Jika Aku Memang yang Terakhir

 

Aku tahu kamu nggak akan dengan mudah ninggalin Bayu buat aku, Put. Tapi kapanpun kamu ngerasa butuh aku, aku bakalan selalu ada. Aku akan terus nungguin kamu, Put. Nggak peduli kamu milik Bayu ataupun oranglain sekalipun. Aku sayang kamu, Jangan raguin itu semua, Put. Aku sungguh-sungguh.

Dika

 

            Dika.

            Surat kecil ini kuremas-remas hingga hancur seketika dalam genggaman, seketika melayang dan membentur bibir tempat sampah. Bukannya aku tak menghargai apa yang ia berikan, tapi jelas aku tak mampu dan tak pantas untuk mendapatkan ini semua. Namun walau bagaimanapun aku tak bisa berdusta, Dika juga sama-sama ada di hatiku. Kubawa masuk bunga mawar yang ia taruh di depan pintu. Tentu takkan ku bawa secarik kertas yang ia selipkan dan telah kuhancurkan itu. Aku tak kuat membacanya walau hanya untuk sekali lagi.

           

            Bayu menatapku lekat-lekat namun aku tak jua membalas tatapannya. Matanya terus menerawang mencari-cari liar tatapanku yang seharusnya tertuju padanya. Kini ia tampak keheranan memperhatikan aku yang sedari tadi hanya diam membisu. “Kamu sakit?” tanyanya cemas, aku bisa merasakan kekhawatiran dari nada bicaranya. Sejenak hanya ada keheningan lalu aku lekas  menggeleng, karena memang bukan itu.

            Ingin aku menatapnya, sungguh. Namun aku tak tahu mengapa berat rasanya mata ini untuk kuarahkan ke hadapan wajahnya, wajah orang yang selama ini tak pernah absen membayang-bayangi otakku. Selain Dika.

Ada beban yang tak ia tahu. Ya, mana ia tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, dan karena memang seharusnya ia tak perlu tahu. Ini hanya akan membuatnya merasa tersakiti, walau pada kenyataannya ia memang benar-benar sedang dan selalu aku sakiti.

            Aku tak pernah mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Aku hanyalah seorang Putri Kharisma, seorang manusia yang hidup sederhana namun Tuhan sungguh terlalu baik dengan memberikan semua yang aku inginkan. Namun tidak untuk dua pilihan yang membawaku pada jurang kebingungan ini.

            “Kamu bilang sama aku kalau kamu sakit,Put. Aku khawatir.”

            Aku tetap membungkam, diam seribu bahasa namun yang terasa bendungan di mataku akan jebol. Perlahan tetesan air mata mengalir di pipiku. “Put? Kok nangis? Kamu baik-baik aja kan?”

 Entahlah. Aku tak tahu harus berkata apa. Bayu, andai saja aku bisa membalas apa yang terbaik yang selalu kau berikan padaku. Aku  memang menyayanginya namun tak sebesar bagaimana ia menyayangiku. Bisa kurasakan itu. Karena walau bagaimanapun bukan hanya dia yang ada dalam benakku, bukan hanya dia yang merajai pikiranku. Bukan hanya dia orang yang kusayangi, kucintai. Tapi ada orang lain. Dan aku tak ingin selalu menyembunyikan semuanya di belakang Bayu. Aku ingin menghentikan semua kebohongan ini, aku ingin melepaskan topeng tebal dari wajahku.

            Sungguh aku tak ingin mementingkan egoku sendiri. Tak mungkin aku membiarkan diri kusendiri berakting ria mempertunjukkan di hadapan Bayu bahwa ia lah orang satu-satunya di hatiku. Dan aku tak mungkin menggantungkan semua harapan yang Dika miliki terhadapku. Aku mencintai mereka semua sama besarnya. Bagiku mereka adalah istimewa. Tak ada kata paling untuk salah satunya.

            “Bayu…Umm…..” gumamku.

            “Ya?” ucapnya dan menatapku lembut. Lagi-lagi ia membuatku tak kuasa memandangnya. “Ada yang harus aku bicarakan saat ini. Aku…….lelah!” Akhirnya ku paksakan kata-kata ini meluncur dari tenggorokanku. Namun tenggorokan ini masih harus menyuarakan beban lain yang harus kubicarakan. Saat ini juga.

            “Apa?” tanyanya pelan. Raut mukanya kini berubah menjadi lebih serius. Aku tak yakin lidahku akan bisa tajam nantinya. Cukup tajam untuk bisa menyayat hatinya dengan seketika. “Apa kamu sayang sama aku?” ucapku mengawali semua skenario yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

            “Aku tak perlu bilang. Kamu tahu jawabannya. Ya kan? Kalau tidak, berarti selama ini aku tidak sukses.” Senyumannya mengembang. Manis sekali. Ini yang membuatku semakin berat. Tapi beban berat ini harus ku lempar sesegera mungkin. Aku tak kuat menahannya lebih lama lagi. “Aku hanya ingin memastikan. Apa kamu juga sayang sama aku?” tanyanya sambil menekankan. Aku sempat tersentak mendengarnya. Namun aku jauh lebih bingung untuk memikirkan jawabannya.

