I Love You, Kakak!

             Dara meloncat-loncat kegirangan, tak pernah ia sangka sebelumnya, Kevin, pujaannya itu akan mengajaknya jalan malam minggu nanti. Dara memang sudah lama mengidam-idamkan bisa dekat dengan Kevin, murid pindahan dari Jakarta yang jadi idola semua perempuan di sekolah barunya, sekolah yang sama dengan Dara.

            “Congrats ya Ra, Moga sukses deh nge-date nya!” goda Luna memberi semangat. “Haha… Ya ampun….!” Dara masih terlihat kegirangan. Berkali-kali ia mencoba mencubit pipinya dan tak jarang meringis kesakitan. Ya, ia memang tidak sedang bermimpi. Namun tetap saja ia merasa ini sesuatu yang sulit dipercaya. Baginya, Kevin cukuplah menjadi cowok misterius yang membuatnya penasaran, tak lebih seperti ini sampai mengajaknya jalan-jalan.

            “Anter gue ke mall besok ya Say, gue mau hunting baju yang bagus buat malem minggu ntar!” ajak Dara bersemangat. Luna hanya melongo menatapi sahabatnya itu dengan rasa bingung. Namun ia mengangguk-angguk saja karena tak ingin sahabatnya itu merasa kecewa. Sebegitukah orang jatuh cinta?

***

            “Hah? Yang bener?” Marsya melotot tak percaya.

            “Iya, ngapain gue ngada-ngada. Kevin ngajak gue jalan malem minggu ntar.” Pamer Dara dengan penuh rasa bangga. Semua yang mendengar kabar itu pasti tak akan percaya dan malah iri padanya. Oleh karena itu Dara pikir itu sesuatu yang sangat perlu dipublikasikan.

            “Tttta tapi, Kevin tuh….”

            “Ah, udah deh jangan banyak protes. Loe nggak seneng ya gue jalan sama Kevin?” potong Dara sambil menunjukkan muka betenya. Mereka pun terdiam. Luna lalu menginjak kaki Marsya seperti memberi suatu isyarat. “Hhhh… Iya deh… Good Luck aja!” ujar Marsya sambil berlalu.

            “Marsya kenapa sih?” tanya Dara sewot. “Ah? Nggak tau.” Jawab Luna singkat. Mereka sedang menunggu Mang Diman, sopir Dara, menjemput dan mengantar mereka ke mall. Dara sedang ingin menyiapkan segalanya untuk acara hebat malam minggu nanti.

            “Makasih ya Mang!” ucap Dara sambil keluar dari mobil. Luna masih setia menemaninya untuk berburu segala yang ia perlukan untuk malam minggu nanti. Dara menginginkan malam minggu nanti menjadi hari yang sempurna dan awal dari segalanya. Ia berharap setelah itu ia bisa semakin dekat dengan Kevin.

            “Say, gue pantes gak pake ini?”

            “Kevin suka nggak ya liat gue kayak gini?”

            “Bagus nggak sih?”                                                            

            Luna hanya mengangguk dan bicara seperlunya. Baginya, Dara berlebihan. Ia adalah anak yang cantik. Ia tak perlu harus mengenakan apapun yang baru dan bagus. Cantik ya cantik. Mengenakan apapun ia akan tetap terlihat cantik. Dan Kevin pun pasti akan menilainya begitu pula.

            “Dara, malem minggu tinggal beberapa jam lagi. Mending kita pulang dan Loe siap-siap buat nge-date ntar malem. Ya?” bujuk Luna yang mulai tak betah dengan suasana itu. Dara memang sedikit kecewa, namun benar juga apa yang Luna katakan. Saat itu saja sudah Sabtu sore, alangkah lebih baik apabila dia di rumah dan mempersiapkan untuk nanti malam.

***

            Jantung Dara dag dig dug der. Ia harap-harap cemas menunggu Kevin segera menjemputnya. Mama nampak kebingungan melihat tingkah putrinya. Mulut Dara terus berkomat-kamit mencoba menenangkan dirinya agar tak kelihatan gugup di hadapan Kevin nanti. Namun tetap saja, wajah cantiknya pun sedikit terganggu oleh kabut pucatnya. Tegang.

            “Ra, temanmu datang tuh.” Ujar Mama memberitahu. Dara mendadak lemas. Jantungnya serasa mau copot. Kevin yang ia kagumi itu diam di depan rumah Dara, tetap dalam posisi menaiki motornya.

            “Ah, sebentar Ma. Dara kebelet pipis.” Dara masih merasa tegang. Ya bagaimanalah rasanya bila bertemu pujaan hati dan baru pertama kali untuk “sengaja” bertemu. “Ra, kamu nggak mau temanmu pergi lagi kan?” sahut Mama lagi. Dara nampak kebingungan, akhirnya mau tidak mau ini adalah jalan untuk mewujudkan mimpinya bertemu sang pangeran. Dara harus memaksakan. Ia tak boleh merusak hari itu.

