranjak dan menemui tamunya. Itu pasti Kao, pikirnya. Sheena menekan tombol minimize yang tertera di layar monitor. Berharap Mario akan menyambutnya dengan sebuah pesan saat Sheena datang untuk mengecek kembali.

Sheena berjalan dengan langkah perlahan. Wajah cantiknya menunduk. Ia terlalu lesu untuk terlihat ceria di hari ulangtahunnya. Semoga saja Kao bisa membantuku menaikkan mood. Ia selalu saja bisa, batinnya.

Seseorang dengan sweater rajutan berwarna pink dan rok berbahan ballet tutu berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah kue tart mungil. Sheena terbelalak, dugaannya salah. Bukan Kao yang datang.  Bukan hanya itu, pemandangan seperti ini sangat jarang sekali terjadi. Sheena tidak bisa mempercayai siapa yang datang. Itu Kwan.

Kwan menyunggingkan sebuah senyuman manis. Sheena membalasnya dengan sinar mata keraguan. Sudah lama ia tidak menyaksikan tatapan teduh Kwan, persisnya sejak Mario menembaknya dua tahun lalu. Dan yang ia tahu setelah itu, Kwan membenci dirinya setengah mati.

“Selamat ulang tahun, Sheena.” Ujarnya canggung. Sheena tersenyum dan merasa lega. Apa yang ada di pikirannya mengenai Kwan yang tak menyukainya sepertinya harus dibuang jauh-jauh. Sudah sepantasnya mereka akrab kembali. Ya, karena mereka sama-sama mantan kekasih Mario.

“Kwan, aku tak menyangka kau akan datang ke mari.” Sheena mencoba polos sambil membawanya masuk ke ruang tamu. Kwan hanya terkekeh sambil mengekornya. Matanya tak henti menatap satu per satu foto Sheena yang terpajang di dinding. Dan salah satu foto yang membuatnya geli adalah pose Sheena yang sedang manyun dan Kao junior melilitkan tangan ke pundaknya. Pasti foto itu diambil pada saat mereka duduk di sekolah dasar.

“Kau sudah bersama Kao sejak kecil ya?” Kwan mencoba membuka pembicaraan, berpura-pura tidak tahu dan mencoba berbasa-basi. Sheena hanya tersenyum dan memandangi fotonya semasa kecil itu. Selintas bayangan saat mereka masih kanak-kanak berkelebat. Nostalgia.

“Dia sudah seperti keluarga.” Ujarnya dan Kwan hanya mengangguk-angguk. “Kedekatan kalian membuat banyak perempuan iri. Banyak yang menyangka kalian berpacaran bila tak tahu kalian berteman sejak kecil.” Lanjut Kwan. Sheena hanya melongo dan tertawa. “Ya, tidak hanya kau saja yang bilang begitu.”

“Tidak pernahkah terlintas ide untuk berpacaran dengannya?” goda Kwan. Sheena hanya terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pertanyaan ini sangat mudah untuk ditentang, namun Sheena juga tidak mudah untuk mengelak. Berpacaran dengan Kao? Tidak mungkin. Lirik lagu Purn Sa Nit yang berisi tentang cinta di dalam persahabatan langsung memenuhi kepalanya.

“Kao menyukai Natt, dan aku—“

“Kau masih dengan Mario?” Tanya Kwan memotong. Obrolan mereka yang sebelumnya hangat membeku kembali. Sudah lama mereka tidak berdekatan seperti ini karena keberadaan Mario. Dan kali ini satu nama yaitu Mario kembali mengganjal pembicaraan mereka.

“Tidak, kami sudah putus. Hanya saja masih sering berkomunikasi.” Ujar Sheena segera. Kwan menelan ludahnya. Hatinya seperti tertohok namun ia mencoba untuk terlihat biasa saja. “Mengapa kau bertanya begitu?” Sheena meyakinkan karena Kwan seperti melamun. Ia langsung terperangah dan sadar bahwa tidak baik membicarakan Mario dalam situasi seperti ini.

“Tidak. Tidak apa-apa. Terakhir Kyuuri mengirim pesan padaku untuk tidak lagi menghubunginya.” Ujar Kwan dengan nada yang lebih berat. Sheena mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kwan.

“Kyuuri? Siapa dia?”

Kini giliran Kwan yang memandanginya heran. “Kyuuri Tatsumi. Orang yang sedang dekat dengan Mario saat ini. Aku tidak tahu apakah mereka sudah berpacaran atau belum, dan terakhir Kyuuri mengirim sebuah pesan agar aku tidak lagi menghubungi Mario. Apa kau tidak lagi membuka profil Mario di facebook?”

Sheena masih terlihat berpikir dan menggeleng. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Tenggorokannya terbakar. “Aku sudah menon-aktifkan akun facebook-ku. Mungkin nanti aku akan membukanya melalui akun Kao.” Ujar Sheena parau dengan kesedihan yang tertahan. Ia tidak ingin menumpahkannya pada saat ini. Kwan hanya memandanginya. Ia tahu persis bagaimana rasanya menjadi Sheena. Kwan pernah berada di posisinya.

