HOW COULD YOU DO THIS TO ME, BOY?

            “Tau ah! Geje!”

            Laura terus saja berteriak-teriak ketika menjawab pertanyaan Bobby, adiknya itu. Ia  menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan tergesa-gesa. “Ra, Gue cuma mau ngasih tau kalo si Glenn lagi deketin temen gue yang namanya Vanya. Makanya gue nanya Loe masih sama si Glenn?”

            Telinga Laura kali ini panas. Buru-buru ia membalikkan tubuhnya dan berbalik menghampiri adiknya yang nampak masih menanti statement yang akan meluncur dari mulutnya. “Bob, berhenti nyampurin urusan gue. Loe nggak usah tau tentang hubungan gue sama Glenn.” Bentaknya dan kembali berjalan menuju kamarnya. Bobby hanya merasa aneh, ia hanya dapat mengacak-acak rambutnya dan kebingungan. “Siapa tahu si Glenn udah bosen jadi brondong.” Ujarnya mencibir.

            Laura langsung membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menenggelamkan wajah cantiknya di atas bantal. Sesekali terdengar isak tangisnya. Entah sudah berapa orang hari ini yang bertanya tentang hubungannya dengan Glenn. Ya, Glenn adik kelas yang sejak Masa Orientasi Sekolah ia puja-puja, dan sekarang sesungguhnya mereka berpacaran. Mungkin asing memang, karena Glenn yang seusia dengan Bobby lebih pantas dijadikan adiknya dibanding dengan sebutan boyfriend atau pacar.

            Laura dan Glenn memang jarang bertemu apalagi setelah Laura melewati masa-masa Ujian Nasional,  Laura adalah murid kelas XII di SMA Nusa, sedangkan berbeda satu tahun darinya, Glenn berada di bawah angkatannya yang masih kelas XI. Namun siang tadi, Laura merasa seperti ada yang menjatuhkan dirinya dari lantai 20 suatu mall hingga ke lantai dasar, dan mungkin sakitnya lebih dari itu. Ia berpapasan dengan Glenn di mall itu, namun ia tidak sendirian. Glenn bersama Vanya, teman Bobby yang terkenal karena dunia modelingnya.

            Dengan merasa tanpa dosanya, Glenn menghampiri Laura yang tengah terpaku memandangi mereka. “Laura, kenalin ini Vanya., mungkin Loe udah kenal dia karena dia covergirl di majalah sekolah kita.” Vanya masih tetap melingkarkan tangan Glenn ke tubuhnya dengan manja. Dan saat itu juga Laura tak tahu harus berkata apa. Ingin rasanya dia berteriak dan mencakar-cakar mereka berdua yang tengah bermesraan di hadapannya. Bagaimana mungkin Glenn bisa melakukan hal sebodoh itu? Bermesraan dengan orang lain di hadapan pacarnya sendiri dengan penuh percaya dirinya.

            Jelas-jelas Laura sangat merasa bingung. Apakah Glenn menganggap bahwa hubungan dengannya telah berakhir? Tapi semua berjalan tanpa sepengetahuan dan  konfirmasinya terlebih dahulu. Dan untuk kehilangan Glenn, Laura nampaknya belum siap. ‘How could you do this to me,Glenn?’ batinnya.

            Dunia Laura masih penuh dengan tanda tanya. Ia sudah memutuskan untuk pasrah saja, putus, ya mungkin untuk memutuskan hubungannya dengan Glenn walau hati kecilnya merasa tidak mau. Ia masih sangat sayang pada orang yang telah menyakitinya itu. Mungkin bila dilihat secara logika, bodoh sekali apabila Laura masih mau menerima Glenn kembali. Namun bila perasaan yang berbicara, tentu Laura sangat tidak ingin kehilangan Glenn. Itulah mengapa, dalam percintaan semua hal dibenarkan.

            “Laura, gue mau minta maaf sama Loe.”

            Laura tak begitu menghiraukan semua perkataan Glenn. Begitu mudahnya ia datang dan meninggalkannya sesuka hati. Laura tidak ingin semua yang membuatnya sakit hati terulang kembali. Dulu ia meninggalkannya, namun kini memohon-mohon untuk kembali setelah Vanya pergi.