            “Kevin, maaf ya nunggu lama.” Ujar Dara membuka pembicaraan malu-malu. Kevin haya mengeluarkan senyuman mautnya yang membuat jantung Dara semakin berdebar. “Ayo naik.” Lanjutnya lalu. Sambil memejamkan matanya Dara mengikuti saran Kevin. Mereka pun melaju meninggalkan rumah Dara.

            “Nggak ada yang marah?” tanya Kevin yang daritadi memerhatikan Dara diam saja. “Ah? Nggak ada.” Jawab Dara sambil mengelus-elus dadanya mencoba menenangkan.  Keviiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin…. Aku tegang tahu………. Batinnya.

            Kevin dan Dara mengelilingi kota dengan bahagianya. Mereka telah lebih akrab karena Kevin memang pandai mencairkan suasana. Dara pun merasa langkahnya sedikit lebih maju. Kevin seperti sangat menerima keberadaannya.

            Ini adalah malam yang sempurna bagi Dara…

            Sempurna bagi Dara…………………….

            Tapi Dara tak tahu apakah ini juga sempurna bagi Kevinnya…

***

            Luna tampak kebingungan. Ia bingung harus berkata apa pada Dara. Ia tidak ingin mematahkan semangat sahabatnya itu untuk mengejar Kevin. Tapi di satu sisi Dara pun harus tahu, Luna tak mungkin terus membiarkan sahabatnya yang lain tersakiti karna ketidaktahuan Dara.

            “Hah?” mata Dara berkaca-kaca. Ia langsung berlari sambil menutupi wajahnya. Luna nampak merasa bersalah, tapi ia pikir apa yang dilakukannya adalah perlu. Ya, perlu. Marsya menghampiri Luna. “Thanks Lun, gue nggak sanggup ngomong sendiri. Gue lebih bisa ngeliat mereka berdua barengan daripada harus ngasih tau dia.” Marsya memeluk erat Luna. Tak lama Luna melepaskannya. “Jadi gue yang repot.” Tangkisnya sambil berlari menyusul Dara.

            Dara menangis tersedu-sedu di tangga menuju kelasnya. Luna Nampak segan untuk mendekatinya. Namun ia juga tidak mau sahabatnya bersedih-sedih sendirian. “Loe kenapa nggak bilang sebelumnya kalo Kevin jadian sama Marsya?” tanyanya sambil terisak. “Gue baru tau waktu malem minggu,Ra. Gue nyari waktu yang pas buat ngasih tau Loe.” Jawabnya gugup.

            Mata basah Dara menatap Luna. “Berarti waktu gue nge-date mereka udah jadian?” tanyanya lagi sambil tersedu-sedu. Semua orang yang lewat memperhatikan mereka berdua. “Trus Kevin nganggep gue apaan?” tangisnya berlanjut lagi. Luna bingung, apa yang harus ia katakan?

            “Kita tanya Marsya!” jawabnya pasrah sambil menarik tangan Dara mencari Marsya. Dara tak dapat menolak, ia masih sibuk dengan rasa sakitnya terhadap Kevin. Dan ia pun merasa bersalah pada Marsya.

            Marsya sedang melahap siomay di kantin. Sendirian. Matanya menatap kosong sendok berisi siomay itu lalu segera memasukkannya ke mulut. Luna tampak lega ketika menemukannya. Ia terus menarik Dara dengan paksa. “Marsya……..” Dara langsung duduk di depan Marsya dan menenggelamkan wajahnya di atas meja. “Loe kenapa nggak bilang kalo Loe jadian sama Kevin?” tanya Dara sewot sambil tetap menangis. “Gue… Gue dulu pernah mau bilang tapi Loe tahan. Dan gue nggak mau ngerusak kebahagiaan Loe.” Jawabnya polos. Luna langsung duduk disampingnya.

            “Terus Kevin ngapain ngajak gue jalan segala? Ngapain kita pake acara deket-deketan segala kalo dia udah punya Loe? Gue dianggep apa?” tangisnya masih belum reda. Dara mengguncang-guncangkan meja saking sebalnya. “Dia juga sayang sama Loe, tapi sebagai adek. Dari awal dia nganggep Loe tuh adek. Gue kira Loe juga tau.” Ujar Marsya segera. Luna dan Dara terpaku.

            “Terus sekarang gimana Sya? Gue terlanjur cinta sama cowok Loe, sama orang yang seharusnya gue anggep kakak kalo emang gitu.” Dara pasrah saja. Gejolak hatinya ia tunjukkan dengan merobek-robek tisu yang ia pakai untuk mengusap air matanya.

            “Dia milik bersama.” Ujar Marsya spontan.

            “Hah?” Dara dan Luna kaget berbarengan.

            “Iya, Gue sayang sama dia. Dan akuin kalo dia pacar gue. tapi Loe juga berhak sayang sama dia Ra, but jangan ngarepin dia lebih dari kakak. Dan Loe juga Lun, terserah Loe mau sayang sama dia sebagai apa. Tapi no way buat jadi selingkuhan.” Marsya mencoba bijaksana.

            Mereka tertawa.

            Dara harus menerima kalau ia harus mencoba tidak mencintai kakaknya itu.

            Yah, walau hati Dara bilang, “I LOVE YOU KAKAK”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s