“Apa Mario sudah memberitahumu mengenai Kyuuri Tatsumi?” Tanya Kwan sambil memainkan kuku-kukunya. Sheena hanya menggeleng dan mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja. “Aku baru mendengar perihal Kyuuri, mungkin Mario belum sempat memberitahuku.” Sahutnya kemudian. Kwan lantas tersenyum, ia tahu apa yang ada di pikiran Sheena. Arah pembicaraan mereka semakin tak menentu.

“Kalau hubunganmu dengan Mario sudah berakhir, aku bisa menerima adanya Kyuuri. Oleh karena itu aku bertanya, jangan tersinggung ya.” Kwan mencoba mencairkan suasana. Namun terlambat, Sheena gagal menyembunyikan air mata yang meulai memenuhi pelupuk matanya.

“Sheena, aku minta maaf. Tidak bermaksud membuatmu—“

“Tidak apa-apa, aku hanya, syok.” Ujarnya sambil mencoba tertawa. Terdengar dipaksakan. Jelas sekali Kwan menunjukkan raut wajah bersalah. Ia telah menorehkan luka di hati Sheena, tepat di hari ulang tahunnya. Kwan sungguh tidak berniat membuatnya seperti itu. Apalagi perasaan untuk membalas dendam, Kwan tidak pernah terpikirkan untuk melakukan itu.

“Sebaiknya aku pergi, Sheena.”

Sheena segera mengambil tangan Kwan dan memohonnya untuk duduk kembali. Ibu datang dan menyuguhi Kwan dengan jus perasan lemon. Ia nampak keheranan saat melihat Sheena menangis. “Aku terharu, Bu. Dia ingat baik hari ulangtahunku.” Sheena membuat alibi, Ibu tersenyum dan pergi meninggalkan mereka untuk kembali berkutat dengan dapurnya.

“Sudah sebaiknya kita saling curhat. Kita sama-sama pernah kehilangan Mario.” Sheena mencoba untuk bercanda, tapi Kwan menanggapinya serius.

“Apa kau membenciku saat aku bersamanya, Kwan?” tanyanya kemudian. Kwan hanya terdiam. “Jawab jujur saja, aku tidak akan marah.”

“Aku tidak membencimu, Sheena. Aku hanya tidak siap saat bertemu atau melihat kalian. Rasanya sakit sekali.” Ujar Kwan mencoba jujur, namun ia tetap dapat mengontrol ucapannya. Tentu semakin berkelit ia bicara, semakin ia akan menyakiti Sheena di hari spesialnya ini.

“Aku minta maaf untuk itu. Aku tidak tahu kau masih mengharapkannya saat ia sudah berpacaran denganku.” Sheena kembali berujar dengan derai air mata mengalir deras di pipinya. Kwan lagi-lagi merasa bersalah. “Sudahlah Sheena, lupakan.”

“Sekarang aku merasakannya, Kwan. Dengan keberadaan Kyuuri Tatsumi.” Perut Kwan terasa menegang. Lambungnya terasa berguncang dan ia akan muntah. Salah besar karena Kwan memberitahunya pada momen seperti ini. Wanita mana yang akan otomatis menerima dengan ikhlas saat orang yang dicintainya berpacaran dengan orang lain?

Kwan ingat betul, sejak kecil ia mengenal Mario. Dan Kwan sangat mengaguminya. Cinta monyet dikenal mereka sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dan semuanya berakhir pada awal SMA. Hubungan panjang mereka patah saat memasuki Amatyakul School. Dan tidak lama setelah itu Mario memutuskan untuk berpacaran dengan Sheena Youngtacham.

Jatuh berkeping-keping perasaan Kwan saat mengetahuinya. Sheena adalah gadis baik hati dan periang yang pertama dikenalnya di Amatyakul, dan ia harus bisa melepaskan Mario untuknya. Tidak mudah memang, sehingga ia harus menjaga jarak setiap kehadiran mereka. Tidak salah bila Sheena menduga kalau Kwan membencinya. Terlihat jelas Kwan masih sangat berharap Mario dapat kembali padanya.

Bahkan hingga saat ini.

“Kwan, tolong ajarkan aku move on darinya.” Gumam Sheena. Kwan terperangah dan mencoba untuk tenang. “Yang kau lakukan hanyalah harus mencari kesibukan lain, kalau perlu temukan cinta yang lain. Banyak yang mencintaimu, Sheena.” Jawabnya asal. Ia tidak bisa mengatur kata apa yang meluncur dari mulutnya.

Entah mengapa yang muncul di otak Sheena adalah sekelebat wajah Kao. Mungkin Kao dapat membantunya untuk melupakan Mario.

“Aku harus dapat melupakan Mario. Aku harus banyak belajar darimu.” Gumam Sheena lagi-lagi. Kwan hanya mencoba untuk terkekeh. Bibirnya menyimpan sesuatu. Hatinya mengunci rapat-rapat apa yang sebenarnya ingin ia utarakan. Kwan sadar ia masih harus menyembunyikan sesuatu dari Sheena.

Jangan belajar padaku, Sheena. Aku pun masih belum dapat melupakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s