            “Ya.”

            Jawabku sambil terus memikirkan apa yang harus aku katakan lagi. Bayu hanya tertawa renyah. Aku tak mengerti apa maksudnya. “Lalu?” tanyanya lagi. Putri,ayolah! Katakan! Jangan membuang-buang waktu lagi! Desakku dalam hati.

            “Tapi aku ingin semua berakhir. Sampai di sini aja. Aku nggak mau kamu akan sakit nantinya.” Ucapku gemetar. Bayu memandangiku tanpa ekspresi. Aku semakin tegang. Putri! Apa yang telah kamu katakan?! Kamu menyakiti orang lagi! Gumamku memprotes diri sendiri. Lagi-lagi Bayu hanya tersenyum. Aku hanya bisa diam. Kebingungan.

            Bayu terlihat berpikir namun pembawaannya selalu tenang. Malah aku yang melihatnya harap-harap cemas.

            “Apapun. Demi kamu. Aku sayang kamu,Put. Kalau itu maunya kamu, yaudah, tapi di saat kamu pengen balik lagi nanti sama aku. Jangan tanya lagi, aku nggak akan pernah bisa nolak kamu.” Ucapnya pelan. Terdengar lembut di telingaku. Ah,Bayu! Kamu memang selalu begitu. Kamu pandai merayu. Tapi kamu berbeda. Kamu memang pandai menyanjungku. Itu yang membuat aku terkadang takut kehilanganmu. Tapi ada Dika yang selau menunggu jawaban di belakangmu. Ya, Dika.

            “Jadi?” aku mencoba menarik kesimpulan.

            “Kalau itu buat kamu senang. Nggak ada alasan untuk aku nggak setuju.” Bayu lagi-lagi hanya tersenyum. Tampan. Walau semua sudah berakhir, namun aku tak merasa sedikitpun kehilangannya karena ia benar-benar menunjukkan bahwa ia mencintaiku. Meski aku bukan lagi miliknya mulai detik ini.

            “Tapi kenapa kamu bisa putus,Put?” tanya Dika memasang wajah penuh rasa ingin tahu. “Aku takut disangka merebut.” Sambungnya lagi. Dika terlihat resah, matanya tajam menyelidik.  “Udah nggak cocok. Dia yang bilang gitu.”

            Aku terpaksa berbohong.

            “Hah? Sabar Put… aku janji nggak akan seperti Bayu. Aku sayang sama kamu lebih dari apa yang dia bisa.” Dika menggenggam erat tanganku. Aku hanya tersenyum. Meski dalam hati menjerit. Aku ingin berteriak. Tuhan! Pantaskah aku merasakan semua ini? Aku telah menyakiti ciptaanmu tapi kau beri aku kebahagiaan lagi-lagi.

            Waktu berlalu tanpa terasa. Dan kabar bahwa aku tengah menjalin hubungan dengan Dika pun sampai di telinga Bayu. Aku memang tidak tahu dengan siapa kini Bayu menjalin hubungan. Setahuku ia masih tetap melajang. Aku dan Bayu memang sudah lama lost contact. Aku sama sekali tak ingin melupakannya, aku juga telah berkali-kali mencoba menghubunginya. Namun tak pernah ada respon ataupun balasan darinya. Atau mungkin ia sudah bahagia bersama orang lain? Entahlah, semoga saja.

            Hujan turun dengan derasnya. Kilatan petir yang kulihat dari jendela pun cukup membuatku merinding. Sedangkan aku hanya sendiri di rumah. Berkali-kali kutekan tombol remote televisi, namun tak ada satu pun stasiun televise yang menyiarkan acara yang  kusuka.

            Tok…Tok…Tok….

            Kudengar suara orang mengetuk pintu. Mungkin itu Dika. Aku tersenyum lega. Kuhampiri segera dan kubuka pintu.

Aku terdiam sejenak memandanginya. Kusambut kedatangan orang itu dengan mulut yang kubiarkan menganga tak percaya. Bayu. Itu Bayu. Wajah yang kurindukan itu tampak pucat. Namun ia masih sempat menyunggingkan senyumnya yang masih terasa hangat. Tubuh dan seluruh pakaiannya basah kuyup. Sepeda motornya sudah terpakir di halaman rumah. Aku tampak iba melihatnya.

            “Sendirian Put?” tanyanya ketika aku tengah sibuk mencari pakaian ganti untuknya. Aku mencari dan mengobrak-abrik lemari kakak lelakiku, Rano. Kuambil segera pakaian yang cocok untuknya. Bayu sibuk mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang kuberi. Kini aku tak merasa kesepian lagi. “Put…” ia berdiri dan memanggilku. Aku keluar dari kamar Rano.