            “Gue mohon. Sekali ini aja Ra. Dulu gue…… ah udah lupain aja!” Glenn yang tak tahu malu itu tetap saja memaksa Laura untuk menerima cintanya kembali. “Enak banget.” Ujar Laura dengan dinginnya. “Ra…….” Glenn menatap kedua mata Laura lekat-lekat dan Laura tak bisa menghindar dari tatapan maut itu.

            Mata itu…..

            Mata ajaib yang bisa memusnahkan segala dendamnya….

            Tatapan itu…..

            Tatapan yang bisa membuatnya lemah seketika…

            “Tapi Loe janji sama gue. jangan khianatin gue lagi.” Glenn nampak tersenyum puas. Diciumnya pipi Laura dan ia melompat-lompat kegirangan. Laura tersipu malu melihat Glenn bertingkah seperti anak kecil. Kini mereka berpacaran Lagi.

            Glenn asyik memainkan handphone sambil menyetir, mengantar Laura kuliah ke salah satu universitas terkemuka di ibukota. Laura menatap Glenn aneh karena pacarnya itu berkali-kali nampak sedang memikirkan sesuatu. Ketika handphonenya berderingpun ia malah membantingnya ke belakang. “Siapa sih?” tanya Laura yang hanya di balas dengan tatapan sinis oleh Glenn.

            Hubungan mereka kembali memburuk, namun kali ini Laura mencoba bertahan dan bersikap lebih dewasa, karena memang sudah seharusnya ia bisa lebih dewasa dari ‘lelaki yang umurnya lebih muda darinya’ itu. “Bukan urusan Loe.” Glenn menimpalinya sengit. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu dari Laura.

            “Gue pengen Loe jujur. Apapun.” Desah Laura lalu memejamkan matanya, merapatkan kelopak matanya erat. “Apapun?” Glenn mengerem mobilnya secara mendadak. Ia lalu menyunggingkan senyum licik ke arah Laura. “Yes, why?” sambung Laura kemudian. “Untuk jadi playboy, gue nggak perlu sembunyi-sembunyi kayak orang bego.”

            “Maksud Loe?” tanya Laura segera. Mobil yang mereka naiki masih tetap terhenti. “Gue pengen kita putus aja.” Ujar Glenn dingin. Laura tercekat mendengar apa yang Glenn katakan. “Apa?” mulut Laura menganga tak percaya. “Apa karena ada cewek lain lagi?” Laura mengigit-gigit bibir menahan air mata yang sebentar lagi akan turun dengan derasnya.

            “Gimana bisa Loe ngelakuin ini semua sama gue Glenn?” kini mata Laura mulai berkaca-kaca. “Hah? Loe nanya gimana bisa? Ngaca! Loe tuh gampang dibegoin. Thanks buat jatuh cinta sama gue, tapi Loe tuh nggak cukup pantes bikin gue bahagia. Orang manja kayak Loe? Hah jangan mimpi.” Glenn tetap stay cool, ia tidak mempedulikan Laura yang mulai menangis di sampingnya.

            “Trus selama ini Loe anggep gue apaan? Mana janji Loe nggak akan nyakitin gue lagi?” Laura terisak, semakin ia ingin menyembunyikan rasa sakitnya, semakin kesedihannya muncul ke permukaan. “ Gue hebat ya? Bisa nipu Loe untuk kedua kalinya. Dan gue titip pesen sama Loe. Cari cowok yang bener-bener sayang Loe yang bisa jaga Loe baik-baik. Dan jangan cengeng!”

            Laura keluar dari mobil sial itu lalu membanting pintunya keras-keras. Glenn hanya menatapinya dingin dari dalam mobil, ia merasa tidak mengusirnya, tapi yasudahlah.  Ia pun pergi menyusuri jalanan ibukota, meninggalkan Laura yang tertekan karenanya. Entah dimana Glenn meletakkan logika dan perasaannya. Begitu mudahnya ia memainkan perasaan orang lain. Padahal orang itu sangat mencintainya.

            ‘HOW COULD YOU DO THIS TO ME, BOY?’ jerit Laura dalam hati.

            Satu kata : Tega!

*sorry kalau alurnya nggak jelas atau nggak rame, bikinnya lagi bad mood 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s