            Kini Bayu berada tepat di hadapanku. Entah mengapa perasaan bersalah itu muncul lagi. Dan aku merasakan rasa sayang yang begitu nyata. Aku memang masih memiliki rasa yang tak pernah berubah untuknya. Meski sekarang aku telah bersama Dika.

            “Putri…. Kamu masih tetap seperti Putri yang aku sayang dulu.” Aku menengadahkan wajahku ke arahnya. “Umm… maksudku dulu dan hingga sekarang.” Ujarnya cepat-cepat  meralat. Aku menelan ludah. Bayu! Ingin aku cepat-cepat memeluknya. Andai ia tahu. Aku pergi darinya dan meninggalkannya semata-mata hanya untuk menghargai Dika. Namun aku memang sudah benar-benar terperangkap keserakahanku sendiri. Tapi sudahlah, aku sudah bahagia bersama Dika. Kamu sudah punya Dika,Put!

            Aku merasa wajah Bayu semakin mendekat dan bisa kurasakan hembusan napasnya. Terasa hangat di wajahku. Aku memejamkan mata. Maafkan aku Dika…. Desahku dalam hati. Namun tiba-tiba di otakku terlintas bayangan Dika dan cepat-cepat aku menjauhi Bayu. Setidaknya mundur untuk beberapa langkah. “Maaf.” Ujarku. “Tak apa. Put, kamu jangan pernah berubah.  Aku cinta kamu. Kamu yang terakhir.” Ujarnya dan langsung memasuki kamar Rano.

            Aku mendengar suara orang menggedor pintu. Aku langsung berlari dan segera membukanya. Ah, ternyata Dika! Tapi bagaimana ini, bagaimana kalau ia sampai tahu Bayu ada di sini?  “Kamu nggak kenapa-kenapa kan, Put?” tanyanya penuh ekspresi cemas. Mungkin ia melihat aku memasang ekspresi tegang. “Put… Ayo cepat kita ke rumah sakit!” Dika tiba-tiba menarik tanganku. Ke rumah sakit? Untuk apa? Siapa yang sakit? Dan kenapa Dika sama sekali tak curiga? Apa ia tak melihat adanya motor Bayu di depan sana?

            “Ada apa?” tanyaku sambil mencoba menenangkannya. Dika menatapku heran. “Bayu kecelakaan tragis. Ia meninggal di perjalanan ke rumah sakit. Irene tadi nelpon. Dia nggak ngasih tau kamu?” tanyanya lagi. Seluruh tubuhku terasaseperti kehilangan nyawa., mematung. Dunia terasa berhenti berputar dan aku tak tahu apa yang baru saja ku dengar. Bayu?

            “Bayu?” Aku mengernyitkan sebelah alisku. “Aku tahu dia udah  nyakitin kamu, Put. Tapi ini bukan saatnya untuk membahas soal hubungan kalian dulu. Aku tahu dia cuma seorang mantan tapi harusnya kamu ikut sedih. Ayo kita ke rumah sakit!” Dika segera menarik tanganku tapi aku cepat-cepat melepaskannya. Tak mungkin! Bayu ada di sini! Tapi aku tak mungkin mengatakan itu semua dengan dinginnya.

            Aku berlari memasuki kamar Rano. Langkahku terhenti dan aku tercekat memandangi kamar Rano. Kosong. Tak ada apapun di dalamnya. Bahkan tak ada Bayu di sana. Tuhan! Ada apa ini? Apa kedatangan Bayu tadi hanya lamunanku saja karena aku rindu padanya? Tapi aku merasakan itu semua benar-benar nyata! Bayu yang datang dan berkata ia sayang padaku, dan Bayu yang nyaris saja menciumku. Namun aku cepat sadar karena sekarang aku bukan lagi miliknya. Aku telah bersama Dika.

            Mataku sembab. Basah. Aku tak kuasa menahan tangis. Apakah ini benar? Apakah ini sungguh terjadi? Bayu…. Tak mungkin! Dika memeluk tubuhku dan aku menangis tersedu di pelukannya. Aku tak pernah merasa kehilangan seperti ini. Bahkan ketika semua hubunganku dengan Bayu berakhir. Aku tak pernah merasa kehilangan sejauh ini.

            Bayu…

            Kalau memang ini waktumu untuk pergi. Terimakasih untuk semua yang telah kau beri untukku. Walaupun rasa sayang yang ingin ku ucapkan untukmu tak sempat tersampaikan oleh angin dan bahkan terhapus hujan. 

            Kalau memang benar apa yang kau ucapkan bahwa aku adalah cinta terakhirmu, terimakasih. Tapi mungkin masih ada Dika, atau mungkin yang lain yang akan menjadi jodohku di akhir nanti. Hanya saja memang bukan kamu!

            Bayu…

            Rasa ini masih ada dan akan selalu kujaga. Maafkan aku yang hanya bisa menyakiti kamu. Tolong jaga dia, Tuhanku yang terlalu baik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s